"Sayang sekali kita belum bisa bekerja sama di perusahaan ini."
Seorang HRD perempuan berdiri dan berjabat tangan dengan Shani.
"Walau begitu senang bisa bertemu dengan mu,semoga kamu cepat dapat pekerjaan lain ya."lanjutnya.
Shani tersenyum tipis dengan wajah yang terlihat sedih.
"Terima kasih untuk doa nya."ucap Shani lalu pamit pergi.
Shani menghela nafasnya, menghitung dalam pikiran sudah berapa kali nya dia di tolak saat melamar kerja.Shani sudah melamar pekerjaan diantara nya pelayan cafe,Sales Fashion,Staff Gym dan Admin kantoran.
Namun tak satupun berujung mendapatkan pekerjaan itu.
Entahlah,apakah sesulit ini mendapat pekerjaan dengan ijasah SMA?Apakah aku tidak good looking seperti yang mereka standarkan?Kenapa aku merasa kurang beruntung?
Pertanyaan itu selalu menghantui pikiran nya.
Sambil menunggu bus datang,Shani merogoh kantung celana nya dan mendapati uang dua puluh ribu.
"Cukuplah buat sampai rumah."gumamnya pelan.
Drrtt drrtt drrttt suara handphone nya berdering.
Shani hanya menatap layar handphone dan enggan mengangkat telpon dari Juna.Hingga bus akhirnya datang dan Juna masih terus mencoba menghubungi nya.
"Halo.."Shani mengangkat telpon dari Juna setelah mengabaikan tiga panggilan.
"Kamu dimana?kenapa lama banget angkat telponnya?"Juna terdengar cemas seperti biasa.
"Lagi di bus,nanti aku telpon balik ya."
Shani menutup telpon Juna tanpa mendengar jawaban Juna.
Seperti merasa tidak punya waktu untuk berbicara dengan temannya itu,karena saat ini sedang banyak pikiran dan tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Shani pun tidak ingin bercerita mengenai kesulitan nya kepada Juna,yah walaupun mungkin tanpa di ceritakan pun Juna sudah mengetahui situasi Shani.
Mereka sudah berteman sejak SMP,dari SMP sampai SMA mereka satu sekolah.Juna kuliah namun Shani tidak karena terkendala biaya.
Shani hanya tinggal dengan ibu nya yang sedang sakit.Biaya hidup selama ini Shani dapatkan dari bekerja part time di toko swalayan dekat rumahnya.Tidak seberapa hanya cukup untuk beli makanan seadanya bahkan di saat harus bayar sewa rumah,Shani sering merasa kekurangan.
***
"Tante..maaf aku bisa pinjam uang lagi gak.Buat ongkos cari kerjaan yang gaji nya lebih besar."Shani menelpon tante nya sambil berjalan kaki setelah turun dari Bus.
"Gimana ya Shani,kemarin kan tante sudah coba bantu kamu.tapi kalau sekarang tante belum bisa bantu lagi,mungkin nanti awal bulan baru bisa bantu kamu." Ucap tante lala adik kandung ibu Shani.
"Gitu ya tante..yaudah gak apa-apa tante.maaf ya tante selalu merepotkan tante."Ucap Shani.
"Iya Shani semangat ya.salam untuk mama..nanti tante main kesana."Ucap Tante lala dan percakapan mereka berakhir.
Hanya ada satu cara agar Shani punya uang untuk membelikan makanan dan obat ibunya.
Shani mengeluarkan Box di dalam tas nya dan bergegas ke counter handphone.
"Mas mau jual."ucap Shani
Setelah menjual handphone nya ,ia membeli handphone kecil yang hanya bisa di gunakan untuk telpon dan sms.
Shani bergegas pulang dengan membawa jinjingan makanan dan obat untuk ibunya.Sebelum masuk kedalam rumah,tidak lupa Shani mencoba merubah ekspresi wajahnya yang sedih dengan berpura-pura bahagia.
Tersenyum riang di depan ibu nya,mengajak ibunya makan bareng dan menceritakan kejadian konyol yang ia bilang ia lihat di perjalanan padahal sebenarnya itu hanya karangan.
Dengan begitu Shani senang bisa melihat ibu nya tertawa.
"Cepat sembuh ya ibu."ucap Shani dalam hati.
ESTÁS LEYENDO
Two is Better Than One
RomanceShani seorang perempuan yang mencoba bertahan dalam situasi sesulit apapun dan meyakinkan bahwa diri nya baik-baik saja kepada orang lain. Suatu saat dia bertemu dengan seseorang yang membuatnya dapat mengungkapkan perasaannya.
