1

11 2 4
                                        

⚠️ mengandung adegan kekerasan yang tidak cukup kuat boleh di skip.

___________

-01-

"Hah ... Hah... Hah...." Helaan nafas bercampur takut memenuhi ruangan persegi yang terlihat elegan. Pencahayaan remang. Wanita berpiyama putih tersudut di pojok ruangan paling gelap. Ketakutan dan gemetaran memegang ponsel pintar miliknya. Nafasnya lagi-lagi terburu oleh rasa takut dan panik setelah melihat layar ponsel menampakkan video berdarah.

"Hah...hah...hah...ha...ti- hah tidak..kumohon" suaranya memohon disela-sela nafas yang tidak terkontrol. Keringat dingin bercucuran.

*Paakkkk... Bzzzt...* Layar ponsel menampakkan adegan mengerikan. Sebuah kapak melayang, menghantam pergelangan tangan seorang wanita. Demikian video itu kemudian berdenging memekakkkan bersamaan dengan pekikkan wanita berpiyama putih.
Ponsel pintar terlempar menghempas lantai.

"Tidak... Huhu... Kenapa? Hah ..hah..huhu.. kubilan mohon .. tidak...huhu. hu..haah...jangan lakukan itu..." Suara tangis putus asa disela-sela ketakutannya terdengar tak biasa, tidak ada keterkejutan. Pun ia terlihat sangat gemetar.

Sebenarnya video apa itu? Movie horror, cerita tentang pembunuhan berantai? Lantas jika ya kenapa wanita ini begitu menghayati?

"Bagaimana? Sangat memacu adrenalin bukan?" Suara dengan nada robot muncul tiba-tiba dari ponsel pintar yang sedari tadi berada di atas nakas tepat di seberang dinding satunya lagi. Seseorang dibalik ponsel itu adalah orang yang sudah memperhatikan sedari tadi.

Wanita berpiyama gemetar, suaranya tertahan. Ada yang mengganjal di tenggorokannya. Sakit. Namun teriakan yang harusnya ia keluarkan terus tertahan.

"Tapi ini lama-lama jadi membosankan... Bagaimana kalau orang-orang tersayang mu ini aku bebaskan?"

Si wanita diam. Takut? Entah, ia seperti sudah mati rasa. Pun tawaran itu sangat mencurigakan.

"Oke, diam berarti iya. Ehm tunggu-tunggu tapi ada syaratnya donk... Eh norak, kau masih di seberang sana kan? Eh iya masih toh keliatan dari sini..." Suara itu terkesan sangat santai.

"Katakan... Kau mau apa?" Tanya si wanita gemetaran sambil menatap ponsel di atas nakas.

"Ehm sabar. Jadi di sini aku punya 3 orang sandera..eh 3 mainan maksudku.. ayah ibumu dan pacar kesayangan mu ya nggak berguna... Harga pacarmu adalah ginjal, harga ayahmu adalah hati, dan harga ibumu adalah jantung... Ehm aku nggak mematok harga terlalu tinggikan? Untuk selebriti seperti mu ini termasuk murah lah ya?... Jadi aku ga mau tau kau rusak organ siapapun itu untuk menebus ke tiga mainan ku ini? Gimana? Eh atau kau pakai organmu saja....aku memantau dari sini.. kalau sampai ga kau lakukan dengan benar mainan-mainanku ini akan ku cincang.. pahamkan?.." semua perkataan si gila di seberang telepon tak terlewatkan satu hurufpun dari ingatan si wanita berpiyama.

Si gila bersuara bot itu adalah orang yang sama yang mengirimkan video mengerikan tadi. Tentunya itu video asli, sudah Berkali-kali keaslian itu ia lihat dengan cara yang tak biasa. Termasuk malam ini. Malam paling tak ia pikirkan.

"Ah bosan.. apa aku potong satu jari tangan pacarmu dulu ya..nanti ku sambung ke tangan ayahmu? Itu kayanya mending deh.." telepon itu bersuara lagi... Menunggu membuat orang diseberang sana bosan.

Si wanita berpiyama diam.

Siapa? Siapa yang harus aku ambil ginjalnya? Yang harus aku hancurkan hatinya? Yang harus aku rebut jantungnya?

Siapa?

Aku harus membunuh setidaknya satu orang...

"Hah...hah....siapa?....ba...ha..hah .hah... bagaimana ini?" Cemas. Putus asa.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 23, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

THE MAZEWhere stories live. Discover now