draft

2 0 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim. Khaliz mengambil nafas panjang.

"dib, gue ada rasa sama lo."

Deg

Adiba mengarahkan pandangannya menuju anak adam disampingnya ini. Mengerutkan dahi sesaat, tentu terkejut. Lalu terkekeh geli.

Ia kembali mengalihkan pandangannya.

"Disaat sahabat gue sendiri juga ada rasa sama lo?"


***

Hari ini, hari kedua sekaligus hari terakhir Adiba privat di tempat ini. Entah, nanti ia akan kembali les di sini atau tidak.

Sekarang, Adiba sedang menunggu orang tuanya menjemput. Karna tadi, ayah dan bunda bilang akan menghadiri acara pernikahan teman ayah. Lalu mereka akan kembali sehabis Maghrib.

"Nanti kita jemput habis maghrib, kamu tungguin sambil makan bakso atau ngapain gitu nggak apa-apa kan? Kalo emang kelamaan pesen ojek online aja," kata bunda.

Awalnya Adiba berniat akan memesan ojek online. Namun naas, kuota Adiba sudah habis. Jalan satu-satunya tentu menunggu bunda dan ayah menjemputnya.

Untungnya Adiba tidak sendiri, ia ditemani oleh Zahra. Iya, gadis baik yang ramah kemarin. Zahra sempat menawarkan tumpangan, namun ternyata kakaknya menjemput menaiki sepedah motor. Memang mau ditaruh dimana Adiba? Akhirnya Zahra berbicara dengan kakaknya, iya Khaliz. Lalu dengan keputusan mereka menemani Adiba hingga dijemput karna memang sudah malam. Zahra menemani Adiba di warung bakso, sedang Khaliz memantau mereka berdua dari Masjid di seberang.

Adiba memang sangat merasa bersalah merepotkan, tetapi Zahra bilang tidak apa-apa. Anggap saja balas budi.



Hingga derum mobil ayah terdengar, Adiba dan Zahra segera berkemas. Mereka berdua menghampiri mobil ayah.

"Loh, ini Zahra kan? Kok belum pulang nduk?" Bunda bertanya ramah.

"Iya tante, ini tadi nemenin kak Adiba. Kasian kalau sendirian nanti diambil orang kan sayang hehe," jawab Zahra dengan cengirannya.

Bunda, Adiba dan ayah hanya tertawa.

"Terus ini Zahra udah dijemput? Kalo belum, ayo bareng sini nggak apa-apa nduk," bunda menawarkan tumpangan.

Zahra menggeleng lalu menunjuk ke arah seberang. Terlihat Khaliz sedang sedikit melambai sembari tersenyum sopan.

"Udah dijemput abang tadi te."

"Ooh gitu, maaf yaa ngerepotin jadinya. Yaudah, Zahra bilang ke kakaknya gih, biar kalian duluan. Nanti kita iringin dari belakang," bunda berkata ramah.

Zahra mengangguk, "ah gitu, siap tante. Kalau gitu saya kesana dulu ya, mari tante, om. Kak Adiba, aku duluan yaa."

"Sekali lagi terimakasii ya raa, hati-hati," Adiba tersenyum.

Lalu satu mobil dan sepeda motor itu berkendara beriringan, pulang menuju rumah masing-masing.

Вы достигли последней опубликованной части.

⏰ Последнее обновление: Jan 03, 2022 ⏰

Добавьте историю в свою библиотеку, чтобы получать уведомления о новых частях!

heumМесто, где живут истории. Откройте их для себя