Rasa Di Penghujung kepastian

29 4 4
                                        

Cerita cinta yang pernah kandas beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba mulai tumbuh dan bersemi lagi, entah apa dan mengapa akhir-akhir ini aku terjerat lagi panah asmaranya, senyum yang pernah ku benci kini selalu menggoda di setiap sudut lamunanku. Semula semua aku anggap hanyalah kenangan yang masih tersisa, namun lambat laun menjadi sebuah kewajiban lamunan menjelang tidurku. 

"Rian rivaldi... " ujarku dalam hati

Namun Rian kenapa hanya aku yang merasakannya, apa cinta ini hanya sebuah kenangan yang sempat menyapaku siang tadi. 

"Tidak Rian... Aku yakin tatapan matamu mengisyaratkan masih ada peluang cinta disana". pikirku

Bagaimana aku harus memastikan bahwa cinta ini adalah cinta lama yang bersemi kembali, aku harus mencari jawabannya dari Rian.

Sengaja malam ini aku putar lagu "Sisa Rasa" lagu yang menggambarkan perasaan ku saat ini, kenangan berdua saat Rian menyatakan cintanya, aku berharap Rian menepati janjinya menemuiku malam ini. Hati yang masih berdebar seperti saat aku jatuh cinta tuk pertama kali pada Rian, ku coba sembunyikan rasa galau yang mulai menyerangku.

Jam dinding menunjukkan pukul 8 lebih 10 menit, Rian melewati dari jam yang seharusnya dia datang. Aku mencoba bersabar dan berpikir positif tentang dia, walau hati ini mulai resah. Setengah jam sudah terlewat begitu saja, aku mulai gerah dan berdiri memandangi jalan yang mulai tampak lengang.

" Dimana kau Rian, akankah engkau ingkari janjimu malam ini, merajut kembali serpihan cinta kita yang terkoyak... Rian datanglah, risau hati ini tanpa ada sebaris kepastian darimu..." pikirku panik

Jam menunjukkan pukul 9 tepat, tanpa sadar ada sebutir air mata di sudut mataku, kecewakah aku, aku tak tahu apa yang mesti aku jawab. Aku mulai jenuh dengan penantian ini, aku mulai menetralisir rasa yang masih berharap. Aku menyadari ternyata cinta ini hanya cinta lama yang bersemi, namun cinta ini tak kan bisa kurajut lagi seperti dulu. Karena Rian tidak lagi memilihku... Di saat lamunan itu mulai membayangiku, tanpa sadar aku mulai menangis, rasa sakit, kecewa sama persis ketika Rian memutuskan hubungan cintanya.

Gerimis di luar menambah suasana hatiku semakin dingin, ku beranjak berdiri dan melangkahkan kakiku menuju kamar tidurku, ku berharap bisa melupakan semua kejadian malam ini. Sejenak langkahku terhenti sesaat kulihat seseorang memanggilku dari luar. Aku tak mengenalinya, tapi kenapa dia bisa tahu namaku.

Aku berjalan mendekatinya, dan mencoba mengerti apa yang disampaikannya. Sepucuk surat berwarna putih, bergambar hati dan tertera nama Rian dan namaku, ada tulisan tangan Rian berbunyi 

"aku masih sayang kamu", tulis riyan

Aku membacanya berulang-ulang dan tiba-tiba aku sadar 

"Dimana Rian" pikirku

Kenapa aku terlena tanpa mendengar penjelasan orang itu, yang sempat aku ingat dan dengar hanyalah 

{Rian... Rian telah pergi}

 "Oh Tuhan, apa yang terjadi..."  ujarku sedih

aku berusaha berlari mencari jawabannya, hujan yang mulai deras mengguyur tubuhku tanpa ampun, hingga akhirnya aku melihat dari jauh kerumunan orang yang berdiri di sudut jalan itu.

Aku mencoba menerobos dan melihat apa yang mereka lihat, tapi tanpa aku sadari tiba-tiba tubuhku lemas dan mataku kabur... hingga akhirnya gelap pandanganku. 

Tubuh ini lemas seperti terombang-ambing dalam kapal. Napasku terasa pelan, seperti langkah kakiku di lambung kapal, sampai aku tidak dapat lagi membedakan antara gerakan lesu kabin kapal dengan udara yang bergerak masuk dan keluar dari paru-paruku. 

Tersadar akhirnya aku hanya melihat jasad Rian yang membujur kaku di hadapanku, air mata ini telah menerobos keluar tak terbendung lagi, aku menangis tersendu-sendu menahan sakit di lubuk hatiku. Cintaku tak akan kembali, aku meratapi cinta yang sempat tumbuh kembali di hatiku, mengapa hanya untuk sesaat dan pergi lagi, cinta yang lebih kuat dari sebelumnya dan luka yang lebih dalam dari sebelumnya... aku baru menyadarinya arti cinta yang sebenarnya, ternyata Rian telah memberikan sesuatu yang berarti dalam hidupku, bahwa cinta tak selalu bisa saling memiliki namun cinta tetap akan abadi selamanya dari dalam hati...

{Kadang Semesta menitipkan yang terbaik bukan untuk selamanya, tapi belajar untuk menghargai apa itu cinta dan menyakini apa lebih tinggi dari cinta adalah Ihklas.}

***

RASA DI PENGHUJUNG KEPASTIANStories to obsess over. Discover now