Mei 2024
Satu Persatu Pelayat pergi, bersama payung-payung hitam mereka meninggalkan seorang Wanita yang tengan hamil besar dan terus coba dibujuk dua wanita paruh baya lain agar meninggalkan gundukan tanah dingin tempat peristirahatan suaminya tercinta.
Dua pria paruh baya yang memayungi ketiga wanita itu hanya bisa menatap nanar pada istri masing-masing dan wanita muda yang merupakan anak serta menantu mereka.
“Mel, Ayo pulang, Jovan udah tenang disana. Kamu harus sabar, nak. Ayo pulang, Jovan juga ga akan suka lihat kamu menangisinya seperti ini, nak. Pikirkan kandungan kamu, Mel. Kalau kamu sakit mereka bayi diperut kamu juga akan sakit kalau kamu tetap disini, Mel...”
Wanita yang dipanggil ‘Mel’ itu menggeleng, dengan tangan mencengkram erat papan nisan tempat kepalanya bersandar, disana terukir nama pria yang telah menjadi pusat dunianya selama tujuh tahun terakhir.
Entah sudah berapa lama dia menangis dan tumbang, kandungan sembilan bulannya semakin lemah sejak kabar buruk yang tak pernah ingin ia dengar datang kemarin sore dan sejak itu, ia terus menangis tanpa sekalipun menyentuh makanan.
Maka tidaklah heran jika perutnya yang beberapa hari terakhir sering memberikan kontraksi palsu, sejak semalam berdenyut perih dan sekarang sakitnya kian menjalar tak terkendali.
“Akh, akh… Ibu sa-sakit… Mama! Perut Imel sakit…”Semua orang ditempat itu seketika panik melihat ringisan Imel yang wajahnya semakin pucat pasih.
Empat orang pria muda yang berdiri di sisi seberang para orang tua berdiri itu langsung sigap menghampiri. Radit membopong tubuh Imel didepan dada dan membawanya kearah mobil mereka terparkir segera.
“Seorang Dokter muda menjadi salah satu korban tewas di dalam kecelakaan beruntun yang terjadi di Tol xxx. Pemilik kendaraan BMW silver yang diketahui berprofesi sebagai seorang dokter itu menjadi korban pertama yang berhasil diidentifikasikan identitasnya, sebab besarnya kebakaran yang melahap enam mobil dalam kecelakaan beruntun yang salah satunya adalah truk pengangkut bahan bakar milik Perusahaan negara, membuat para korban sudah tak mungkin dikenali secara kasat mata. Menurut keterangan perwakilan….”
-Tut-
Pria jangkung itu mematikan saluran televisi yang sudah beberapa hari memberi sorotan berlebih pada insiden kecelakaan besar di jalan Tol yang juga telah merenggut seorang sahabat terbaiknya.
Jovan, suami dari wanita yang terbaring di brangkar pesakitannya itu masih menikmati tangisan kepedihanya bahkan didalam mimpi sekalipun. Rasa pilu itu mendekap Imelda hingga alam bawah sadar terdalamnya.
Pria berjas dokter itu mendekat dengan raut nanar memandangi wajah sayu Imelda, disentuhnya dahi Imel yang berkerut, diusap lembut hingga perlahan kerutan itu terurai. Namun bukan hanya itu alasannya menyentuh kening Imel melainkan juga untuk memastikan sesuatu.
”Syukurlah demammu udah turun. Kumohon cepatlah sadar…”Pria itu duduk di tepi brangkar memerhatikan wajah lemah itu sekali lagi hingga tak lama terlihat pergerakan dari jemari Imelda.
“Mel?”
Perlahan tapi pasti kedua mata sayu itu terbuka. Radit, teman sekaligus Dokter yang menangani Imel setelah ia dipindahkan keruang pemulihan usai melahirkan itu tak dapat menyembunyikan ekspresi senangnya menyaksikan wanita yang telah terlelap dalam tidur selama dua hari itu akhirnya membuka mata.
Mereka saling berpandangan tuk beberapa saat. Reflek tangannya menggenggam jemari Imel erat, entah mengapa meski samar rasanya ada sesuatu yang pria itu inginkan dari Wanita ini, mendengarnya menyebut nama ‘Radit’ sebagai nama pertama yang Wanita itu ucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black sky | [Sequel Our Blue sky]
ChickLitImel Menata ulang hidupnya usai kepergian sang suami tercinta selamanya, Jovan. Menyibukan diri dengan membesarkan dua anak kembar seorang diri, Imel pikir ia tak akan pernah mencinta lagi. Disisi lain Raditya Mahesa, sahabat Jovan yang selalu ber...
![Black sky | [Sequel Our Blue sky]](https://img.wattpad.com/cover/303713657-64-k947653.jpg)