Prolog

5 0 0
                                        

•••


Setelah beberapa bulan tinggal jauh dari orang tua, kini Tania Arafah, atau kerap di sapa Arafah itu kembali ke tanah kelahirannya. Ia sangat rindu dan khawatir dengan satu-satunya orang tua yang kini ia punya. Kemarin Bude Yaya mengabari Arafah kalau Abah sedang sakit. Mendengar itu, tanpa berpikir panjang ia langsung bergegas pulang ke kampung halaman.

"Apa kamu akan terus kaya gini? Gak akan menyesal toh ndok?" lirih Abah yang kini telah terbaring lemah.

"Arafah udah gak bisa kembali, Bah," jawabnya sambil menunduk lesu.

"Kata siapa? Kalau kamu berniat, Allah akan bantu kamu berubah." Abah sedikit terbatuk di akhir kalimatnya. Ia sedih melihat putri kecilnya harus terus menyelami kegelapan.

Arafah menggeleng. Ia sedih, ia ingin menuruti kata Abah, namun kenangan kelam itu terus menggerayanginya kala ia ingin kembali seperti dulu lagi. Apalagi kini Ummi sudah berpulang. Tidak ada lagi tempat cerita yang sanggup mendengar segala jeritan hatinya.

"Abah, maafin Arafah," sesalnya mengingat dosa-dosa yang sudah ia tumpuk.

Abah sebenarnya marah, namun hatinya sangat lembut. Maka dari itu, yang keluar bukan kata-kata penuh emosi ketika Arafah memutuskan jalan yang akan ia telusuri. Melainkan air mata yang berlinang tiada henti dari hari ke hari.

"Abah, maafin Arafah," gumamnya dengan penuh rasa penyesalan. Air mata sudah menumpuk di kelopak mata. Ia tau perbuatannya akan berdampak besar pada pria kesayangannya ini.

"Arafah gak bisa tepatin janji Arafah. Maaf, Abah," gumamnya lagi. Kini ia sudah terisak sambil meremas ujung kemeja yang ia kenakan.

Abah berdehem. Ia menyuruh Arafah untuk membersihkan diri dan istirahat di kamarnya. Dengan berat hati, ia pun pergi dan memanggil Bude untuk menjaga Abah.

"Enggak mau di tegur aja, Arafahnya?" saran Bude ketika Abah melamun menatap langit-langit.

Abah menggeleng, ia tersenyum dan berkata dengan lemah lembut, "kakakmu sudah meninggalkan Ardian dan Arafah kepadaku. Sesuai permintaan terakhirnya, 'biar mereka sendiri yang memutuskan,' katanya."

Bude hanya bisa tersenyum kecut. Ia ingin sekali menarik keponakan kesayangannya dari jurang tak berujung itu. Namun, kakaknya selalu melarang dan membiarkan segala keputusan di tangan Arafah dan Ardian sendiri.

Ardian atau Dhio Ardian, adalah kakak laki-laki Arafah. Umur mereka terpaut sekitar 4 tahun. Berbeda dengan Arafah, Ardian menuntut ilmu di salah satu fakultas Islami di dekat pondok pesantren milik Abah. Ia tak ingin jauh-jauh dari Abah, karena Arafah sudah tak lagi tinggal bersama mereka.

Arafah kini bersekolah di SMP umum yang berbeda pulau dari rumah Abah. Jarak nya sekitar lima hari perjalanan menggunakan bus. Maka dari itu, Arafah memilih untuk menetap di kos-kosan yang tak jauh dari sekolahnya.

"Assalamualaikum," ucap seorang pria jakung yang menenteng tas, tak lupa pula dengan peci yang ada di kepalanya. Ya, itu adalah Ardian.

"Wa'alaikumsalam." Bude keluar dari kamar Abah dan menyambut Ardian. Setelahnya, Ardian masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.

"Bude pulang aja," sambar Arafah yang kini tengah mengucek matanya di ambang pintu kamar.

"Kamu, toh. Ngagetin aja!" semprot Bude sembari memelototin Arafah. Sedangkan yang di pelototin hanya menyengir tak jelas.

"Biar Arafah sama mas Ardi yang jagain Abah," jelas Arafah. Tangan yang tadinya mengucek mata beralih memegang ponsel.

Bude berlalu ke dapur untuk mengecek makanan, selanjutnya ke kamar Abah dan berlalu pulang. Sesuai dengan anjuran Arafah.

"Mas Ardi!" panggil Arafah sambil mendekati pintu kamar Ardian.

"Saya, Ra," sahut Ardian dari dalam.

"Nanti temeni Arafah ke supermarket ya," pintanya.

"Abis Maghrib ya Ra, tunggu bude ke sini," balas Ardian.

"Iya."

Malamnya, Arafah dan Ardian pergi ke supermarket dekat rumah. Arafah kesana untuk membeli beberapa keperluan pribadi. Seperti bedak dan lotion yang lupa ia bawa ketika hendak kemari.

"Kamu di sini berapa lama, Ra?" Ardian ikut melihat-lihat rak barangkali ada yang ingin ia beli juga.

"Dua mingguan, Mas." Tangannya menggapai tissue basah yang berada dipojokan.

"Mas juga sekalian, Ra," sambar Ardian kala mengingat persediaan tissue basah di rumah habis. "Yang kering juga sekalian, ambil dua," ucapnya lagi.

Arafah menurut dan kembali melihat-lihat rak skincare di hadapan Ardian. "Mas, juga skincare-an?" tanyanya. Pasalnya, Ardian menelusuri rak skincare seperti paham dari kegunaan benda-benda itu.

"Iya, kata Bude merawat diri itu penting. Gak cuma makan, mandi sama istirahat doang." Pandangannya jatuh pada facial wash yang Arafah pegang. "Kulit kamu sensitif?" tanya Ardian.

Arafah terkejut, ia membaca dengan teliti kegunaan facial wash itu. "Owalah, enggak mas, Arafah cuma lihat aja, masih nyari yang cocok." Ardian meneliti kembali para facial wash yang terpajang rapi di rak itu. Setelah mendapat yang dirasanya cocok, ia memberikan facial wash itu ke Arafah.

"Mas paham bener, Arafah kalah." Ia terkekeh sendiri dengan pandangan takjub. Mas-nya sudah seperti ahlinya. Bahkan tanpa bertanya kondisi kulit Arafah, ia bisa menentukan sabun cuci muka yang cocok untuk Arafah.

"Facial wash yang biasa kamu pake yang mana emang?" tanya Ardian.

"Gak keliatan, kayanya lagi kosong deh," ujarnya sambil mencari sesuatu lagi di rak.

Ardian mengangguk paham, setelah itu ia pergi untuk mengambil beberapa snack dan ice cream. Tak lupa pula minuman bervitamin untuk Abah yang tengah sakit.

BRUKK

Ardian menoleh ke tempat Arafah tadi. Di sana, sudah ada Arafah yang menjatuhkan belanjaannya dengan tangan gemetar dan tatapan kosong. Ardian mendekati adiknya untuk memastikan keadaan.

"Ra?" Tangannya menyentuh pundak Arafah dan itu mengagetkan sang empu.

Arafah menoleh dengan cepat. Saat tau itu Ardian, dia langsung menghambur ke pelukan Ardian. Tubuhnya gemetar hebat. Ia memejamkan matanya dengan erat. Yang bisa Ardian lakukan hanya menenangkan Arafah dengan memeluknya.

"Udah, gak papa," ucapnya dengan lembut. Tangannya mengusap kepala Arafah dengan lembut. Ia berusaha menenangkan Arafah yang berada di pelukannya.

"Mas," lirihnya. Ia tak menangis, tapi nampaknya syok berat. "Tadi dia disini, Arafah liat," lirihnya lagi.

"Udah, gapapa. Ada Mas di sini," bujuknya dengan lembut. Trauma itu datang lagi. Sulit rasanya melihat adik kecil yang sangat ia sayangi seperti ini.

Setelah membiarkan Arafah sedikit tenang, mereka kembali mengambil barang yang jatuh dan membayarnya ke kasir agar bisa pulang.

•••

SekilasHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin