Nama lengkapnya Izayn Juyandra, kamu boleh memanggilnya Juyan atau Ijuy, tapi aku lebih suka panggilan pertama. Juyan, si laki-laki biasa yang mendedikasikan hidupnya untuk tuhan, ayah bunda, bass kesayangannya, dan aku.
Juyan, tolong baca ini saat kita sedang tidak baik-baik saja, ya.
Senja hari ini warnanya bagus. Aku suka, apalagi Juyan. Pemuda sembilan belas tahun itu sekarang sedang duduk di sampingku. Maniknya nggak lekas lepas dari fenomena semesta yang dia suka, sembari jemari kanannya menggengam jemari kiriku.
Setengah wajahnya sore ini dihiasi binar jingga, tampan. Bersyukur sekali rasanya pemuda itu sudah jadi milikku sekarang.
Semesta kami ini isinya hanya perihal ngebucin. Sebelas bulan lalu di bawah sinar indurasmi bulan Desember, Izayn Juyandra secara resmi menyatakan perasaannya dengan surat lisensi yang sudah ditanda tangani bunda kami masing-masing.
Aku mau berterimakasih untuk tuhan yang sudah meniup ruh Juyan di rahim bunda, terimakasih untuk bunda yang sudah bertaruh nyawa melahirkan Juyan ke dunia, terimakasih untuk Ayah yang sudah menabur bibit spesial edisi terbatasnya ke rahim bunda, terimakasih juga untuk September yang sudah memberi izinnya agar Juyan lahir. Ah, hampir lupa, terimakasih untuk ibu bidan yang sudah membantu bunda lahiran.
Untuk semua yang terlibat dalam tumbuh kembang Juyan, aku hanya mau berterimakasih. Anak itu sekarang sudah tumbuh jadi pemuda ganteng dan baik, sudah jadi milikku pula. Maaf untuk bunda, anak bujangnya kupinjam sebentar, ya. Bahunya lebar, mau kupakai bersandar seharian.
Juyan mungkin satu-satunya sosok laki-laki yang ku punya di dunia, aku tidak punya ayah, lebih tepatnya dia yang tidak menganggapku sebagai anaknya, tapi di sini aku tidak mau membahas ayah.
Mari kembali ke Juyan. Kurasa, cuma Juyan yang bisa buatku uring-uringan jam duabelas malam cuma karena dia kirim voice note nyanyi dengan suara lembutnya. Kurasa, cuma dia yang bisa buatku lupa cara napas setiap tubuhnya peluk aku dan suara beratnya bicara rindu. Kurasa, cuma dia yang bisa membuatku gila saat seharian dia nggak memberi kabar karena sibuk dengan urusan band-nya.
Kalau ada makna yang lebih jauh dari kata cinta, maka akan kupakai untuk mewakilkan bagaimana perasaanku untuk Juyan.
Aku jatuh hati pada pemuda yang memulai harinya dengan segelas coklat panas, aku jatuh hati pada pemuda yang menutup harinya dengan memakan kuaci sambil menatap bulan.
Juyan, selaksa rindu setiap kamu tak ada tak pernah bisa tersampaikan hanya dengan satu frasa. Juyan, selaksa rasa yang ku punya nggak pernah bisa tergambarkan dengan coretan warna.
Juyan, cukup lihat bagaimana setiap detik yang kupakai untuk tersenyum seraya menatap mata indah kamu, maka bisa kamu simpulkan kalau saat itu aku tengah jatuh cinta.
Untuk kamu yang mau membaca semestaku dan Juyan, tolong persiapkan jiwa raga. Janji untuk tidak berhenti di halaman ketiga, ya?
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini Izayn Juyandra, laki-laki kesayanganku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan ini aku, Asyelia Kanaya Ayu, perempuan kesayangan Juyan.
***
Hai, terimakasih sudah berkenan mampir dan baca bagian awal cerita ini. Dalam rangka sedang pusing liat jooyeon yang gantengnya bikin pengen dimiliki, aku akhirnya memutuskan buat nulis ini. Semoga kamu suka sama ceritaku yang masih acak-acakan ini ya.