"Kita putus, ya?"
Di hari jadi hubungan mereka, Sienna tak pernah menyangka bahwa ia malah akan diputuskan secara gamblang oleh Leander Aditya, pacarnya selama 3 tahun belakangan ini. Ujung bibir Sienna berkedut, serasa baru saja di setrum oleh belut listrik.
"M—maksudnya gimana Le?" Sienna menjawab terbata, berusaha mengusir rasa gugup di hatinya. Ada satu sudut dalam dirinya yang mengharap bahwa barangkali barusan ia salah mendengar.
"Maafin aku Na, aku terancam dihapus dari daftar warisan keluarga kalau aku tetap pertahanin kamu. Kita terlalu beda." Mendengar ucapan Lean, Sienna tertunduk. Ada senyum sarkastik yang muncul di wajahnya, seolah baru saja menertawakan dirinya sendiri.
"Maksudmu.... Kita engga pernah di restui karena keluargaku bukan dari kalangan orang-orang terpandang?" Lean mengangguk dengan terlalu bersemangat, berpikir bahwa Sienna akan dengan mudahnya mengerti.
"Aku akan dijodohkan dengan Cindy dalam waktu dekat. Kamu tahu kan, Cindy Suryaatmaja? Satu-satunya pewaris di perusahaan milik keluarga Suryaatmaja? Mereka termasuk dalam daftar top 10 keluarga terkaya di Ibukota." Jawaban Lean yang terlalu bersemangat sukses membuat bulu kuduk Sienna berdiri. Lean... is this you?
"Mamaku juga minta nomor rekening kamu, dia bilang akan transfer uang dalam jumlah besar sebagai kompensasi kalau kamu mau merelakan aku untuk putus." Sienna mengangkat alisnya, terkesima dengan kalimat Lean. Tak akan pernah disangka oleh Sienna, bahwa Lean yang selama ini dikenalnya ternyata bisa berubah hanya karena terdesak oleh keinginan duniawinya.
"Beliau bilang begitu?" Sienna memajukan tubuhnya. Bibirnya membuka tutup beberapa kali, kemudian senyuman penuh sarkasme muncul dari wajahnya. "Infokan sama mamamu, aku ga butuh uang itu. Aku sumbangin aja buat bikin acara pertunangan kamu sama Cindy." Setelahnya Sienna bangkit berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Lean dari café sepi itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Sienna untuk segera mendapatkan taksi dan mencegatnya. Setelah masuk, dihembuskan nafasnya dengan keras dan tangisannya pecah. Hatinya sakit sekali, mengingat setiap ucapan dan gerak gerik Lean selama di dalam café tadi.
"Na??" Seorang perempuan membuka pintu rumahnya, terkejut mendapati Sienna tengah berdiri dengan tatapan matanya yang kosong. Seluruh tubuhnya basah kuyup karena hujan yang menyelimuti senja, mengotori dress pink casual cantik yang sudah ia siapkan untuk merayakan hari jadi dengan sang kekasih.
"Ren... Gue putus...." Hanya itu yang diucapkan oleh Sienna, sebelum kemudian ia menangis di pelukan sahabatnya.
***
Ting Tong! In a few minutes, we will arrive at Sudirman Station, Sud—
Sienna otomatis membuka matanya ketika ia mendengar suara notifikasi pemberhentian stasiun. Ia merapatkan jaket dan mencengkeram kuat tasnya, kemudian bangkit berdiri perlahan mendekati pintu keluar di tengah sesaknya gerbong Commuter Line yang ia tumpangi. Sambil menunggu kereta tiba di stasiun tujuannya, sesekali Sienna memijat kepalanya yang migraine akibat bangun terlalu pagi.
Sudah hampir 3 bulan lebih Sienna putus dari kekasihnya, dan kini hidupnya benar-benar terasa hampa. Kerap kali memaksakan diri untuk bekerja hingga larut, kemudian barulah ia pulang ke rumah kontrakannya hampir dini hari. Di pagi hari, ia akan bangun sepagi mungkin dan memaksakan diri untuk berjibaku dengan padatnya Commuter Line di jam-jam rush hour.
Sienna sudah bersiap dan berdiri di depan pintu ketika pintu kereta terbuka, kemudian berjalan keluar sambil mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online. Tubuh mungilnya terhimpit oleh banyaknya penumpang yang turun di stasiun yang sama dengannya, hingga ia hampir saja terlempar keluar secara paksa karena masih belum terbiasa dengan kendaraan umum yang satu ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boundaries
FanfictionSienna Putri adalah seorang wanita dengan karir cemerlang, walaupun berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Umurnya sudah hampir 30 tahun, namun kisah cintanya berubah tragis karena ternyata selama ini status sosialnya tak pernah membuatnya dit...
