Alkisah disebuah desa kecil tersebutlah sebuah keluarga yang cukup tersohor , sebut saja sang juragan, konon katanya setengah gunung yang disa ditunjuk jari yang mengarah ketas itu adalah milik keluarga itu, jika saya lihat sekarang (2021) itu adalah anak gunung atau bukit tapi cukup tinggi jika disebut hanya bukit tapi terlalu rendah jika di sebut gunung.
Jangan tanya tahun berapa ini terjadi karena ini di ceritakan oleh ibu yang ia dapat dari mencuri dengar dan kasak kusuk para tentangga yang tak bosan membicarakan dibalik punggung sang pemilik rumah.
Didesa itu nama sang juragan sangat tersohor selain bentuk fisik yang tidak terlihat seperti orang pribumi pada umumnya , sang juragan memiliki tubuh tinggi besar ,selain itu memiliki wajah yang tampan mungkin karena warna kulitnya yang terlihat putih , ia bahagia memiliki istri dan juga anak-anak nya
Anak terbesarnya kini sudah dewasa dan sang ibu berkeinginan untuk putranya segera menikah dan di desa sebelah ada seorang kepala desa yang memiliki seorang putri, sang ibu sangat menyukai putri kepala desa bukan karena sang kepala desa memiliki kekayaan setara , kepala desa ini memang tak sekaya sang juragan yang memiliki sawah berhektar-hektar , tapi kepala desa sangat berpendidikan dan juga di segani, putri kepala desa pun terkenal memiliki attitude yang baik, cakap dalam segala hal. Lahir di keluarga terpandang bukan berarti putri kepala desa tumbuh dengan manja, di jaman itu seorang perempuan memiliki skill memasak, membuat tumpeng, membuat makan tradisional , mengurus rumah serta membaca dan menulis itu sama dengan paket komplit menantu idaman.
Sayangnya mungkin dipandangan sang putra juragan , putri kepala desa tidak cukup menarik, putri kepala desa hanya masuk dalam kategori ayu karena ia memang orang pribumi asli, bagaimana keturunan orang Indonesia asli berkulit sawo matang, rambut hitam, bermata coklat gelap, bertubuh ramping dan tidak terlalu tinggi, Sedangkan putra juragan mewarisi sisi terbaik sang ayah , berkulit putih berhidung mancung dan bermata coklat terang. Tapi apa mereka akhirnya menikah ?
Ya mereka menikah pada akhirnya, walau tak di jelaskan apa mereka mengawalinya dengan berpacaran atau tidak, asumsi saya di jaman itu sangat lumrah menikah dengan di jodohkan.
Kalian akan bertanya-tanya apakah biduk rumah tangga mereka berjalan dengan baik ? Menurut yang saya dengar mereka bersama , sang putri bukan tipikal wanita yang pandai bercakap-cakap atau memulai percakapan , pernikahan mereka kaku, sang putri kepala desa tentu saja menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik, ( kalian akan membayangkan seorang istri yang tak banyak berbicara dan penurut, ya memang seperti itu)
Sang putra juragan tidak menjalankan atau meneruskan pertanian dan perkebunan yang di kelola ayahnya , ia lebih senang berdagang, di jaman itu memang sudah ada penjaja barang walau sedikit ( beda sekarang mungkin di bilang tukang perabot, tapi di jaman itu hanya orang bermodal besar yang hanya bisa menyediakan barang-barang seperti itu, ini berlaku di desa itu ya) ia menjual dengan sistem kredit ( itulah yang saya dengar)
Ada hal yang tak bisa hilang dari sang putra , bahkan mungkin sebelum ia menikah pun , semua orang tahu kebiasaan sang putra juragan, ya ia senang main perempuan. Dan bagaimana sang istri hanya mendapati barang dagangan sang suami pulang tanpa tuannya. Sang istri pun mungkin tahu kemana atau apa yang sedang di lakukan sang suami. Putri kepala desa hanya bisa diam , ia tak pernah mengeluh atau mengekspresikan perasaannya.
Namun sang ibu juragan tak tahu apa yang dilakukan sang putra, dan bila kalian bertanya bagaimana ia menjalankan hidup sebagai mertua , ia sangat sayang kepada menantunya ini, ia bahagia saat menantunya memberikan seorang cucu perempuan. Sang ibu mertua sangat sayang karena ia menantu yang baik, pandai memasak, mengurus rumah dan juga anak. Padahal ibu mertua tak tahu sisi lain kehidupan sebenarnya sang putri kepala desa dirumahnya , kepala desa mungkin sangat sayang kepada putrinya,.walaupun memiliki pembantu hidup dengan ibu tiri tidaklah mudah. Sang putri dipekerjakan ( mungkin inilah definisi ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja) walau ada yang bekerja di rumah sang putri haruslah turut serta , seolah-olah ia sama derajat dengan para pekerja itu. ( Inilah yang saya tanyakan saat berdiskusi apakah ibu tiri sang putri sayang kepada putri kepala desa, tak ada yang tahu, kehidupan masa lajang bersama ayah dan ibu tiri tidak dijabarkan).
YOU ARE READING
Nyai ( 1 Bab Tamat) ✅
Short Storyini berisi cerita pendek true story.. cerita ini dari sudut pencerita , lebih tepatnya seperti sebuah curhat jendrenya bukan love story, sedikit klenik dan juga bercerita harta tahta dan wanita. tujuan menulis hanya sebagai hiburan dan selingan men...
