01, bersedia.

68 8 5
                                        

"kia."

"hai, mau balik?"

"iya. lo balik sama siapa? pesen gojek?"

kiana merapatkan bibir, enggan menjawab jujur tapi juga tidak mau berbohong. namun pada akhirnya, kiana tetap menjawab apa yang ada.

"gue nunggu satria sih. dia masih kerja kelompok di kelasnya, jadi gue nunggu di sini aja sampe dia selesai."

si lawan bicara itu manggut-manggut.

"oke, kalo gitu gue duluan ya."

kiana melihat punggung laki-laki itu menjauh. bukannya menuju arah parkiran, dia malah kembali ke koridor ruangan ekstrakurikuler jurnalistik yang ada di ujung. tapi ya sudah, kiana tidak begitu peduli.

sejujurnya, kiana paling anti yang namanya menunggu. kalau menunggu hampir dua jam begini ya lebih baik dia pulang jalan kaki saja, mungkin cuman menghabiskan waktu sejam daripada harus menunggu satria kerja kelompok dua jam.

sesekali kiana cek ponselnya namun tidak ada pesan balasan dari satria, bahkan sekarang ponsel satria tidak bisa dihubungi. kiana pun mulai merasa gusar, seperti menunggu ketidakpastian. ia memutuskan untuk naik ke atas, tepatnya ke gedung ipa, menuju kelas satria dan memanggilnya untuk segera pulang.

hanya saja koridor kelas sebelas ipa sudah sepi, yang tersisa hanya karyawan bersih-bersih yang beberapa kali terlihat hendak mengunci kelas.

kiana punya firasat buruk.

jangan-jangan gue udah ditinggal pulang.

ketika sampai di kelas satria, ternyata benar dugaannya. kelas satria sepi tidak ada satu pun tanda-tanda orang kerja kelompok. mencoba untuk berpikir baik, kiana membuka gagang pintu mencoba masuk, tapi ternyata sudah terkunci.

kiana merapatkan bibir keringnya, tanpa kata berlari tergesa-gesa menuruni tangga.

"anjing banget satriaaaaaaaa!!!"

suara kiana terdengar sampai ke ujung koridor lobi utama, membuat beberapa satpam dan siswa yang hendak pulang itu pun menoleh.

"loh, kiana," ucap seseorang menghampiri kiana yang bersandar di tembok dengan raut wajah yang seperti menahan tangis. mukanya pun merah terlihat menahan amarah.

"bangsat..."

si lawan bicara yang berdiri di samping kiana pun tertegun mendengar umpatan itu. entah umpatan itu ditujukan untuk dirinya atau bukan, dia tetap merasa canggung mendengarnya.

"jelek ah misuh-misuh gitu."

tidak ada sahutan.

"kenapa masih di sini? gue kira udah pulang sama satria dari tadi," ucapnya lagi, menunggu gadis di dekatnya membuka mulut dan berkata sejujurnya.

kiana yang dari tadi menahan air matanya untuk tidak jatuh pun gagal. beberapa tetes tiba-tiba jatuh dan buru-buru juga ia hapus dengan punggung tangannya. ia menggelengkan kepalanya dan berani menatap mata lawan bicara.

"pesenin gue gojek dong. hape gue keburu mati tadi. oh iya alamat gue udah ada di situ kan ya? yaudah buruan jay."

jay, laki-laki itu ternyata jay. dia yang tadi bertanya kenapa kiana belum pulang dan dia lagi yang bertanya untuk kali kedua kenapa kiana belum juga pulang. jay sangat paham, pasti telah terjadi sesuatu entah dengan kiana atau satria. tapi jay tidak bertanya lebih lanjut karena melihat ekspresi kiana saja sudah menggambarkan betapa membencikannya suasana seperti ini.

"gue anter aja."

kiana kembali melirik jay. "gapapa?"

jay hanya mengangguk, kemudian menarik kiana dan merangkulnya berjalan ke parkiran. tanpa ada selipan pembicaraan, kiana hanya diam dirangkul jay.

parkiran juga sudah kosong, hanya tersisa beberapa kendaraan murid yang masih mengikuti ekstrakurikuler dan juga motor scoopy hitam milik jay. sesampainya di dekat motor jay, kiana cuman menunggu jay untuk menyalakan mesin.

sebelum itu jay bertanya untuk memastikan.

"helmnya cuman satu," kata jay, melirik helmnya.

kiana ikut melihat helm jay yang ada di atas jok.

"gue-"

jay mengambil helm dan memberikannya pada kiana. "nih, lo aja yang pake ya."

kiana masih terdiam, bukannya menerima helm pemberian jay, dia malah menatap helm itu dengan tatapan kosong. dia berpikir, lalu jay yang menyetir sekaligus yang punya helm pakai apa?

"mau pake sendiri apa gue pakein, nih?" jay membuyarkan lamunan kiana, membuatnya segera mengambil helm dari tangan temannya itu.

"terus lo gak pake helm?"

"gak usah. yang penting lo aman aja."

"nanti kalo kecelakaan, kepala gue utuh, kepala lo enggak, jay."

"astaga, ya jangan bilang gitu juga kia. serem."

kiana hanya tersenyum tipis. naik ke atas boncengan jay yang tengah menyalakan mesin. tidak lupa jay memakai topi converse yang ia simpan di jok depan.

"udah?" tanya jay.

"udah."

mereka pun pulang. di jalan langitnya sudah jingga, matahari hampir tenggelam dengan sempurna. nyaris saja magrib tiba, padahal harusnya pukul 3 tadi, kiana sudah bisa pulang. gara-gara satria akhirnya kiana berakhir seperti ini, malah merepotkan orang lain.

kiana diam, masih tidak habis pikir dengan satria yang dengan tega meninggalkannya tanpa memberi tahu alasannya. padahal kiana sudah bersedia menunggu sesuai perjanjian mereka berdua. tapi ternyata apa? satria berbohong dan itu mengecewakan.

ngapain juga gue tadi nangis, mana ketauan jay.

tapi untuk jujur, saat itu kiana benar-benar terkejut. dia juga sangat emosi karena perlakuan satria. masalahnya dia sudah percaya dan bahkan sudah bersedia menunggu satria selama itu, kalau saja dia tidak mengecek ke kelas satria mungkin dia sudah jadi gembel di sekolah sampai magrib tiba.

gue semarah itu, sampe gak sadar tiba-tiba nangis.

"ini kan rumah lo, ya?"

kiana menoleh dengan cepat, menghentikan lamunannya. tidak sadar kalau ternyata sudah sampai di depan rumah. dia pun turun, otomatis memberikan helmnya pada jay.

"heheh, makasih. mau mampir dulu gak?"

jay menggeleng dan tersenyum menghargai, sambil menerima helmnya. "bentar lagi adzan, mau langsung pulang aja."

kiana manggut-manggut.

"gue duluan ya."

"iya, makasih ya jay. makasih banyak."

"iya, sama-sama." jay memakai helmnya dan bersiap tancap gas.

"hati-hati di jalan," kata kiana dengan senyuman tipisnya.

mendengar itu jay seperti ditampar oleh mimpi. padahal sebetulnya dia sedang ada di dunia nyata. kata-kata kiana barusan seolah menyelimutinya dan menjadi tameng supaya jay selamat di jalan. tidak pernah jay sebahagia ini diucapkan 'hati-hati' oleh seseorang.

a boring loveWhere stories live. Discover now