1. [Kesedihan]

5 2 2
                                        

Terdengar Isak tangis seorang gadis dari kamarnya yang bernuansa grey.

"Sudah rain. Ikhlasin! Jangan nangis terus! Bisa jadi Allah sengaja giniin kamu karena mungkin ada keburukan di dalamnya kan?" Kata seorang laki-laki yang duduk di sisi ranjang kamar itu.

"Iya tau! Tapi setelah ini aku harus gimana? Nerusin dimana? Semuanya sudah tutup pendaftarannya bang! Hiks hiks hiks. Masa gapyear? Aku ga siap temanku nanti jadi seniorku di kampus hiks hiks" jawab gadis yang masih terisak diatas bantal.

"Lah ya harus siap dong! Kan dulu kamu yang ngomong sendiri kalo ikutan tes ini harus nerima hasilnya apapun resikonya kan? Jadi kalo hari ini hasilnya nggak sesuai denganmu jadi harus siap nerima resikonya dong, harus konsisten sama omongan! Kan juga kamu sendiri yang putusin untuk ikut tes kedinasan ini, dulu bunda juga sudah nyuruh kamu daftar kuliah juga buat jaga-jaga, eh tapi kamu nya ngga mau. Sekarang salah siapa? Kamu sendiri kan?"

'Hiks hiks hiks'

"udah nangisnya! Gapapa gapyear itung-itung nambah pengalaman dan bisa lebih bantu-bantu bunda dirumah. Semua akan baik-baik aja rain." Laki-laki yang dipanggil Abang oleh gadis itu memberi nasehat panjang lebar dengan mengelus gemas kepala adik perempuannya.

'nyari pengalaman kok dirumah bang bang' 
dengan tengkurap gadis itu membatin nasehat kakak laki-lakinya.

"Bersihin air matanya terus turun, makan! Jangan jadiin sedihmu alasan gak makan, hargai bunda masak! Ngerti?"

"He'em"

"Bang Yasa!"panggil gadis itu sebelum kakak laki-lakinya keluar dari pintu kamar.

"Serius bakal baik-baik aja?" Sambung gadis itu dengan suara samar.

"Serius Nurain! Yang ngatur Allah. Kenapa takut?" gadis itu terdiam mencerna perkataan kakak laki-lakinya yang berekspresi tenang.

Namanya Elyasa Reyhan Ramadhan kakak laki-laki yang mempunyai sifat tenang dan teduh, membuat siapapun merasa nyaman jika berada didekatnya. Sebagai kakak, ia sangat menyayangi adiknya, NURAIN RIZWANA IZZATUNNISA yang berumur lima tahun lebih muda darinya. Saat ini ia bekerja dan mengurus kantor milik ayahnya setelah melewati 4 tahun masa kuliah di kampus.

Setelah batang hidung Elyasa menghilang dari pandangannya, Gadis yang sering di panggil nurain itu bukan segera turun untuk makan, melainkan semakin setia menempelkan wajahnya ke bantal. Seisi kepalanya berantakan memikirkan kenapa ia tidak lolos seleksi tahap kedua kedinasan yang ia ikuti 2 Minggu yang lalu, padahal ia sudah mempersiapkannnya secara matang.

'setelah ini aku harus apa Tuhan?'
Batin gadis itu ditengah tangisannya.
...

Dengan mata sembab Nurain kini menuruni tangga untuk makan malam bersama elyasa dan juga kedua orang tuanya.

"Udah nangisnya?" Tanya Laila, bunda Elyasa dan Nurain.

Gadis itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Dari tadi bunda naik turun tangga buat bujuk kamu agar berhenti nangis dan mau makan, tapi kamu malah kencengin nangisnya, sekarang giliran kakak mu yang bujuk, langsung turun. Emang ya bunda kalah soal bujuk kamu daripada kakakmu yasa." Celoteh bunda Laila dengan mengambilkan kuah sup ke piring Nurain.

"Hhhgg...maaf Bun. Kalo bang Yasa beda ehe" kali ini Nurain nyengir dengan mata yang masih sembab.

"Dek jangan terlalu dipikirin soal ini. Gapapa gapyear. gapyear bukan suatu yang buruk kan? banyak kok orang sukses yang dulunya alumni gapyear juga. Semua punya jalannya masing-masing. Manfaatin satu tahun ini untuk belajar lebih baik agar tahun depan hasilnya maksimal oke" Firdaus al-fatah kini menuturi putrinya sembari menunggu piringnya terpenuhi oleh nasi yang di persiapkan bunda.

Bukannya menjawab, gadis yang memakai baju tidur itu malah mengeluarkan cairan bening di matanya yang sudah antri saat pertama ayah menuturinya.
"Hem" singkatnya dengan pipi yang masih basah.

Hatinya sangat rapuh jika teringat soal pengumuman yang ia peroleh siang hari tadi. Pikiran gadis itu terpenuhi dengan slogan 'aku harus apa dan bagaimana  setelah ini' dan masih banyak pikiran-pikiran aneh yang tersirat di benak dan pikirannya.

"Maaf bunda ayah, Nurain buat kalian kecewa" ucap Nurain dengan menundukan kepalanya. Ia merasa pengumuman itu membuat kedua orang tuanya sangat kecewa walupun mereka tidak memperlihatkan.

"Ya Allah" seketika bunda yang sedang menyiduk nasi ke piring firdaus, suaminya, Mendekat ke kursi makan yang diduduki Nurain dan memeluk putrinya yang bersedih.

"Siapa yang kecewa dek, GAADA! Bunda sama ayah ga kecewa. SAMA SEKALI TIDAK! Ini adalah jalan dan takdir  yang diberikan Tuhan untuk kamu, kamu harus lapang dada menjalaninya. Rezeki itu kan sudah ada porsinya, sudah diatur sama Allah. Mungkin Allah memutus tali rencanamu karena ada rencana yang lebih indah dari rencana yang kamu ciptakan sendiri. Syaratnya kamu harus tetap berhusnudhon sama Allah walau tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Pahamkan?" Dengan lemah lembut, Laila menuturi putrinya didalam pelukan hangat, ia tau apa yang dirasakan anaknya saat ini.

"Hm. Makasih bun..." Jawabnya dengan suara serak dan tersenyum walau matanya setia mengeluarkan air mata.

Setelah momen anak dan bunda berpelukan, Nurain melihat wajah ayahnya yang sedang memasang ekspresi jail padanya.
"Apaan sih yahh, Aku maluu" ucapnya  sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Hhhhhhg, Makanya jangan nangis Mulu dek"  balas Firdaus dengan gurauan.

Nurain tak bisa apa-apa selain nyengir.

...

"Ehmm...bang Yasa mana Bun?" Tanya Nurain.

"Lagi mandi, tadi setelah pulang dari kantor dia langsung bunda suruh bujukin kamu nangis yang nggak tau ujung, bunda udah nyerah bujukin kamu" balas bunda curhat.

"Hhhhg maaf laaa... Hehehe"

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah dari tangga, dia adalah Elyasa yang akan ikut bergabung untuk makan malam.

"Udah nangisnya?" Sesampainya dimeja makan dia tak langsung duduk, melainkan mengelus gemas kepala adik kesayangannya.

"Belum. Nanti mungkin nangis lagi, sekarang laper hehe" balasnya dengan cengiran manja pada kakak yang paling Nurain sayangi.

Keluarga kecil ini bisa di kategorikan  sebagai keluarga yang bahagia dan rukun. mereka saling mendukung satu sama lain dalam hal apapun. Saat ini mereka menghabiskan malam malam dimeja makan sembari berbincang bincang santai.

"Sa? Acara dua Minggu lagi udah siap?"

"Insyaallah udah yah. Minta doa agar selalu dilancarkan, bunda ayah" laki-laki itu menjawab pertanyaan ayah di tengah-tengah makan malam bersama.

Mendengar jawaban itu semua yang ada di meja makan terlihat sangat bersyukur dan bahagia, namun tidak dengan Nurain yang menampakkan raut wajah sedih dan datar.

...

Didalam kamar gadis yang baru turun untuk makan bersama, kini kembali berteman dengan tangisan diatas kasur. Saat ini selain pengumuman yang membuatnya kecewa kini ditambah dengan pembicaraan antara ayah dan kakaknya waktu di meja makan tadi.

Mereka membicarakan tentang acara lamaran Elyasa kakaknya, ia merasa ia akan kesepian setelah ini, tidak ada yang di ajak bercandaan ataupun menasehatinya.
kesedihannya bertambah karena hal ini.

ZAYYANURAIN Where stories live. Discover now