Lyla masih membiarkan tubuhnya terbaring diatas kasur. Matanya memandang kosong pada langit-langit rumah yang ia tempeli bintang-bintang. Kemudian beringsut dan menapaki lantai dingin menuju kamar mandi.
Lyla tak perlu khawatir terlambat. Kelasnya selalu dimulai pukul 10.00. Sekarang baru pukul tujuh pagi. Masih ada tiga jam yang tersisa. Dan Lyla bisa bersantai dulu sembari menikmati tetes air yang deras menghujam kepalanya,ritual yang selalu ia lakukan setiap hari. Berdiam diri di kamar mandi menunggu jam menunjuk angka sembilan pada jam.
Entah kenapa, Lyla selalu menyukai tetesan air yang menghujam kepalanya. Anehnya, ia benci jika hujan datang. Padahal bermandikan hujan lebih menghemat air karena tak perlu bayar tagihan air ataupun listrik. Ayah Lyla bisa berhemat dari besarnya uang tagihan yang kadang tak mampu ia bayar.
Mungkin, ini sudah menjadi kebiasaan sedari kecil. Ketika adik kecilnya hadir di dunia, dunia milik Lyla serasa berubah. Ia yang dulu dipuja, tak lagi menjadi sumber tawa. Ia yang menjadi cinta pertama, tak lagi menerima cinta. Semuanya menjadi milik Nindy. Jadinya membiarkan air menghujam dirinya menjadi alatnya melupakan semua hal.
Tapi, apakah Lyla dendam? Tidak. Adiknya menjadi anugerah terbesar dalam hidupnya. Nindy menjadi teman kala Lyla harus berjibaku dalam kegamangan dan kegalauan. Karena Nindy lah ia bisa melupakan tatapan orang-orang terhadapnya yang tak biasa. Begitulah kebanyakan kakak menghadapi kenyataan bahwa dunianya mulai berubah.
Setelah satu jam berlalu, Lyla menyudahi ritual mandinya. Butuh setengah jam Lyla untuk berpakaian. Sesudahnya ia hanya akan kembali menatap langit-langit kamar yang tak pernah berubah. Masih putih pucat dengan dua bintang tersisa.
Baru setelah puas mengamati langit kamar itu Lyla turun dan makan di meja makan. Ibu sedang menyapu di teras. Dan ayah sudah berangkat ke kantor ketika Lyla masih mandi. Hanya dia yang sedang menyantap sarapannya.
"Kalau udah beres jangan lupa di cuci, " pesan Ibu sembari melangkah pergi menuju lantai atas.
Ibu pun akan bekerja dari rumah. Ia seorang ibu rumah tangga handal yang bertanggung jawab menjadi petugas keamanan dan kenyamanan rumah. Seperti Ibu ibu kebanyakan.
Lyla hanya mengangguk. Roti nya sudah tandas tak bersisa. Lyla membawa piring kotor itu. Sesuai perintah ibu, mencuci nya dan menatanya kembali di rak piring. Lyla menyelendangkan tas usang yang ada di sampingnya dan melangkah pergi.
"Aku berangkat"
Sapaan itu berbalas angin yang menggelitik tengkuknya pelan.
&&&
Hari yang penuh kesibukan tidak pernah lebih baik dari hari libur. Selalu penuh dengan jadwal yang kaku dan terlalu ketat. Lyla sudah muak dengan kekakuan ini.
"Hai, La," sapa seorang teman. Namanya Demi. Dia seorang ketua kelas dan kebetulan hari ini dia dan Demi berada di kelas filsafat yang sama.
" Hai," balas Lyla.
Sebetulnya, Lyla tak terbiasa disapa seperti ini. Lagipula, selama dua tahun berkuliah tidak banyak orang yang mau menyapanya duluan. Mungkin karena banyak yang melihat Lyla sebagai orang yang jarang tersenyum. Dalam dua tahun ini, Lyla jarang ikut kumpul bersama atau bahkan sekedar nongkrong di kantin kampus. Dia terlalu malu dan merasa tak pantas apalagi dengan penampilannya yang gendut. Siapa yang mau berteman dengan bocah kumal, gendut, hitam seperti aku, pikir Lyla.
Namun, Demi sepertinya berbeda. Laki-laki itu malah selalu menyapanya jika bertemu. Padahal, dia bisa dikatakan sebagai orang yang populer. Dia... Tampan, baik dan... Manis. Ah sudahlah, Lyla terlalu malu untuk mengatakan pada Demi bagaimana dirinya. Berbeda dengan Lyla yang bahkan dalam bidang akademik saja tidak unggul.
Demi segera menjajari langkah Lyla yang sudah agak menjauh. Lyla tak bisa menghadapi Demi dengan muka memerah seperti ini. Dia tersipu.
"Gimana tugas hari ini?, "tanyanya.
Lyla berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaannya.
" Mengerikan, " keduanya terkekeh.
Mereka sama-sama baru pertama kali menyelami filsafat dan pantas saja mereka mengatakan tugas filsafat mengerikan. Filsafat perlu kesabaran dan perlu kecerdikan dalam menyelaminya.
Sesaat kemudian, Rizky, salah satu teman Demi datang. Dia menyapa Demi dan mengajaknya pergi ke kantin.
"Dem, kantin yuk"
Demi langsung mengiyakan ajakan Rizky. Dia langsung mengatakan selamat tinggal dan pergi menjauh dengan Rizky. Punggungnya di kejauhan mulai terlihat samar. Lyla? Lyla hanya memperhatikan punggung itu menghilang sempurna. Lyla masih berdiri di tempat yang sama. Mengawasi punggung lebar milik Demi yang perlahan menghilang ditengah keramaian.
YOU ARE READING
Di belahan bumi ini, kutemukan rumah
RomanceLyla adalah mahasiswa Psikologi yang tidak memiliki banyak teman. Dia hanya punya satu teman dan itupun berada di jurusan yang berbeda. Dia adalah anak pertama dan punya satu adik. Mereka akur dan bertengkar seperti kebanyakan saudara pada umumnya...
