Awal Pertemuan

16 3 3
                                        

Kisah ini bermula di sebuah tempat dimana pertama kali seorang Harun bertemu dengan Alisya, seorang perempuan tomboy dengan baju seragam Smp yang lusuh, topi miring dan kemeja yang tidak di masukan. Mungkin dia preman di sekolah fikirnya, Harun yang sedang menikmati tidur siangnya sedikit terganggu dengan suara teriakan Alisya yang baru pulang sekolah. "Dasar anak cewek gak dimana - mana selalu berisik" Gumam Harun siang itu, meski kini kantuknya hilang sedikit dia perhatikan Alisya di balik gordeng rumah, ya Harun tidur di ruang tamu saat itu entah kenapa siang itu terasa panas menurutnya, tidur di ruang tamu mungkin akan menenangkannya dari gundah gulana yang ia rasakan. Meskipun permukiman disini padat penduduk tapi desa ini masih sedikit asri, rumah yang berhimpitan dengan tetangga, warga - warga yang ramah, dan  pesona Alisya tadi mungkin sedikit mengusik fikirannya. "Manisnya.." Ahh apa sih yang aku fikirkan, kembali ia menggerutu sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.

Pertemuan pertama itu membuat kesan tersendiri bagi Harun. Kini meskipun cuaca tidak terlalu panas setiap siang dia lebih menikmati tidur siangnya di ruang tamu, entah karna kursi yang membuatnya nyaman atau ada seseorang yang dia tunggu di luar sana.
Tepat saat setelah adzan dzuhur berkumandang, terdengarlah suara canda tawa beberapa anak sekolah melintas di depan rumahnya, dari sekian banyak yang lewat hanya seorang perempuan yang Harun perhatikan, Alisya Pratiwi anak dari seorang guru disekolahnya, masih dengan gaya tomboynya melintas tepat di depan matanya entah kenapa saat itu ada rasa bergetar dihatinya, hanya saja setiap kali dia mengingat status dan umurnya ada rasa kecewa di hatinya, perbedaan umur yang jauh membuatnya merasa tidak akan dapat menggapainya, apalagi Alisya berstatus masih anak SMP untuk bisa dekat dengannya pun ada rasa segan, mengingat hubungan baik kaka Harun yang ternyata teman baik ayahnya Alisya, dan kenyaataan lainnya mereka bertetangga sebelah, Rumah Alisya persis di depan sebelah Kanan rumah Harun, membuat hatinya semakin ciut, walaupun hanya mengagumi rasanya itu sangat aneh, tapi Harun tidak menampik kalau dia ada sedikit Rasa pada Alisya entah karena pesonanya atau tipe Alisya inilah yang Harun suka, mengingat beberapa mantannya dahulu adalah perempuan - perempuan tomboy, yang kalau berbicara selalu apa adanya, bergaya seperti lelaki, bahkan cenderung lebih mudah bergaul dengan lelaki. Tapi melihat ketidakmungkinan inilah yang menyadarkan Harun kalau dia tidak akan bisa menjangkau Alisya.

                               🌿

Dilain pihak, jauh sebelum keluarga Harun datang, keluarga Alisya sudah lebih dulu menetap disini, Ibu Alisya yang baru kembali dari luar negeri membeli sebuah rumah pinggir jalan di Kampung Rambutan, Ibu Hani pemilik rumah sebelumnya memiliki banyak rumah yang ia peruntukan untuk anak - anaknya tapi karena kondisi keuangan saat itu, ia menjual Rumah yang di sebrang rumah yang ia tinggali. Keluarga Alisya memulai kehidupan disana saat ia kelas 1 SMP, ayahnya yang seorang Guru di SMP tempat Alisya bersekolah, Adik perempuannya masih Sekolah Dasar dan sangat dekat dengan Alisya, namanya Diana. Dan setahun Alisya di kampung Rambutan akhirnya ia memiliki seorang adik laki - laki yang di beri nama Putra. Semenjak tinggal disini keluarga ini sangat harmonis, terlihat dari kegiatannya yang setiap pagi atau sore mereka selalu menghabiskan waktu bersama di teras rumah bersenda gurau bahkan tak jarang terlihat ketika ayahnya memetik gitar, ibu Alisya yg bernyanyi dan Alisya bersama adik adiknya akan menikmati momen kebersamaan itu entah sambil bermain atau mengerjakan tugas sekolah, tak jarang para tetanggapun turut serta di acara kumpulan itu.

Hingga suatu sore, saat Alisya dan keluarganya menikmati waktu santainya di teras rumah, terlihat 1 motor mio melintas dan mereka mereka yang berboncengan melintas itu seraya menganggukan kepala tanda permisi melintas dan berhenti tepat di sebrang rumah Alisya, atau di samping rumah Ibu Hani. Rumah bercat Ungu milik tetangga Alisya, keluarga yang beberapa bulan kebelakang pindah ke Bandung karna pak Sanusi pemilik rumah tersebut kerjaannya di pindahtugaskan, rumah itu adalah rumah teman sebaya Alisya, namanya Via, mereka berkawan baik, hingga saat perpisahan terjadi, mereka sangat sedih, merasa akan sulit bertemu dan berkomunikasi, jaman itu Telepon rumah masih sangat jarang yang pasang, apalagi rumah Alisya tidak tersedia telepon rumah.
"Mungkin ini yang mau beli rumah pa sanusi, bu" Ucap Ayah Alisya, memecah keheningan mereka.
" Bisa jadi pak, tuh mereka lagi lihat - lihat rumah kayanya, kesana yuk, kita sapa barangkali jodoh jadi tetangga kita " Ucap Mama Alisya sembari berdiri dan pergi meninggalkan Alisya dan adiknya.
Dan benar saja, setelah mereka bertegur sapa, terdengar suara wanita yang terkejut setelah ketemu Ayah Alisya, ternyata yang sedang melihat - lihat rumah kosong tersebut adalah teman seperjuangan Ayah Alisya, dia guru di sekolah dasar di Kota, dan sekarang sedang melihat rumah yang akan dia beli ini, karena ternyata Dia butuh rumah yang agak besar untuk keluarganya.

Seminggu berlalu, kembali keluarga Alisya berkumpul di depan rumah, tertawa dan bercanda antara orang tua dan anak itu berlangsung, kembali motor MIO hitam melintas dan si pengendara membunyikan klakson dan berhenti di rumah kosong di depan rumah Alisya, disusul di belakangnya motor bebek dengan seorang pengendara, berkaca mata hitam dan berjaket kulit turut serta berhenti di rumah itu, Ia terlihat sibuk membidik setiap sudut rumah tersebut dengan kamera di ponsel merk Motorola keluaran terbaru itu, Alisya memperhatikan lelaki tersebut, umurnya mungkin seumuran Mamanya fikirnya, kepala 3 dan gayanya lumayan nyentrik, dengan celana jeans pendek, kacamata hitam, wow Alisya sedikit kagum dengan gayanya, siapa dia? Saat Alisya berjabat tangan untuk pertama kalinya dengan lelaki tersebut, Ayahnya menyuruh Alisya dan adiknya untuk bersalaman dengan keluarga teman Ayahnya ini, tapi karena Alisya tidak memperhatikan dia sampai tidak sadar siapakah lelaki itu.
Hingga keluarga itu pamit pulang, dan saat Alisya menyunggingkan senyum di bibirnya kepada lelaki itu, si lelaki bergaya keren itu malah tidak melirik sama sekali, pandangannya lurus kedepan pergi tanpa menoleh sedikitpun. Ada rasa kesal di hati Alisya, Sombong sekali fikirnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 16, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PENANTIANWhere stories live. Discover now