I

962 59 2
                                        

Setiap harinya, Dahyun selalu menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Segala jenis buku dibaca olehnya kecuali buku berisikan tentang kata-kata mutiara yang banyak digandrungi oleh para remaja.

Ia sedikit terusik dengan banyaknya peminat buku-buku itu karena menurutnya, semua orang dapat menciptakan kata-kata mutiara mereka sendiri tanpa perlu membeli buku tersebut.

"Kebahagiaan setiap orang beda-beda Dahyun, kamu gak boleh mikir kayak gitu." ungkapnya sembari menggeleng pelan guna mengenyahkan pikiran negatifnya barusan.

Setelahnya, Dahyun kembali memusatkan kedua matanya pada buku yang tengah berada di dalam genggamannya saat ini. Buku berjudul Keabadian Setelah Kematian itu tidak terlalu tebal namun sungguh memikat perhatiannya ketika seminggu yang lalu dirinya mengunjungi toko buku langganannya.

"Keabadian yang sesungguhnya ya..." Dahyun tersenyum getir, buku itu memang sangat cocok untuk dirinya.

"Aku harus bilang apa ya sama dia..." gumamnya lagi sambil menghela napas berat.

Dahyun sungguh berharap agar orang itu tidak pernah tahu akan sakit yang dideritanya sejak lama. Siapa saja, asal jangan Mina.

Ketika dirinya tengah berlarut dalam pikirannya sambil memandang sendu buku yang tengah dipegang, bel rumahnya berbunyi secara tiba-tiba.

Dahyun terdiam sejenak, berusaha memastikan bahwa bunyi bel itu bukanlah imajinasinya. Setelah dirasa memang bukan khayalan, Dahyun bergegas menyembunyikan buku tersebut kemudian melangkahkan kakinya mendekati pintu utama guna melihat siapakah gerangan sosok yang mengunjunginya.

Pada saat pintu rumahnya terbuka, Dahyun dibuat terkejut dengan sosok yang berada di hadapannya saat ini.

"Kak Mina?"

"Hai." balas Mina sembari melambaikan tangannya di udara. "Aku bawa makanan nih, ayo kita makan siang bareng."

Tanpa mempedulikan wajah bingung milik Dahyun, Mina segera menarik tangan mungil sang pemilik rumah itu menuju meja makan setelah dirinya menutup pintu utama.

"Kamu duduk aja ya, biar aku yang nyiapin semua peralatan makannya." katanya pada Dahyun, seolah-olah ialah yang memiliki rumah tersebut.

Tidak sampai satu menit setelah dirinya beranjak ke dapur, Mina sudah kembali dengan membawa peralatan makan hanya untuk Dahyun seorang.

"Loh, kak Mina gak ikut makan?" tanya Dahyun, merasa bingung mengapa Mina membawa peralatan makan hanya untuk dirinya.

"Aku masih kenyang." jawab Mina sembari tersenyum manis.

Mendengar itu, Dahyun kemudian merengut masam. "Tadi bilangnya mau makan bareng..." gerutunya di dalam hati.

"Kalau masih kenyang, ngapain kak Mina ke sini?" tanyanya kembali.

"Aku ke sini karena mau lihat kamu makan siang."

"Jarak kantor sama rumahku kan jauh kak, emang sempet nanti balik ke sananya lagi?" tanya Dahyun merasa khawatir pada sosok di depannya itu.

"Kamu tenang aja, aku udah izin kerja setengah hari kok."

Dahyun sontak terdiam tidak mengerti. Mengapa Mina mengorbankan waktu berharganya hanya demi melihat dirinya makan siang? Mengapa pula Nayeon—sang mantan bosnya—dengan mudah mengizinkan Mina untuk datang ke sini tanpa memberitahunya terlebih dahulu?

"Aku tahu akhir-akhir ini kamu lagi banyak pikiran. Maka dari itu, aku ke sini mau nemenin kamu." kata Mina lagi pada sang pujaan hatinya itu. Kedua tangannya dengan segera menggenggam tangan milik Dahyun lalu menatap mata perempuan yang ia cintai dengan segenap hatinya itu.

I Choose to Love YouHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora