Ia mengambil ponsel dari atas meja, lalu menekan beberapa angka sandi hingga ponselnya terbuka. Ia lantas mengetik satu nama di pencarian kontak, sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk menelepon nomor tersebut. Telepon tidak langsung diangkat. Sambil menunggu panggilannya terjawab, Ia meraih beberapa lembar kertas dari atas meja. Matanya tidak beralih dari rentetan huruf yang tertera di sana.
Lembar kertas itu berisi sebuah data diri tentang seseorang. Memuat foto, nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, riwayat pendidikan hingga sebuah alamat tempat tinggal.
Data diri tentang seseorang yang tidak Ia kenali, tetapi bisa jadi, memiliki sebuah arti dalam hidupnya sendiri.
Selama sesaat Ia sibuk membaca informasi pada kertas tersebut. Tidak lama dari situ, panggilan yang dari tadi Ia tunggu akhirnya terjawab.
"Halo."
"Cuma segini informasi yang bisa saya tau?"
Seseorang yang berada di panggilan tersebut langsung menghela napas. "Informasi itu saya dapat lewat kerja keras. Saya bahkan sampai hubungi semua koneksi yang saya punya. Cari informasi tentang data diri seseorang nggak segampang yang kamu kira. Saya sama aja melanggar privasi seseorang. Kalau saya ketahuan, saya bisa dipidana."
"Ini terlalu sedikit, Om."
"Informasi segitu aja saya sudah bayar mahal. Kalau lebih dari itu, saya nggak sanggup."
"Uang yang kemarin saya kirim masih kurang? Saya bisa kirim lebih dari nominal kemarin, selama saya bisa dapat informasi lain."
"Saya nggak sanggup bukan karena uang, tapi karena saya masih belum mau jadi pelaku tindak kriminal sekarang."
Ia menatap kertas yang berada di tangannya. "Jadi cuma ini aja informasinya?"
"Saya cuma bisa bantu sampai situ."
Ia menghela napas pelan. "Om jangan bilang-bilang Papa. Saya nggak mau Papa tau tentang ini semua."
"Tergantung."
"Kalo cerita soal masalah ini, berarti Om udah siap jadi pengangguran sekarang."
"Kamu ancam saya?!"
"Saya cuma kasih Om pilihan."
"Iya-iya, tenang. Saya bisa tutup mulut." Orang itu membalas pasrah. "Tapi saya mau tau, sebenernya apa yang mau kamu lakuin dengan informasi itu?"
"Ada sesuatu yang perlu saya urus."
"Saya harap bukan sesuatu yang buruk."
"Baik atau buruknya saya nggak tau."
"Kamu bisa melakukan apa pun, tapi nggak dengan satu hal."
"Apa?"
"Jangan menyakiti orang lain."
Ia terdiam selama sesaat. "Hm."
"Yaudah, kalau gitu."
"Makasih buat informasinya."
"Iya, sama-sama."
Setelah panggilan terputus, Ia langsung menaruh ponsel di atas meja. Fokusnya lantas kembali teralihkan dengan lembar-lembar kertas yang masih berada di tangannya. Ia menatap wajah seseorang pada foto yang berada di kertas tersebut.
Jangan menyakiti orang lain.
Kata-kata itu kembali menggema dalam pendengarannya. Ia memang harus melakukan sesuatu, namun Ia tidak tahu, apa yang nanti Ia lakukan akan menjadi hal yang baik atau buruk.
YOU ARE READING
Unfair
Teen FictionJika hidup adalah sekumpulan cerita dalam lembar-lembar buku tebal, maka masa lalu adalah bagian yang tidak akan pernah Ia baca. Ia sangat membenci masa lalunya. Apa yang pernah terjadi dulu adalah hal yang Ia harap, tidak akan pernah lagi Ia ingat...
