"gimana? Sepi banget ni sekolah." Haechan menendang kerikil-kerikil kecil.
"Diem lu, tu kerikil kalau kena kaca bisa ketauan kita." Jeno memukul kepala Haechan di sebelahnya.
"NUNDUK." Seru Haechan menarik lengan Jeno untuk bersembunyi di balik semak-semak.
Sedetik setelahnya, satpam yang sedang berpatroli berjalan santai melewati semak-semak tempat mereka bersembunyi.
"Banyak banget ini yang jaga." Jeno melihat beberapa satpam yang berkeliaran di area sekolah, melalui celah di semak-semak.
Haechan tersenyum lebar, meregangkan otot-otot tangannya, "ini waktunya tuan muda Haechan bertindak."
Jeno menaikkan alisnya, menunggu apa yang akan rekannya itu lakukan.
"Liat nih, tutup hidung lo." Haechan memejamkan matanya, jari telunjuknya mengarah ke atas, kepulan asap datang entah dari mana menyelimuti seluruh wilayah sekolah.
"Oke, sekarang kita gerak cepat masuk ke gedung." Haechan bersiap lari, tapi dia kebingungan dengan Jeno yang diam menatapnya tajam.
"Lah ayo Jen, malah diem aja lu."
Jeno mencoba bicara tapi hidung dan mulutnya masih dia tutup dengan telapak tangan, dia akan kehabisan nafas tapi Haechan tak peka dengan kodenya.
"Hah kenapa?" Haechan mencoba memahami mimik wajah Jeno yang semakin membiru karena kehabisan nafas.
"Eh anjing lupa gw, Jen." Dengan segera Haechan tempelkan telunjuknya ke kening Jeno dengan beberapa ucapan mantra.
"HAH, BANGSAT LU. HAMPIR MATI GW." Jeno berteriak pada Haechan dengan dada naik turun menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Ampun Jen, gak sengaja lupa."
"Udah ayo cepetan, waktu kita gak banyak." Jeno berlari lebih dahulu memasuki gedung sekolah.
Mereka berdua berhasil menyelinap masuk ke ruang kepala sekolah, yang luasnya bukan main.
"Wow, ruang kepala sekolah sekeren ini." Haechan berdecak kagum, mengamati setiap sudut ruangan.
"Cepetan cari berkas pembagian kelasnya, Chan." Jeno mulai menjamah setiap sudut ruangan itu dengan teliti jangan sampai ada yang terlewat.
Haechan juga mengikuti apa yang Jeno lakukan, tapi bedanya dia sambil bersenandung kecil.
"Lo pernah interaksi sama yang namanya Junkyu gak?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Jeno.
"Pernah papasan di koridor pas pertama masuk sekolah." Ujar Haechan.
"Gw kemarin gak sengaja ketemu sama dia pas beli mie ayam." Jeno menoleh ke arah Haechan yang menyeringai tipis.
Mereka beradu tatap, "Auranya gelap." Secara bersamaan kalimat itu keluar dari mulut mereka.
"Ada beberapa dugaan sementara, kalau liat auranya itu gelap yang gelap penuh kesuraman." Haechan membolak-balik kertas di tangannya.
"Ini gak sih kertasnya?" Menunjukkan kertas itu pada Jeno yang langsung menghampirinya.
"Kita di kelas MIPA enam, kelas pojok sendiri di lantai tiga gedung lama."
Setelah mendapat apa yang mereka inginkan dengan segera mereka kembali membereskan ruangan itu seperti semula.
"Nah, kalau gini kan tenang. Gak perlu dempet-dempetan buat liat pengumuman kelas besok." Ujar Haechan berjalan santai menuruni tangga dengan Jeno berjalan di depannya.
"Tenang banget, gak perlu bangun pagi-pagi besok." Timpal Jeno.
Setelah mereka keluar dari area sekolah dan berjarak sedikit jauh dari sana, barulah kepulan asap yang membuat orang yang menghirupnya akan mematung itu hilang.
Jika kalian mengira mereka akan melakukan sabotase dan lainnya, kalian salah mereka hanya ingin melihat pembagian kelas. Emang gayanya aja kayak mau ngebom sekolah aja.
YOU ARE READING
Sisi Lain
FantasySekumpulan remaja yang di pertemukan dalam satu kelas, mereka baru menyadari jika mereka adalah sekumpulan makhluk dunia lain. Soobin: "Mending lu jadi dukun dah, Chan." Haechan: "Apa itu lari, teleportasi dong." Jaemin: "Lu mending diem, sebelum...
