Bagian 1

156 17 118
                                        

Halloooooo.......

Aku ngide banget ini tiba-tiba dapet pencerahan buat nulis cerita ini.

Aku harap kalian suka yaaaa sama ceritanyaaa...

Enjoooyyy....

Cast :

· Mark : Mahendra Garry Axel - "Mahen" (Yang Perkasa dan membawa ketenangan)

· Renjun : Rendi Daffin Hale - "Rendi" (Yang tersayang dan menjadi pahlawan)

· Jeno : Jenandra Reuben Saveri - "Jeje" (Matahari yang bersinar terang)

· Haechan : Hagia Darka Listu - "Hagi" (Mencintai kedamaian dan ceria)

· Jaemin : Navi Ocean Arnav - "Navi" (Yang membawa kedamaian seperti samudera)

· Bungsu : Bellova Humeera Rosalind - "Abel/Lova" (Yang terkasih, cantik dan damai seperti bunga mawar)

Wangi tempe goreng menguar mengisi penjuru rumah, siapa lagi kalau bukan Ibu yang selalu menyiapkan sarapan untuk ke enam anak-anaknya sebelum pergi ke rumah catering? Walaupun usaha catering Ibu cukup besar dan selalu masuk orderan setiap hari, Ibu dan Ayah selalu mengajarkan kesederhanaan pada anak-anaknya.

Kalau kalian berpikir enam anak apakah tidak terlalu banyak? Jawabannya adalah biasa saja, karena Ibu dan Ayah dulu percaya dengan azas banyak anak banyak rezeki dan itu terbukti. Setiap anak memiliki rezekinya masing-masing, jadi Ibu dan Ayah tidak pernah merasa kesulitan.

Bellova, seorang anak bungsu dan perempuan satu-satunya yang akrab di panggil Abel oleh keluarga dan teman-temannya, tapi beda dengan kakak ke limanya yaitu Navi yang sering memanggil dengan panggilan Lova. Katanya supaya beda dari yang lain dan juga panggilan kesayangan khusus dari Navi.

Hagi mengetuk kamar Abel dengan sedikit keras, menjadikan gadis itu semakin menggelungkan badannya di dalam selimut. Tidak lupa dengan bantal yang menutupi seluruh wajahnya.

"Enggak di kunci kamarnya, tumben ni bocah. Biasanya privacy is number wahid halah mpreeett!!" Hagi berceloteh sambil masuk ke dalam kamar Abel. Kepalanya menggeleng melihat adik gadisnya yang masih anteng dibawah selimut, padahal sekarang sudah jam 6 pagi.

"Kobel, bangun heh! Udah jam berapa ini?" Tidak ada jawaban dari Abel, yang ada hanya kakinya yang menendang-nendang selimut bergambar bymax hadiah dari Mahen.

"Kebluk ih, buru sih bangun. Sekolah neng!" Masih tidak ada jawaban dari Abel.

"Bodo ah, kesiangan tau rasa!" Oke, Hagi menyerah.

Laki-laki berkulit sawo matang itu turun menuju ruang makan dan mencomot tempe goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Menggigitnya dengan buas seakan tidak akan menemukan makanan lagi besok.

"Hanjiirrr haaannaasss (anjir, panas)" Hagi membuka mulutnya lebar-lebar dan mengibaskan tangannya berharap rasa panas itu akan menghilang dari mulutnya.

"Makanya, kalo makan tuh pelan-pelan! Rasain!" Seperti biasa Ibu hanya mengomel dengan ciri khasnya yang sudah menempel di keseharian mereka. "Adekmu mana?" Tanya Ibu yang sudah memindahkan tempe goreng ke atas piring saji.

"Abel masih bobok cantik." Bukan Hagi yang menjawab melainkan Rendi. Rambutnya masih basah dan hanya di gosok-gosok dengan handuk kecil.

"BANG HAGIIIIIII KENAPA ENGGAK BANGUNIN ABEEEEELLLLLL?????" Suara Abel menggelegar menghiasi pagi hari yang damai dengan harum tempe goreng beserta sayur asem yang aduhai. Jangan lupa sambal bawang yang akan selalu menjadi candu.

5 BrothersWhere stories live. Discover now