Kisah ini dimulai dari bertemunya dua anak-anak di taman bermain. Mereka yang awalnya hanya bertemu, berteman, dan bermain bersama memutuskan untuk mengikrarkan sebuah janji untuk akan bersama selama-lamanya. Mereka berdua melakukan hal yang biasanya disebut dengan pinky promise dimana dua orang akan mengaitkan jari kelingking sambil mengikrarkan janji. Gadis kecil tersebut bernama [Fullname] yang saat itu berusia 6 tahun bersama seorang anak laki-laki berusia 8 tahun bernama Suna Rintarou.
Beranjak remaja, [Name] merasa ada yang aneh saat dirinya bertemu dengan Suna. Dia merasakan dadanya berdetak lebih cepat saat berada dekat dengan Suna. Gadis polos ini tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya.
Pada saat dia bertanya kepada orangtuanya, pada saat itulah ibunya menjelaskan kalau itu merupakan salah satu tanda bahwa dirinya sedang menyukai seseorang. Ibunya juga menjelaskan beberapa tanda lain yang menandakan saat seseorang sedang menyukai orang lain seperti selalu memikirkan orang tersebut, merasa lebih menyayanginya, merasa nyaman dan aman saat berada di dekat orang tersebut, dan lain-lain.
Setelah mendengar penjelasan dari ibunya, [Name] pun termenung apakah Suna juga merasakan hal yang sama? Apakah Suna juga menyukainya? Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
Hal yang [Name] mengira akan berakhir bahagia kandas begitu saja di mana ia mulai batuk-batuk hingga akhirnya mengeluarkan darah. Saat [Name] memberitahu apa yang telah terjadi padanya kepada kedua orangtuanya, mereka bergegas berangkat
ke rumah sakit untuk mengecek keadaan [Name].
Setelah berkonsultasi dengan dokter, dokumen hasil pengecekan kesehatan [Name] pun keluar. Di saat itulah [Name] ingin sekali berteriak mengapa ia harus mengalami ini, terkena kanker paru-paru. Kanker paru-paru tersebut sudah mencapai stadium 3 karena tidak ditangani lebih awal.
[Name] menyembunyikan fakta bahwa dia mengidap kanker paru-paru ke semua orang termasuk Suna. Ia tidak ingin Suna meninggalkannya karena memiliki sahabat
yang berpenyakitan. [Name] terus berusaha keras untuk tidak batuk-batuk di depan Suna.
Sakit yang [Name] rasakan semakin bertambah pada saat Suna datang menemuinya seperti biasa tapi kali ini dengan seorang gadis di sampingnya. [Name] sendiri kenal dengan gadis tersebut yang bernama Park Hana, seorang gadis asal Korea Selatan yang pindah ke sekolah mereka. Tidak, bukan karena Suna datang
dengan gadis itu yang menjadi alasan mengapa [Name] merasa sakitnya semakin bertambah melainkan karena Suna mengenalkan gadis di sampingnya itu bukan hanya sebagai seorang teman sekelas tetapi juga sebagai kekasih.
Siapa yang tidak sakit saat mendengar orang yang kita sukai telah memiliki kekasih? [Name] tentu merasa sakit tapi ia harus menyembunyikan sakitnya itu dengan sebuah senyuman dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Hana berjabat tangan.
Berbulan-bulan telah [Name] lewatkan, berbulan-bulan itu juga Suna jarang
menemaninya. Suna yang lebih memilih untuk menemani kekasihnya. Hal itu membuat hubungan di antara kedua sahabat tersebut menjadi renggang.
Selain itu, penyakit yang dialami [Name] juga semakin parah di mana ia tidak mau menjalani kemoterapi yang biasanya akan merontokkan rambut. Ia tidak ingin harus memakai kupluk pada saat Suna datang. Ia tidak ingin Suna curiga. Ia sangat tidak ingin Suna meninggalkan. Hatinya sungguh ingin berteriak mengapa takdir begitu jahat dengannya.
Sampai akhirnya, ia memilih untuk menyerah. Menyerah dalam terus bertahan hidup melawan penyakit yang ia alami. Menyerah dalam terus berjuang demi Suna. Ia memilih untuk menunggu waktu di mana ia akan bebas. Bebas dari dunia yang kejam ini, dan bebas dari rasa sakit yang telah ia alami. [Name] memutuskan untuk menulis sebuah surat yang ditujukan untuk orang-orang yang ia sayangi termasuk Suna.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan sebuah berita duka. Telah berpulangnya saudari [Full Name] kepada Yang Maha Kuasa karena penyakit kanker paru-paru yang telah [Name] lawan selama ini. Mendengar berita tersebut, Suna terkejut, benar-benar terkejut dan bingung. Mengapa sahabatnya itu selama ini tidak pernah bercerita bahwa dirinya mengidap kanker paru-paru? Mengapa ia baru tau pada saat sahabatnya itu telah pergi? Mengapa ia selama ini tidak sadar sahabatnya itu sering menutup mulutnya sambil terbatuk-batuk? Ia merasa bodoh sekali tidak menyadari selama ini. Sahabatnya telah melawan penyakitnya itu selama ini. Seharusnya ia berasa di sampingnya dan menemaninya. Mengapa penyesalan selalu datang terakhir?
Suna memutuskan untuk mengunjungi rumah [Name] yang ia telah lama tidak ia datangi. Melihat semua orang yang berada di dalam rumah itu memakai baju hitam. Hatinya merasa tambah sakit saat melihat adanya sebuah peti. Peti yang berisi seorang gadis yang telah menjadi sahabatnya selama ini. Saat bertemu dengan ibunya [Name], ibunya tersebut memutuskan untuk memberi surat yang telah dititipkan oleh [Name] pada saat-saat akhir. Suna hanya terdiam dan menerimanya, memutuskan untuk membacanya pada saat ia pulang.
Suna pulang dengan hati yang sedih mengingat ini akan menjadi kali terakhir ia bertemu dengan sahabatnya dikarenakan [Name] akan dimakamkan pada keesokan harinya. Ia memutuskan untuk membaca surat yang ditulis oleh [Name] Surat berwarna biru laut yang bertulis “Surat dari [Name] hanya untuk Suna Rintarou” yang menurutnya lucu. Suna membuka dan membaca isi dari surat itu yang isinya
To: Suna Rintarou
Hai kamu, iya kamu.
Orang yang mendapat surat ini.
Mungkin surat ini baru dapat kamu baca di saat aku sudah tiada.
Maaf aku enggak pernah kasih tahu tentang penyakit ini padamu. Aku tidak ingin terus-menerus merepotkanmu.
Kamu memiliki kehidupanmu sendiri.
Selamat ya atas hubunganmu dengan Hana. Semoga kalian terus langgeng dan bahagia bersama.
Semoga bisa menempuh ke hubungan yang lebih serius pada saat lulus nanti.
I just want to remind you to keep smiling and don't be sad.
Your happiness is my happiness too.
Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.
I just want to say I love you for the last time. Salam,
[Full Name]
Suna menangis tersedu-sedu saat ia telah selesai membaca surat dari [Name], dari sahabatnya, dari orang yang ia sukai. Orang yang ia sukai? Iya, selama ini Suna juga menyukai [Name] diam-diam karena tidak ingin merusak hubungan mereka. Suna awalnya ingin menghapus perasaannya terhadap [Name] karena ia yakin [Name] hanya menyukainya hanya sebatas seorang sahabat tidak lebih yang tanpa ia sadari hal itu telah menyakiti perasaannya dan juga perasaan [Name]. Ia sungguh menyesal karena tidak jujur lebih awal mengenai perasaannya.
End.
--------------------------------------
Haii, ∩˙▿˙∩
Dikarenakan narasi ini merupakan tugas cerpen dari sekolah mohon dimaklumi kalo ada yg salah nama. (;∀;)
Bisa dikasih tau jugaa.
Makasih yg sudah menempatkan waktu untuk membaca narasi ini.
--------------------------------------
YOU ARE READING
Surat Terakhir || Suna Rintarou
FanfictionSuna Rintarou x Female Reader Oneshot [Name] merupakan teman kecil dari Suna Rintarou. Beranjak remaja, tanpa [Name] sadari ia memiliki perasaan terhadap Suna. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa bersamanya karena penyakitnya. [Name] terus-menerus meny...
