1. Permintaan Misi

372 77 40
                                        

.

.

.

"Bisakah Hokage-sama memberikanku misi keluar desa saja yang lama?"

Hinata tidak berani mengangkat wajahnya di hadapan Kakashi yang tengah duduk di meja kerjanya.

Tumpukan-tumpukan dokumen menggunung di sekitar tempat duduk dan hanya memberikan celah selebar tubuh sang Hokage ke-enam itu.

"Untuk saat ini tidak ada misi seperti itu Hinata, yang sedang membutuhkan tenagamu adalah aku." Ujarnya penuh kesabaran.

Beberapa saat yang lalu, Kakashi memanggil Hinata dan memintanya untuk sementara menjadi asistennya menggantikan Shizune yang sedang bertugas dengan Tsunade dan Shikamaru dalam misi keluar desa dalam jangka waktu lama.

Kakashi perlu seseorang untuk membantunya menangani segala tugas-tugas administrasi tambahan Hokage yang tidak pernah ada habisnya. Masalahnya yang memenuhi syarat dan kebetulan sedang tidak mendapat misi apapun hanyalah gadis dari klan Hyuuga ini.

Sebelum memanggilnya, Kakashi bahkan sudah mengira jika tidak akan ada protes apapun dari Hinata, mengingat gadis itu selalu mengerjakan misi yang diberikan padanya, seremeh apapun tugasnya.

Siapa menyangka dari waktu-waktu yang tidak tepat itu, Hinata memilih hari ini untuk memprotesnya. Ah, atau dirinya lah yang tidak tepat dalam memberikan misi? Karena saat ini gadis Hyuuga di hadapannya bahkan terlihat susah payah menahan air matanya sendiri.

Kakashi menghela napas. Entah apa yang sedang gadis ini tengah hadapi. Namun pekerjaan tetap pekerjaan. Bukan maksud Kakashi tak ingin memberikan simpati, tapi sungguh dirinya benar-benar butuh tenaga tambahan si sulung Hyuuga ini.

"Hinata, aku sungguh membutuhkan bantuanmu."

Mata mengantuk Kakashi menatap Hinata lamat. Berharap permohonannya ini akan sedikit meluluhkan hati Hinata atau mungkin sedikit memberi beban tanggung jawab padanya. Kakashi tahu, Hinata tetaplah seseorang yang sulit menolak permintaan. Dia gadis baik dan Kakashi sedang mencoba memanfatkan kebaikan hatinya itu.

Menatap lantai marmer ruang Hokage, Hinata menggigit bibirnya gelisah mendengar permintaan sang pemimpin desa. Jari-jemarinya saling bertaut. Berkali-kali dengan tanpa suara ia tarik dan hembuskan napas dalam untuk memberikan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya yang terasa sesak.

Hinata sedang ingin menghindari seseorang, lebih tepatnya dua orang. Sebab itulah ia ingin menghindari Konoha dan pergi sejauh mungkin ke tempat di mana ia tak mudah ditemukan. Ruang Hokage tentulah bukan tempat yang tepat untuk memenuhi keinginannya itu.

Kantor Hokage sama saja seperti tempat umum di mana para shinobi akan dengan mudah keluar masuk menemui Kakashi untuk memberi laporan dan mendapat perintah. Semua orang akan tahu –dua orang itu akan tahu, jika dirinya sedang berada bersama Hokage jika dia menerima tugas dari Kakashi ini.

"Apakah saya boleh memberikan syarat." Suara Hinata hampir tak terdengar. Gadis itu menunduk, tahu jika apa yang ia katakan adalah sesuatu yang tidak sopan.

"Syarat?"

Hinata mengangguk.

"Baiklah, apa syaratnya?" Tidak ada pilihan. Meski tidak dapat memperkirakan apa yang akan diminta Hinata, setidaknya Kakashi ingin mendengarnya terlebih dahulu.

Hinata akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Kakashi. Bibirnya terlihat bergetar, ragu untuk membuka suara.

"Aku yang memaksamu, jadi memberikan persyaratan seperti itu adalah hal yang wajar kau berikan padaku." Kakashi mencoba menyakinkan Hinata. Gadis baik ini pasti merasa bersalah telah meminta sesuatu pada atasannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 22 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My Sudden AssistantStories to obsess over. Discover now