"Sebenarnya dia itu bodoh,
atau ini lah cara Cinta bekerja?"
-(Arini Catherine Aurora)-
--------------------------------------------------
"Hufttt.. Akhirnya istirahat juga." Arini mendudukkan diri di kursi kantin.
"Arin! Ini giliran lo yang mesen." Cetus Naya menatap kesal Arini yang langsung duduk begitu saja.
"Adel aja noh, biar bisa liat crush nya dia." Suruh Arini
"Eh iya ya, bener tuh Rin, duh jadi semangat gue." Ujar Adel mengebu-gebu. "Yaudah biar gue aja. Kek biasa kan?" Adel meninggalkan Arin dan Naya tanpa mendengarkan jawaban keduanya.
Tak..
"Duh.. " Ringis Arini setelah tangan lentik Naya mendarat indah di kepalanya.
"Bego banget sih, lo."
"Apalagi sih Nayaa, Ya Allah salah mulu gue." Geram Arini
"Lo tu yang kenapa, kasian tau si Adel." Sungut Naya
"Kasian apanya? Orang dia mau ketemu crush nya, yaudah sekalian aja." Celetuk Arini ringan
"Nanti kalo dia liat si crush nya sama do'i gimana?" Sentak Naya membuat Arini memejamkan mata sejenak.
"Yaudah, biarin aja. Lagian nih ya, gue tanya sama lo, emang pernah Adel dengerin kita? Hampir 3 tahun Nay, T-I-G-A." Tekan Arini seraya memamerkan ketiga jarinya. "Pernah omongan lo atau gue di denger untuk berhenti? Nggak kan? Lo tau kan Nay kalau dia sendiri bahkan udah tau tuh cowo punya cewe, tapi masih aja ngarep. Terus gue harus apa, selain biarin apa yang mau dia lakuin." Ujar Arini emosi.
"Rin, gue kasian sama dia." Lirih Naya, seraya menatap Adel yang sedang mengantri pesanan. Tak jauh dari tempat Adel, ada sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau bersama seraya menikmati makanan.
Arini mengikuti sorot mata Naya lalu menghembuskan nafas pelan. Dapat mereka lihat bahwa Adel juga menatap kearah dua orang kekasih itu. Bahkan mereka juga menyadari perubahan mimik wajah Adel.
"Sama. Sebenarnya, dia itu bego atau ini adalah cara CINTA bekerja?" Arini kembali menghadap Naya.
"Dia nggak bego, cuma bodoh." Ujar Naya
"Yuhuuuu... I'm coming." Adel kembali dengan membawa mampan berisi 3 mangkok mie ayam.
"Minum nya mana?" Tanya Naya
"Eh gue lupa Nay. Astaghfirullah" Adel menepuk kepalanya pelan.
"Sekalian benturin kepala lo di tembok noh." Ujar Arini.
"Kan gue lupa Rin, elah. "
"Apa sih yang lo inget? Padahal cuma mie ayam sama es teh doang" Ucap Naya seraya memakan mie ayam
"Noh si Crush gue." Tunjuk Adel menggunakan dagu.
Arini mengikuti arah yang ditunjuk Adel, sedangkan Naya, enggan untuk menoleh. Menurut Naya, itu sangat menyakitkan, meski dia tidak menyukai pria itu, tapi tetap saja itu mampu melukai hati sahabat kecilnya.
"Enak banget dia ketawa ketiwi sama si mbak saingan. Putus mampus." Lanjut Adel kesal.
"Heh malah do'ain yang enggak-enggak." Tegur Naya.
"Mending lo pesen minum deh, dari pada ngurusin hubungan orang." Putus Arini
"Ck.. Iya iya."
.....
Bel pulang telah berbunyi beberapa menit lalu. Suara bising sepeda motor memenuhi halaman pakir Bina Jaya.
"Rin Nebeng dong. Eh liatin apa sih? " Adel menatap Arini lalu mengikuti sorot mata Arini.
"Noh liat crush lo," Telunjuk Arini menunjuk sepasang kekasih yang sedang berboncengan.
Adel tersenyum melihat itu. Bohong jika dia tak terluka, tapi dia bisa apa? Menghancurkan hubungan mereka, Adel tak seberani itu. Lagi pula Adel hanya orang baru yang menyukai pria itu. Iya baru, baru tiga tahun maksudnya.
"Masih mau ngarep?" Tanya Arini membuyarkan tatapan Adel.
"Masih lah, selagi janur kuning masih lurus." Ujar Adel lalu tertawa. Entah apa yang lucu Arini pun tak mengerti.
"Del, udah ya." Pinta Arini lirih
"Nggak ah, mau lanjut." Kekeh Adel seraya memakai helm yang diberikan Arini.
"Sampai kapan Del? Apa lo nggak capek?" Tanya Arini menatap Adel dalam.
"Kayak nya kalo ngobrol nya di taman seru nih. Apalagi sambil makan eskrim dan Arin yang belanja." Canda Adel mencairkan suasana.
Arini menghiraukan perkataan Adel. Setelah Adel naik, sepeda motor itu pun melesat membelah jalan raya hingga sampai di sebuah taman tak jauh dari rumah Adel. Mereka duduk dibawah pohon. Melihat beberapa anak-anak yang sedang asik bermain.
"Del, lo udah tau namanya?"
Adel diam tak menjawab pertanyaan Arini. Tanpa dijawab pun, Adel rasa Arini sudah mengetahui jawabannya.
Keadaan kembali hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sayang kamu jangan usil."
Baik Adel maupun Arini menoleh kesumber suara. Terlihat jelas dimata mereka ada seorang gadis dan seorang pria yang sedang bercanda ria. Bahkan sang gadis berkali-kali tertawa lepas saat tubuh nya di gelitik sang pria.
"Lihat Del, lihat dengan jelas. Lalu rekam di otak lo dan simpen yang bener. Biar bisa lo putar tiap hari" Ujar Arini menatap Adel yang masih menatap sepasang kekasih itu.
"Del, lo selalu bilang sama gue mau nikung dia di sepertiga malam. Tapi nyatanya bulshit. Bahkan sampe sekarang pun lo belum tau namanya." Celetuk Arini
Adel mengalihkan penglihatan nya ke Arini. Menatap Arini dalam, seolah-olah mengatakan apa yang dikatakan Arini itu benar. Omongannya waktu itu omong kosong belaka.
Adel kembali menatap sepasang kekasih tersebut. Tidak. Lebih tepat nya ia menatap pria yang sedang menggandeng tangan gadis lain, pria yang telah meraja dihatinya selama kurang lebih tiga tahun ini.
"Ayok Rin, pulang." Adel bangkit lalu menepuk-nepuk pelan rok sekolah nya.
"Nggak mau samperin?" Goda Arini
"Eh, boleh-boleh."
Arini mendelik kaget mendengar ucapan Adel.
"Gila lo?"
"Lah tadi nawar." Balas Adel
"Bercanda bego." Arini menoyor kepala Adel, lalu mereka terkekeh bersama.
Mereka melangkah pergi tanpa menyadari pria yang mereka bicarakan tadi menatap kepergian mereka.
Bersambung...
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
YOU ARE READING
Adelvin
Teen Fiction"Rasa ini di luar kendali ku, tapi menyukai mu kurasa itu hak ku." (Adelina S.M) ......... Kisah singkat seorang gadis yang mencintai seorang pria yang sudah memiliki kekasih dan bahkan terlihat sangat menyayangi kekasih nya. ... Start: 8 Des 20...
