Malam itu, hujan turun disertai dengan suara petir yang bersahutan tanpa henti. Seakan-akan langit itu marah, kenapa masih ada orang yang berjalan di tengah derasnya hujan seperti ini. Tidakkah memikirkan kondisi tubuh mereka?
Aku memandangi tetesan demi tetesan air hujan yang semakin deras dari jendela kamar. Menopang dagu dengan tangan kanan sembari berkhayal-khayal.
Kemudian teringat, Jadenwari tidak suka hujan dan suara berisik.
Dengan segera aku mengambil ponsel yang berada di nakas. Menekan beberapa tombol sebelum melakukan panggilan telepon.
Tak berselang lama, orang di seberang menjawabnya.
"Aku capek, Sa. Mau pulang aja, ya?" Suara Jaden langsung terdengar di telingaku. Namun, kalimatnya membuatku bingung.
"Kamu kenapa, Den? Aku video call mau ya?" Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung mengalihkan panggilan itu.
Terlihat dia sedang telungkup dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku tersenyum, "takut ya, Den?"
Dia dengan susah menganggukkan kepalanya, membuat rambutnya ikut bergoyang-goyang lucu.
"Aku kesepian Sa," nada bicaranya berubah menjadi sendu.
"Bukan cuma kamu Den, aku juga kesepian. Mama sama papaku lagi gak di rumah."
"Tapi kan mama sama papamu sebentar lagi pulang. Aku?"
"Kamu jangan gitu, Den. Ada aku di sini. Kamu gak nganggep aku ya?" aku terkekeh.
Ku lihat dia yang memilih tidak menjawab, malah meletakkan wajahnya ke bantal. Menggesek-geseknya guna mencari kenyamanan di tengah gemuruh petir di luar sana.
"Gimana kalo kita aja yang sama-sama Den? Biar gak kesepian," lanjutku.
Namun dia hanya tertawa kecil, "ada-ada aja kamu ini, Sa."
Aku tersenyum. Kamu yang ada-ada saja, Jaden.
~~~
Pagi ini, cuacanya cukup bagus. Berhubung ini hari Minggu, aku ingin berjemur di halaman depan. Sudah lama rasanya tidak melakukan hal yang sedari dulu diajarkan papa.
Panas matahari di pagi hari adalah hal yang ku suka. Aku suka cara matahari memancarkan parasnya yang membuat tubuh ku terasa hangat.
Seperti Jadenwari.
Mengingat Jaden, aku mengambil ponsel yang ku bawa di kantong saku. Kemudian menyambungkannya dengan earphone yang menggantung di leher. Berniat menyetel musik favoritnya.
Namun, belum sempat memilih musik, panggilan video dari Jaden masuk. Seakan tahu bahwa musik favoritnya akan diputar sebentar lagi. Aku menggeser tombol hijau di layar.
"Tidurmu semalam nyenyak, Den?" tanyaku awal.
"Ya gitu deh. Kamu ngapain tuh, Sa?"
"Berjemur. Kamu nggak?"
Ku lihat dia yang sedang memakai sepatu, "nggak ah," katanya.
"Oh iya, kamu bengkel ya?"
"Nggak, aku bukan bengkel Sa."
Aku mendengus, "maksudku kamu hari ini mau ke bengkel kan?"
Dia terkekeh, "iya, Karsaaa."
YOU ARE READING
Jadenwari
General FictionHanya sekadar coretan tentang bagaimana aku memandang sosokmu. Laki-laki yang ku temui tujuh tahun lalu. Laki-laki yang kucintai tujuh tahun lamanya. Kamu, Jadenwari. Cinta pertamaku. ©geomegatri
