Suamiku maafkan karena saat ini aku tidak dapat memberikan kamu keturunan." batin Adinda Nur Pelita.
"Suamiku maafkan karena saat ini aku tidak dapat memberikan kamu keturunan." batin Adinda Nur Pelita
-------------------------------------------------
"Sayang bagaimana hasilnya. Kamu hamilkan?" tanya Surya menggebu-gebu, dengan mata yang berbinar ia ingin segera mengetahui hasilnya. Pria dengan bola mata coklat nan indah itu, memegang tangan istrinya lembut. Pengharapan itu bagai nyawa yang berhenti sejenak, tiba-tiba saja berdetak kembali. Surya ingin ada garis dua di benda pipih tersebut.
"Sudah 3 hari kan, kamu mual-mual, pasti sekarang ada dedek bayikan dalam perutmu?" timpal Surya untuk kedua kalinya.
Adinda yang baru keluar dari toilet. Hanya mampu diam, tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Bibirnya kelu, begitupun hatinya ikut terkikis saat ini.
Adinda tak sanggup menatap bola mata coklat nan indah milik sang Surya. Adinda kali ini tidak ingin lagi mengecewakan lelaki yang berada dihadapannya. Lelaki yang sudah berjuang bersamanya untuk mendapatkan malaikat kecil, selama 5 tahun terakhir.
Raut wajah pria itu sudah dapat di tebak oleh Adinda. Ada harapan yang penuh terekam jelas disana. Tentu, mata adalah jendelanya.
Adinda menahan buliran air matanya untuk tidak jatuh. Dia tidak sanggup melihat lelaki yang dicintainya kecewa lagi.
Adinda menunduk. Lemah di rasa tak mampu mengatakan apapun. Hanya sedikit menahan air mata takut terjatuh tanpa aba-aba.
Surya mengalihkan tangannya yang semula menggenggam tangan istrinya menjadi mengelus-elus perut Adinda. Semakin hancur perasaan Adinda kini. Butiran bening itu, mendarat ke pipi indahnya.
"Kenapa menangis dek, terasa sakit ya Mas pegang perut dek Dinda." Surya menyadari Adinda sedang menangis. Air mata Adinda tak sengaja jatuh di tangan Surya. Adinda tak menjawab, dia hanya menepis tangan suaminya. Semakin bingung Surya melihat tingkah istrinya.
Surya pun merengkuh tubuh Adinda yang ringkih di dudukkannya di kursi makan keluarga yang ada di dapur. Surya berjalan mengambil air putih dan menyodorkan ke mulut istrinya. Adinda yang menatap kosong ke arah dinding putih bersih, hanya dapat meneguk sedikit demi sedikit air putih itu. Dia tak sanggup menoleh ke arah suaminya. Surya mencoba menenangkan Adinda agar dia mau berkeluh kesah pada suaminya.
"Aku gagal lagi mas," Kini Adinda mulai berani mengucapkan satu kalimat dari mulutnya. Adinda meletakkan gelas itu ke meja dan menatap Surya dengan penuh kesedihan.
Surya mengelengkan kepalanya.
"Kamu tidak gagal sayang.... Kam...," Belum sempat Surya melanjutkan ucapannya.
"Kamu mandul," sambung perempuan yang berjalan kearah Adinda dan Surya. Dia adalah Ibu Maya, mertua dari Adinda, dia tak suka sekali dengan Adinda. Bukan, hanya karena Adinda tidak memiliki keturunan sampai sekarang. Tapi juga karena Adinda tidak sekasta dengan keluarga besarnya.
"Benar yang di katakan Ibu," sambung Rini adik kandung Surya, mengikuti langkah kaki Ibu Maya dan berdiri di samping Ibunya, sambil melipat tangannya di dekat dada.
"Ibu.... Rini...!!" Surya kini menaikkan satu oktaf suaranya.
.
.
.
Readers. Jangan lupa like, koment, subscribe serta ulasan ya.
Terimakasih telah menghargai karya penulis ✍️💕💕
YOU ARE READING
Penantian Garis Dua
RomanceAdinda seorang perempuan yang terus berusaha untuk memiliki anak. Mulut pedas dari mertua dan iparnya selalu menjadi bumerang dalam hidupnya. Tetapi Adinda tidak akan menyerah. Karena ada Surya suaminya yang selalu membela dan memberinya kekuatan di...
