WARNING!
[Mohon sebelum melanjutkan diharapkan membaca cerita ini dengan bijak. Sebab, kemungkinan dapat menimbulkan luka, trauma hingga kembali mengingat kenangan buruk]
Jika merasakan hal yang sama tolong untuk bercerita kepada yang terdekat maupun profesional
Kamu tidak sendiri :)
🌟🌟🌟
LANGIT sedang senangnya menurunkan tangis. Seperti halnya diriku. Di dalam kamar, di atas kasur, kepala tertutup bantal. Aku menangis tanpa suara. Banyak hal yang kutangisi. Mulai dari kegagalanku sebagai anak, teman hingga pasangan.
Aku mudah sekali jatuh. Tapi, kali ini keterpurukanku menjadi yang terlama. Sudah hampir setahun lamanya. Aku bergelut dengan duka.
Hidupku berantakan. Diriku hancur. Perasaanku porak-poranda. Duniaku runtuh. Diri ini tenggelam dalam dasar laut gelap. Terlalu gelap hingga tak bisa melihat cahaya yang masuk. Terlalu sakit hingga rasanya mati rasa.
Aku lelah.
Sudah seringkali aku menyakiti diriku sendiri. Entah dengan benda maupun menyiksa diri sendiri dengan tidak makan. Aku tidak tahu. Rasanya tubuh ini kehilangan fungsinya untuk mengecap rasa. Aku benci dengan keadaan. Aku benci diriku sendiri.
Sesak di dada tak kunjung mereda. Luka-luka terdahulu masih basah karena seringkali terngiang walaupun tak ingin. Sungguh, aku kepayahan.
Bagaimana caranya kembali bernapas dengan lega?
Aku merindukan diriku yang dulu.
Penuh senyum. Penuh tawa. Penuh dengan cukup.
Kini, aku merasa tidak tahu siapa. Aku bukan siapapun. Aku tidak mengenal siapa yang ada di dalam diri ini. Aku seperti orang asing yang entah berada di dunia yang mana.
Semuanya hilang...
Raib entah dibawa kemana, dicuri oleh siapa, disembunyikan dimana. Aku siapa? Aku dimana?
Okay. Tolong, tenang dulu. Tarik napas pelan-pelan.
Rasanya sesak sekali. Seperti ada yang mengganjal namun susah sekali aku keluarkan. Sakit ini begitu menyiksa dari hari ke hari. Aku tidak sanggup menjalani esok hari.
Aku terisak lebih keras. Bantal yang menutupiku, aku singkirkan. Aku terduduk seraya menepuk dada yang terasa sakit. Kapan ini mereda?
Tuhan, mengapa hidupku harus menempuh banyak duri?
Apa benar di ujung sana kebaikan menanti?
Tuhan, aku hanya bisa berharap pada-Mu.
Air mata masih saja mengalir. Keheningan menjalar. Kekosongan melingkupi. Tidak ada jawaban dari semua pertanyaanku. Aku masih menunggu. Entah sampai kapan.
Namun, aku selalu yakin satu hal;
bahwa aku dilahirkan maka aku memiliki arti bagi kehidupan ini.
Aku masih belum tahu. Aku masih mencari. Berjalan untuk menemukan arti eksistensiku di dunia ini. Tak apa-apa dunia ini kejam padaku. Aku hanya akan mencoba berusaha melaluinya.
Ini hanya sementara bukan?
YOU ARE READING
ASA
ChickLitPernahkah kamu merasa kehilangan segalanya? Aku pernah. Aku pernah merasakan kehilangan hari-hariku, duniaku, bahkan diriku sendiri. Bagaimana bisa kamu bertahan melaluinya? Aku sendiri masih berjuang menemukan jawabannya. Mari berbagi dan menyelam...
