His eyes. His gaze. I still remember his gaze was intimidating.
*
085xxxxxxxxx
Test.
Thats how he texted me for the first time. Not a proper hello or casual 'basa basi' for a text--- and his number not saved for almost a month. Maybe.
Kalo kata ayah gue sih, yang modelan begitu tuh nggak ada adabnya.
Kesan pertama dia sebagai orang yang baru gue temui terlalu menjengkelkan, gue bahkan enggan untuk ngeliat mukanya di ke-esokan harinya setelah hari itu. Apalagi sampai nyimpen kontaknya. Ogah.
Klise sebetulnya. Gue dan Dimitra dipertemukan oleh semesta di suatu pagi dimana gue sebagai murid baru sma yang sedang menghadapi perploncoan dan dia sebagai kakak komdis sok galak. Well, di jaman ini emang udah nggak ada lagi yang namanya perploncoan. Tapi apapun namanya, intinya tetep sama aja kan?
Waktu itu gue masih seorang anak ingusan yang baru lulus smp dan baru memasuki fase baru dimana gue jadi anak sma, dan saat itu gue juga masih seorang anak cupu sekaligus beler karena harus bangun pagi pagi buta buat mempersiapkan berbagai tetek bengek demi menghadiri MOS sebagai murid baru. Sedangkan Dimitra adalah panitia MOS komisi disiplin angkatan gue waktu itu dengan almamater khas sma gue beserta slayer abu abu di salah satu lengannya.
Temen temen seangkatan gue biasa memanggil dia dengan sebutan komdis slayer abu abu, karena si ketua komdis pake slayer hitam---- kadang juga ditambahin jadi komdis slayer abu abu yang ganteng itu lho---
Dan gue nggak pernah menyangka sebelumnya kalo Dimitra bisa mempengaruhi hari hari gue setiap harinya di kemudian hari.
"Hey, kamu keluar dari barisan sekarang." tunjuknya ke arah salah satu barisan dari depan sana, dimana tempatnya berdiri memandangi anak anak yang mental tempe akibat tatapan sengit kakak kakak komdis "Saya bilang segera mundur dari barisan, nggak denger suara saya?" suaranya meninggi seolah naik pitam
Gue yang nggak tau pasti dia menunjuk ke arah siapa itu jadi ikut ciut seketika. Rasanya ingin menjerit minta tolong atau sembunyi dibawah ketek ayah sekarang juga.
"Rambut pendek gugus Iskandar Muda. Gugus ungu!" gue baru menyadari kalo tatapannya mengarah ke arah gue, karena diantara semua cewek di gugus ungu alias gugus gue ini cuma gue seorang yang berambut pendek. Kecuali dia manggil temen cowok gue yang literally rambutnya pendek semua.
Gue menatap kearahnya sambil menunjuk ke diri sendiri. Dan dia malah datang dengan langkah cepat seolah mau menghabisi gue secepatnya. Disaat saat begini kakak pendamping gugus gue yang keliatannya selalu baik---- dan emang beneran baik itu nggak keliatan seperti mau menolong adik manisnya yang terancam ini.
Selanjutnya si galak itu malah menarik lengan baju gue seolah nggak mau kalo sampe menyentuh tangan gue sedikitpun dan membawa gue ke belakang barisan sampe sampe beberapa anak lainnya sempet menoleh dan memandang gue iba selama sepersekian detik, karena kalo kelamaan bisa bisa mereka mungkin akan kena omelan rese komdis komdis sok galak di depan sana.
Bahkan Anggi yang berada tepat disebelah gue dan tadi sempet nyenggol lengan gue beberapa kali itu cuma berani menunduk dan seolah ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ya iyalah, kalaupun jadi dia gue juga pasti bakalan cari aman sendiri dulu.
"Kamu sadar kesalahan kamu?" gue masih menunduk dengan kedua tangan yang gue tautkan kebelakang
"Salah saya apa kak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Call Home,
FanfictionBukan hanya tentang Dimitra dan dunianya yang kosong melompong, bukan juga tentang Nata beserta hal hal tak kasat mata yang dilihatnya serta berbagai hal di sekelilingnya yang penuh kehangatan, ataupun bukan juga tentang Agas yang tidak kunjung bisa...
