Siang itu pertandingan Muaythai tingkat provinsi diadakan disalah satu Aula di daerah Jakarta Timur. Banyak "nak muay" yang ikut serta didalamnya,tak terkecuali laki-laki tampan dengan perawakan tubuh tinggi dengan kulitnya yg putih sedang berdiri tak jauh dari gerbang aula. Tampak seperti bukan "nak muay" pada umumnya,dia terlalu manis untuk itu. Laki-laki itu tampak gusar menunggu kedatangan seseorang, ditatapnya jam tangan yang dia pakai seolah waktu sedang mengejarnya.
"Danteeee..kemana siihh???" Bisiknya dengan penuh penekanan.
Tak lama muncul laki- laki sebaya berlari kearahnya membawa atribut muaythai yang akan digunakan laki-laki tampan itu bertanding.
"Gotcha..syukurlah lo datang tepat waktu..come on come on Dante masuk"
"Oke Rain..ayo!!sorry gua udah bikin lo nunggu lama,ban motor gua bocor anjir!" Ucap laki-laki bernama Dante tersebut dengan langkah lebar mengejar Rain yang bergegas masuk ke aula.
Rupanya pertandingan sesi berikutnya giliran Rain,waktu dan keadaan masih berpihak kepadanya. Dia bertarung dengan penuh percaya diri,seolah dialah raja di arena tersebut. Tampang manisnya rupanya berbanding tebalik dengan kamampuan bela dirinya yg luar biasa. Tendangan demi tendangan serta pukulan demi pukulan dia layangkan kearah lawan,tak gentar bahkan terlihat menawan. Membuat semua mata tertuju padanya. Tak ayal semua perempuan yang ada diaula tersebut terkagum-kagum melihatnya.
"Uppercut Rain,uppercut..okee bagus Rain, baguussss... Spinning backfist. Iyaa yaaaaaassss." teriak Dante penuh semangat diluar arena melihat gerakan pertarungan Rain didalam arena Muaythai,diakhiri sorakan gemuruh yang semakin dahsyat atas kemenangan sang pangeran tampan dalam pertandingan tersebut,siapa lagi kalau bukan Rain Narizan Bagaskara. Laki-laki berusia 20 tahun yang sudah menggeluti olahraga bela diri ini semenjak dirinya masih duduk dibangku SMP. Berbekal pengalaman panjang tersebut,tak heran jika disetiap pertandingan dirinya nyaris tak terkalahkan.
Rain keluar dari ring arena dihampiri Dante yang masih bersorak atas kemenangan sahabatnya tersebut. Babak ini adalah babak lanjutan dari kemenangan-kemenangan sebelumnya yaitu babak final.
"Wohoooo..keren ma bro!gak sia-sia ngejagoin lo terus selama ini!uhuuyyy."
"Apa lo???taruhan lagi?sialan lo ya..dibilangin jangan taruhan,ngeyel emang dasar!"
"Enggak lah bukan taruhan cuma ngejagoin aja terus dapet bonus, lagian si Gery itu terlalu kaya untuk nyimpen duit bonyoknya sendiri, sedekah sama gua kan dapat pahala, Iya engga??"
Rain hanya bisa menggelengkan kepalanya,melihat kelakuan sahabatnya yang terkadang absurd itu.
"Terserah lo deh,ini perlengkapan tanding gua,lo simpen. Jadi kalau ada keadaan urgent lagi,gua punya cadangan. Gua suka kasian sama Mama gua kalau udah liat gua bawa-bawa itu perlengkapan,melas bro,khawatirin gua!ayo kita balik yok!"
"Siap bro.tenang aja ini semua aman gua pegang..cusss akh!"
*
Ditengah perjalanan pulang,sebuah mobil kijang menyerempet motor yg sedang dikendarai Rain dan Dante, sontak Rain membanting stang motornya kesamping dan terjatuh membentur pohon yang ada dipinggir jalan taman kota.
"Brughhh...awwwhh sialan itu mobil yah awwwh..ini gak bener ini!Rain itu tadi bukan kecelakaan,itu orang sengaja nyerempet kita!" Teriak Dante tertatih sambil membantu Rain berdiri.
Tidak ada luka serius,hanya memar di tangan dan pipi kiri Rain akibat terbentur pohon pasca oleng diserempet mobil barusan.
"Lo bener Dante,barusan mobil itu sengaja nyerempet kita!siapa mereka?motifnya apa?" Rain sedikit termenung.
"Kacau Rain..motor gua penyok!"
"Udah gampang,biar diurus orang bengkel.kita pulang naik taxi aja."
"Hhhh yasudahlah..awas itu orang,ketauan habis lo ya!" Gerutu Dante masih tidak terima dengan kejadian barusan.
*
Sesampainya dirumah,Rain disambut adiknya Regan yang sedang asyik bermain basket dihalaman rumahnya.
"Bang lo pulang turnamen sore amet?ehh bentar deh, kok pipi lo memar?lo kalah bang?"dengan nada lantang yang spontan memancing kedatangan Mamanya.
"Apa memar?" dan benar saja Mama Rain,Tante Betari menghampiri Rain dengan raut muka khawatirnya.
"Ini kamu kenapa Rain?kamu abis tanding lagi ya?Nak tolong dong jangan bikin Mama jantungan terus! Bisa gak Nak hoby kamu itu ganti aja,jangan yang ekstrim gitu!bisa ya Nak?"pinta tante Betari memelas sambil mengusap-usap pipi Rain yang memar.
"Mama jangan khawatir ma, bertahun-tahun Rain menggeluti hobby Rain,Rain oke Ma..ini Rain memar karena jatuh dari motor,nih liat tangan Rain juga memar! Kalau gak percaya tanyain Dante gih Ma.."
"Sama aja boong nanya Dante!huhhh" tante Betari terlihat kesal dengan keputusan anaknya selama ini, berulangkali melarang dan berulangkali mengikhlaskan.
"Mama sayang..jangan ngambek ya!justru kalau Mama gak ridhoin Rain dengan apa yang Rain lakuin, bukankah itu lebih berbahaya? Oleh karena itu,Mama tetep dukung Rain ya pleaseee!" Bujuk Rain memeluk mamanya dari belakang.
"Iya Ma dukung aja kak Rain,masa dari bertahun-tahun yang lalu ijin mama maju mundur terus sih Ma.. lagian Ma bisa Bela diri itu harga mati buat laki-laki!kalau laki-laki gak bisa Bela diri nanti yang jagain keluarga dan pasangannya siapa Ma?"
"Tuh dengerin Adek Ma.. Bela diri itu harga mati buat laki-laki!pinter emang nih Adeknya Abang,sini Abang peluk." Ucap Rain melepas pelukan Mamanya lalu menghampiri Regan dan mengacak kasar rambut adiknya tersebut.
"Siapa dulu?Adeknya bang Rain! Regan harus jadi seperti Abang pokoknya!" Seru Regan diikuti pelototan tante Betari.
"Ya Allah Nak..Mama ini masih suka jantungan liat Abang kamu,mau ditambah kamu lagi?Tobat Mama, udah terserah kalian aja." Ucap tante Betari pasrah sambil berlalu meninggalkan anak-anaknya. Bukan marah hanya pasrah dan mencoba ikhlas menerima keinginan anak-anaknya. Baginya kebahagiaan anak-anaknya adalah nomor satu.
"Maaaa..." Keduanya serempak memanggil dan mengikuti kemana Mamanya pergi,bermanja dan membujuk Mamanya dengan cara mereka. Sampai akhirnya semua akan kembali normal seolah tidak ada perdebatan apapun.
*
Rain melempar tasnya ke atas kasur, membaringkan badannya yang terasa sakit. Rupanya sakit badannya tidak seberapa sakitnya jika dibandingkan dengan rasa sakit dihatinya saat ini, ditinggalkan orang yang sangat dicintainya dengan dalih pendidikan dan tidak tega mengecewakan orang sebaik Rain, terdengar sangat klise. Iya, sudah 3 bulan berlalu semenjak putus dari mantannya yang melanjutkan kuliahnya di Amerika, rasa sakit itu tak kunjung menghilang. Apalagi jika sedang sendiri seperti ini,ingin rasanya dalam kamus hidupnya tidak ada kata malam atau sendiri.
"Please Alana..enyahhh!"desis Rain yang terluka hatinya.
Bayang-bayang Alana tiba-tiba menari-nari di otaknya.
"Sayang tungguin dong larinyaa!kamumah cepet banget,kamu pikir kita lagi maraton apa?" Ucap Alana dengan manja.
"Iya iya,ini pelan..lagian kamu sayang..mau Joging apa mau piknik sih? Heboh banget segala dibawa!liat deh Air putih,Jus buah,Roti! "
"Sayang nanti kalau kita kecapean gimana?nanti kalau magh kamu kambuh gimana?udah benerkan aku?"
"Iyaaa dehh bener,sayangnya aku emang paling perhatian!" Ucap Rain mecubit gemas pipi Alana.
Tersadar dari lamunannya,Rain memegang pipinya yang basah oleh air mata. Sesakit itu kehilangan seorang Alana dari kehidupannya. Entah apa rencana Tuhan Rain tidak tahu,yang dia tahu dia harus bisa melupakan Alana. Alananya yang cantik,Alananya yang manis,kini telah meninggalkannya, lalu apa yang dia harapkan lagi dari orang yang memilih meninggalkannya?
"Sadar Rain ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan hidup,maka Allah akan membayar tuntas semua kecewamu dengan beribu-ribu kebaikan. Belajarlah untuk mengerti,bahwa segala sesuatu yang baik untukmu tidak akan Allah ijinkan pergi,kecuali akan diganti dengan yang lebih baik lagi." Tiba-tiba ucapan Mamanya terngiang dipikirannya.
"Mama benar Ma,tapi ternyata Ikhlas juga tak semudah itu!" Ucap Rain pilu. Berusaha memejamkan matanya yang sebenarnya lelah namun susah untuk dipejamkan.
Bersambung..
YOU ARE READING
RAIN
Teen FictionRain..Sosok Lelaki tampan dengan pembawaan yang teduh,tak banyak kata namun semua tentangnya sangat bermakna. Rain bagaikan hujan,orang bilang hujan itu mendinginkan,tapi Rain yang identik dengan hujan dia begitu hangat. Ini kisah tentang perjalanan...
