Setiap kehidupan, pasti ada kesusahan. Karena hidup tidak ada yang sempurna. Namun Haruto menjalani hidup yang 7x lipat lebih susah dari yang lain. Tapi ia tak menyesali apapun, karena baginya ini tugas mulia.
Di usia yang ke 42 tahun, dia dan sang belahan jiwa belum dikaruniai seorang anak. Namun itu pilihannya sendiri. Bukannya tak mau, tapi keadaan yang melarangnya.
Suaminya, Doyoung, memiliki masalah kesehatan mental. Ia hidup dengan skizoafektif. Karenanya ia harus terus mengkonsumsi obat,dan jika Doyoung hamil, obat obatan yang dikonsumsi harus dibatasi, untuk kebaikan janin. Tapi tentu saja menimbulkan masalah baru.
Ia juga orang dengan autisme, tepatnya childhood autism, dimana ia memiliki kecerdasaan normal, tapi seperti anak anak. Tentu sangat sulit membesarkan anak untuknya. Ah, mengurus dirinya sendiri saja susah.
"Huaam" Haruto tepuk tepuk pipinya, ia sangat mengantuk. Entah sudah berapa jam ia menunggu dokter datang. Dalam 2 minggu sekali, mereka rutin check up ke dokter. Sebenarnya Haruto juga seorang psikolog, profesional di dunia kesehatan mental. Tapi Doyoung butuh obat dan psikolog tidak bisa memberi obat.
"Bunuh... bunuh... bunuh..." ucap doyoung lirih, entah pada siapa. Wajahnya merah padam, nafasnya terengah, menjelaskan bahwa ia tengah terbakar api amarah. "Dasar bajingan tengik menjijikan, awas saja kalau kau bertemu denganku, akan ku kuliti hidup hidup" racau Doyoung
Haruto mendadak terbangun. Ia menoleh dan tersenyum manis kearah Doyoung.
"Hei, cantik. Anak baik tidak boleh bicara kasar begitu" kata Haruto sambil mengelus pipi Doyoung dengan penuh kasih sayang. "Aku bukan anak anak lagi, Ruto. Aku juga sudah sangat lelah!" Rengek Doyoung
"Sebentar lagi Dokter datang. Sabar ya!" Kata Haruto. Doyoung merengek seperti anak kecil.
"TUAN KIM DOYOUNG!" Panggil suster yang bertugas, kemudian dokter Asahi pun muncul.
"Maaf menunggu lama. Saya harus menangani pasien rawat inap" ucapnya. Haruto mengangguk "Saya mengerti, Dokter"
***
"Ada yang mau ditanyakan lagi, Doyoung?" Tanya Dokter Asahi diakhir sesi terapi. "Uhm... aku ingin punya anak, Dokter. Apa bisa?" Tanya Doyoung. Suasana hening seketika
"Menurut Dokter, Doyoung sendiri harus mampu mengelola emosi, karena membesarkan anak bukan perkara yang mudah. Memelihara hewan saja sudah sulit, kan? Kalau tidak sabar, akan merepotkan Doyoung sendiri" Dokter Asahi menerangkan. Doyoung mulai terisak.
"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa memberikan keturunan untul Haruto. Lalu bagaimana jika dia menikah lagi?" Bulir bulir air mata menetes di pipi Doyoung.
"Hei, siapa yang bilang aku akan menikah lagi?" Tanya Haruto. Doyoung hanya menangis terisak.
"Lagipula aku bisa membayar baby sitter untuk mengurus anakku" katanya.
"Tidak begitu, Doyoung" kata Dokter "Merawat anak harus dengan cinta dan kasih sayang. Kalau tidak dengan orang tua kandungnya, akan sangat sulit untuk tumbuh dengan baik. Kita juga tidak bisa mempercayai semua orang untuk semua hal"
Doyoung tidak menjawab, ia tetap saja menangis.
Saya memang bukan anggota pasukan Densus 88, namun saya terus berusaha menjinakan bom waktu yang sewaktu waktu dapat meledak
Watanabe Haruto
YOU ARE READING
Penjinak Bom
FanfictionHaruto memang bukan anggota satuan khusus densus 88, tapi ia hidup dengan Doyoung yang emosinya bisa saja meledak sewaktu waktu.
