Duka

104 12 0
                                        

Kehilanganmu adalah runtuhnya duniaku

-Kim Sowon-

Kepergianmu adalah kegelapan bagiku

-Kim Umji-

++---------++

Pagi ini keluarga Hwang dan keluarga Jung berduka secara bersamaan, ketika Jung Eunha dan Hwang Sinb yang merupakan sahabat sejak kecil meninggal secara bersamaan dalam kecelakaan mobil yang merenggut nyawa keduanya, Sowon tunangan Eunha merasa dunianya runtuh seketika atas kehilangan orang yang dicintai. Sedangkan Umji yang merupakan tunangan dari Sinb merasakan dunianya gelap tanpa Sinb.

Peti mati Sinb dan Eunha berdampingan di kediaman keluarga Hwang, pelayat datang silih berganti memberikan ucapan turut berbela sungkawa.

Air mata Sowon dan Umji sama-sama Sudah kering, mereka hanya bisa duduk melihat foto orang terkasih mereka tersenyum padahal raganya sudah tak bernyawa.

Sowon dan Umji yang merupakan tetangga sekaligus sahabat meskipun mereka berbeda usia. Mereka sama-sama merasakan kehilangan yang sangat berat, hanya tersisa Yerin dan Yuju yang selalu menguatkan mereka, meski Yerin dan Yuju juga sama terlukanya atas Eunha dan Sinb. Yerin sebagai kakak dari Eunha merasakan sebagian nyawanya hilang setelah kepergian Eunha namun ia harus waras untuk bisa menenangkan Sowon dan Umji yang seolah dunianya sudah tidak ada lagi, padahal hidup terus berjalan.

.
.
.
.
.
.
.

Pemakaman telah usai, para pelayat bahkan keluarga Jung dan keluarga Hwang telah pulang kediaman kecuali Sowon, Umji, Yerin dan Yuju.

Yerin masih bertahan menemani Sowon meski keluarganya sudah lebih dulu pulang bersama yang lain.

"Sowon-ah, Umji-ah, ayo kita pulang. Lihatlah langit sudah mulai gelap. Ikhlaskan kepergian mereka, namun bukan untuk melupakan mereka. Mereka akan selalu berada di lubuk hati kita masing-masing, kita masih bisa kesini bertemu mereka kapan saja kita mau"ucap Yerin mengajak Sowon dan Umji yang masih menatap dua nisan di depan mereka tanpa berkedip seperti patung yang diberi nyawa.

"Sowon-ah, Umji-ah, ayo pulang. Semua memang terasa berat, perlu banyak waktu untuk terbiasa tanpa mereka, tapi pasti kita mampu. Kita harus hidup bahagia agar mereka bisa melihat bahwa kita baik-baik saja, agar mereka tidak terbebani karena meninggalkan kita. Mungkin kata-kataku terdengar jahat, tapi mereka pasti akan sedih jika kita seperti ini"ucap Yuju memberikan pengertian kepada Sowon dan Umji.

Sowon dan Umji akhirnya luluh dan mereka kembali dari pemakaman sebagai orang yang terakhir meninggalkan tempat itu bersama Yerin dan Yuju.

.
.
.
.
.
.
.
.

Selama seminggu baik Sowon dan Umji sama-sama masih belum terbiasa karena tidak adanya tunangan mereka. Sowon sebagai CEO melupakan tugas dan tanggungjawabnya, sehingga terpaksa Tuan Kim selaku ayahnya yang sementara mengambil alih pekerjaan Sowon sebagai CEO sedangkan Umji yang seorang Dokter Gigi masih dalam masa berkabung atas kehilangan Sinb sang tunangan, Umji memilih cuti sementara.

Sowon dan Umji sama-sama mengurung diri di dalam kamar masing-masing. Sowon yang memilih duduk di balkon kamarnya menatap langit malam yang terang karena sinar rembulan sementara Umji memilih memainkan jemarinya diatas tuts piano. Mencoba mencari ketenangan diri lewat alunan piano.

Sowon masih betah duduk di balkon kamarnya merasa bosan, ia meraih sebuah Kalimba untuk dimainkan. Umji yang lelah bermain piano memilih berjalan ke arah balkon kamarnya, melihat langit yang tampak cerah karena sinar rembulan.

Umji merasakan semilir angin malam menerpa wajahnya, menerbangkan helaian rambutnya secara perlahan. Alunan musik membuat Umji menatap seseorang yang juga sedang duduk di balkon kamarnya. Terlihat Sowon menikmati alunan musiknya, rumah Umji dan rumah Sowon saling berhadapan yang dipisahkan oleh sebuah jalan di kompleks perumahan. Umji bisa mendengarkan alunan musik yang sedang Sowon mainkan padahal jarak mereka cukup jauh, seolah angin menerbangkan alunan musik Sowon ke arah Umji.

Umji terus menikmati permainan Sowon hingga selesai, yang membuat Umji rasanya tidak rela. Alunan musik Sowon sangat menenangkan.

Umji segera meraih ponselnya untuk menelpon Sowon sambil kembali berjalan ke arah balkon kamarnya. Terlihat Sowon berdiri masuk ke dalam kamarnya.

"Halo"ucap Sowon.

"Halo oppa, permainan musikmu sangat bagus. Apa judulnya karena aku baru pertama kali mendengarnya"ucap Umji di seberang sana melihat ke arah kamar Sowon.

"Aku tidak tahu Umji-ah, aku hanya asal memainkannya. Mencari nada yang cocok"ucap Sowon yang kini berjalan ke arah balkon kamarnya untuk duduk kembali.

"Oppa, bisakah kau memainkannya lagi untukku? Alunannya sangat menenangkan. Kamu tahu oppa, jarak rumah kita sangat jauh. Tapi musiknya bisa terdengar sampai kesini, seolah angin menerbangkannya"ucap Umji di seberang sana terdengar antusias.

"Tentu saja, tapi bagaimana bisa kamu tahu Umji-ah?"tanya Sowon bingung.

"Oppa, coba lihat ke arah depan. Perhatikan baik-baik, aku disini"ucap Umji tersenyum melambaikan tangan ke arah Sowon.

Sowon dapat melihat wajah Umji yang terkena sinar rembulan, wajahnya terlihat lelah namun sorot matanya terlihat lebih hidup. Sowon melambaikan tangannya ke arah Umji, mereka saling membalas senyuman hangat dari jarak jauh.

"Umji-ah, kenapa belum tidur"tanya Sowon diseberang sana.

"Aku masih belum mengantuk oppa. Oppa sendiri kenapa belum tidur?"tanya Umji di seberang sana yang mulai duduk menghadap ke arah Sowon.

Malam itu mereka habiskan bercerita random lewat telfon yang menghubungkan mereka di balkon kamar masing-masing. Tanpa sadar mereka tersenyum setelah sekian dalam terkurung dalam duka kehilangan.

Sowon dan Umji masih terkurung dalam duka kehilangan, namun apa mereka bisa mengelak dari kedinginan takdir dan semesta menyatukan mereka di masa yang akan datang? Tidak ada yang tahu. Hanya menunggu waktu apa selanjutnya yang akan terjadi.












TBC.

KIMHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora