Cara Pandang Masing-masing

9 0 0
                                        

Sebagian orang selalu mengira apa yang mereka ucapkan hanyalah sekedar ucapan. Tidak berpikir jauh apa yang akan terjadi karena ucapan mereka tersebut.
Tak jarang kita melihat beberapa orang yang dulunya sangat ceria, bahagia dan mudah berbaur menjadi orang yang anti sosial, menarik diri dari lingkungan, pendiam dan tidak mau berinteraksi bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Dan ada juga yang diluar tampak sangat bahagia hidupnya tapi dibelakang dia menyembunyikan banyak luka. Karena kita tidak tahu apa yang dihadapi seseorang, alangkah baiknya kita mengoreksi perkataan yang akan keluar dari mulut kita, apakah itu akan menyakitkan bagi lawan bicara atau tidak, ya walaupun hanya sekedar "bercandaan".

Bak pepatah "lidah memang tidak bertulang tapi lebih tajam dari pedang", banyak orang yang terluka dikarenakan perkataan seseorang terhadap dirinya. Mencoba untuk baik-baik saja didepan banyak orang, sedang di dalam? Dia hancur tak bersisa.
Mungkin kalau di zaman sekarang disaat kita berani speak up ke beberapa teman atau ke media sosial dengan alasan untuk sekedar bercerita dan sedikit mengurangi beban, tak jarang kita temui kata-kata;

"Baperan Lo"
"Lo mah masih mending, lah gua?"
"Masalah kecil doang gak usah ribet"
"Lebai banget Lo kayak di dunia ini Lo doang yang punya masalah"
"Alay Lo apa-apa masukin story"
"Norak kali Lo"

Bukannya mengurangi beban malah menambah beban dan akhirnya banyak dari mereka memilih memendam semua masalahnya.
Tak jarang juga ada yang memilih mengakhiri hidup karena masalah yang dia punya.
Kenapa bisa? Karena mental tiap orang berbeda. Mungkin bagi kamu itu hanya masalah kecil tapi bagi orang lain bisa jadi itu adalah masalah yang besar pun sebaliknya.
Jangan pernah menganggap remeh masalah orang lain, barangkali ada seseorang yang datang berbagi cerita kepada kita. Jikalau kita tidak bisa memotivasi setidaknya dengarkan saja apa yang dia keluhkan, jangan dimarahi apalagi diremehkan.
Sebab beberapa orang hanya butuh didengar bukan untuk dinasehati, diceramahi apalagi dimarahi.

Orang yang memiliki masalah mental bukan karena dia jauh dari Sang Pencipta, bukan karena dia kurang ibadah dan lemah imannya. Ada sebagian dari mereka yang taat beribadah bahkan sholatnya lebih lengkap dari kita, mulai dari ibadah wajib sampai sunnah dia kerjakan. Bahkan ibadahnya jauh lebih baik daripada kita yang tidak mengalaminya.
Kadang dengan ke psikolog jalan keluar yang diberi oleh Tuhannya. Dan satu lagi, rumah sakit jiwa tidak hanya untuk mereka yang "gila" tapi untuk mereka bahkan kita yang memiliki masalah kejiwaan.

Itu dari sudut lingkaran pertemanan.
Sejatinya setiap kita butuh rumah untuk pulang dan beristirahat sejenak dari masalah yang dihadapi, bukan menyerah tapi hanya mengambil jeda dari itu semua. Beberapa orang mungkin punya rumah untuk pulang, punya orangtua yang bisa dijadikan tempat berbagi keluh kesah, namun ada juga yang tidak memilikinya sama sekali bahkan menjadi sebab seseorang punya mental illness.
Ada diluar sana yang waktunya habis diluar rumah dan pulang hanya untuk tidur karena ketenangan hanya dia dapat ketika dia diluar rumah. Dan ada yang mengurung diri dikamar karena ketenangan yang dia cari hanya di dapatkan di dalam kamar itu.

Banyak dari kita yang menyepelekan hal-hal yang terkadang membuat kita sadar itu adalah hal yang sangat besar ketika suatu hal buruk sudah terjadi. Keadaan yang semakin kesini semakin rumit untuk dihadapi, kecewa akan kenyataan dan ekspetasi yang semakin hari semakin tinggi sedang realita menjatuhkan serendah-rendahnya. Berharap hidup akan lancar-lancar saja dan akan berjalan mulus seperti jalan hidup orang lain. Di sisi lain diri sendiri tercekik kenyataan dan kembali ditampar oleh realita kalau sebenarnya hidup tidak semulus yang dikira.
Mulai dari kegagalan-kegagalan yang membuat diri hampir menyerah. Dulu sangat mudah sekali saat ditanya "besar nanti mau jadi apa?" Ternyata semuanya butuh perjuangan dan tidak semudah berucap "aku nanti mau jadi ini."
Rasanya menjadi anak kecil adalah hidup yang paling tidak ada beban dan tidak ada overthinking tentang besok ada masalah apalagi.
Tidak ada solusi selain jalani dan nikmati saja. Namanya hidup akan selalu ada masalah dari segi apapun itu. Dan lelah itu wajar karena kita manusia. Kita punya titik terendah dalam hidup dan kita punya hak untuk bangkit kembali.

Meskipun mentalmu dihajar habis-habisan, jangan lupa bersyukur untuk hal-hal yang kamu temui.
Walau rasanya berat dan selalu ingin nyerah dengan kehidupan, percayalah kamu pasti bisa untuk melewatinya.
Kalau backingannya Allah semuanya akan lancar, andalkan Allah, minta ke Dia hal sekecil apapun itu.
Daun yang jatuh pun tidak luput dari perhatianNya. Allah gak bakal biarin hambaNya terlantar.
Kita hidup disini cuma untuk lewat, tidak semua hal harus dimiliki toh semua hanya sesaat, tidak kekal.
Disini kita dituntut untuk menyiapkan bekal pulang, anggap saja seperti bercocok tanam.
Maka tanamlah hal-hal baik untuk dipanen nanti.

Autophile (Sunyiku Punya Cerita)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora