MONOLOG MALAM

104 22 2
                                        


Langit malam tampak gelap. Bulan pun bersinar redup dari kejauhan. Namun, semarak lampu di bawah dan beberapa gedung pencakar langit, menjadi penerang di kala malam hari. Beberapa mobil tampak bergerak perlahan, meski jalan tidak terlalu padat di kala masa pembatasan sosial skala besar. Ya, beberapa bulan ini, orang-orang memang sering berada di rumah karena negara sedang berperang dengan virus mematikan. Banyak orang yang mulai terjangkit dan sakit. Sebagian, tidak mau keluar rumah karena takut terjangkit. Tapi, tidak sedikit pula, yang tetap harus ke luar rumah dan bekerja. Orang-orang yang tidak punya pilihan lain, selain mencari nafkah di luar rumah agar dapur terus mengepul, seperti yang mereka bilang.

Aku berjalan keluar dari dalam pantry kantor setelah membawa satu cangkir kopi panas. Aroma kopi arabika yang khas menguar di sepanjang selasar yang aku lewati.

“Kamu tidak pulang?” tanyaku, pada teman sebelah meja kerjaku, sembari meletakkan cangkir kopi di monitor komputer yang masih menyala.

“Kan nemenin kamu.” Sahut Bagas, sahabat terbaikku di kantor, sekaligus mentor yang sangat baik sejak aku bekerja di perusahaan asuransi ini.

Aku tersenyum nyengir, mendengarnya. “Sorry, kamu bikin kopi sendiri, ya.” Kataku, setelah menyeruput kopi yang masih mengeluarkan uap putih tipis. Rasa hangat – nyaris panas – langsung terasa di tubuhku yang nyaris beku karena air conditioner yang menyala tepat di tembok sebelah kananku.

“Udah biasa kamu jahatin.” Balas Bagas, lagi. Pandangannya masih fokus menatap layar komputer yang menampilkan beberapa polis asuransi.

Seperti hari-hari biasanya, kami harus bekerja melakukan issued polis asuransi sebelum deadline. Di masa pandemi seperti ini, banyak sekali pengajuan polis sekaligus klaim. Dan kami berdua adalah sepasang pegawai yang selalu bertahan hingga malam untuk menyelesaikannya. Bukan apa-apa, kami punya prinsip untuk menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan sekarang, dan jangan sampai menundanya.

“Kapan aku jahatin kamu? Aku kan baik. Buktinya, aku bawakan sarapan tadi pagi.”

Bagas akhirnya menoleh. Matanya menatapku dengan tatapan yang selalu teduh di balik kacamata ber-frame hitam yang selalu menggantung di hidungnya yang mancung. Bibirnya mengembangkan senyum, memperlihatkan deretan gigi yang putih. “Iya, aku tahu Sekar. Kamu baik banget. Sampe kadang bikin sakit perut.”

Tanganku menepuk lengannya dengan keras karena kesal, namun akhirnya kami berdua tertawa terbahak. Suaranya terdengar sangat nyaring di dalam ruangan kubikel yang sepi, dan hanya menyisakan kami berdua.

“Eh, gas. Kamu takut nggak sih, kalau tiba-tiba salah satu dari kita kena virus?” tanyaku tiba-tiba.

“Ya, takut. Apalagi, Rayyan juga masih kecil.” Jawab Bagas. Kali ini, dia sudah memalingkan wajahnya dari monitor. Tangannya sibuk membuka-buka dokumen yang menumpuk di sudut mejanya.

“Tapi, kamu masih semangat kerja.”

“Kalau aku nggak kerja, gimana aku bisa beli susu buat Rayyan? Dapur tetap harus mengepul, Sekar.” Tambahnya.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, menyetujui ucapannya. Ya, Bagas memang sudah menikah dua tahun lalu. Dia memiliki seorang putra yang harus dipenuhi kebutuhannya. Dia punya rumah yang harus dibayar cicilannya tiap bulan. Dia juga punya istri yang harus dinafkahi. Dia punya tanggung jawab yang harus dipenuhinya. Itulah alasannya tetap bertahan bekerja di kantor ini, ketika yang lain mengajukan diri untuk bekerja dari rumah. Setidaknya, ketika dia bekerja dari kantor, dia bisa mendapatkan tambahan bonus.

“Kamu sendiri, kenapa masih bertahan di kantor?” Bagas balik bertanya.

Aku menoleh sesaat padanya. Bola mataku berputar, memikirkan jawaban paling logis yang bisa diberikan pada Bagas. “Apa, ya? Mungkin, karena aku akan kesepian kalau tinggal di rumah.” Akhirnya, aku menjawab asal. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 18, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RASAStories to obsess over. Discover now