[1] Awalan

2 0 0
                                        

Prangg

Sebuah piring terlempar hampir mengenai kepalaku, Dira hanya bisa terdiam ketika orang itu sedang dalam puncak emosinya dan melampiaskan semua kemarahannya. Kapan ini akan berakhir?

"Kenapa sih mama harus punya anak yang tidak berguna seperti dirimu? Kau lihat adikmu itu, dia baru berumur 9 tahun, tapi sudah banyak dikenal oleh orang-orang, kau mau malu-maluin keluarga kita? Kau lupa kita dari keluarga mana hingga kau seenaknya seperti ini? Jawab mama!" Ucap mama emosi

"Maaf" jawabnya

Dira hanya bisa meminta maaf, karena semua ini bukanlah kemauannya, ia juga iri dengan adiknya yang sudah maju selangkah darinya. Dia hanya bisa memohon, tolong berikan waktu untuk istirahat sejenak.

"Sudahlah, masuk ke kamar sekarang! Kau tidak kuberikan makan malam, jangan keluar dari kamar seenaknya, kau mengerti?" Tegasnya

"Iya ma" jawab Dira sambil meninggalkan mamanya di dapur

Dari kamar, masih terdengar suara mama yang tidak terima dengan semua ini. Satu-satunya tempat yang membuatnya tenang adalah di kamar, tapi kamar yang tidak lebih baik dari kamar seorang pembantu. Dira pun berbaring sebentar dan hanya bisa menangis.

☘️☘️☘️

Namanya Dira, Dira Hilda Sugandhi. Sekarang berumur 12 tahun, 3 tahun lebih tua dari adiknya, Indah Nia Sugandhi. Dari nama belakangnya pun semua orang pasti tahu, bahwa mereka adalah anak dari seorang musisi yang terkenal, Aryo Sugandhi dan pelukis terkemuka, Ratna Sugandhi.

Adiknya menuruni bakat Aryo, ayahnya, di umur 5 tahun dia sudah mahir bermain biola, di umur 7 tahun sudah bisa bermain piano, dan 9 tahun sudah turun di berbagai orkestra menemani ayahnya.

Terkadang ia berpikir, apakah itu masuk akal? Umur yang seharusnya sedang di masa-masanya untuk bermain, malah dihabiskan untuk mengikuti orang dewasa seperti itu. Tapi itu adalah kenyataannya. Dira, kenapa kamu tidak mempunyai bakat seperti keluargamu sih? Pertanyaan yang selalu ia pikirkan.

Tok..tok..tok..

Terdengar suara ketukan pintu dan samar-samar suara yang tidak asing di telinga

"Kak, boleh aku masuk?" Ucapnya dari balik pintu

Dira pun bergegas mengusap air matanya dan membukakan pintu untuknya. Dia terlihat lelah. Berarti ayah sudah pulang, semoga mood nya sedang baik-baik saja, pikirnya.

"Mata kakak merah, kakak nangis ya?" Tanya-nya

"Ah ngga kok dek, cuma kelilipan" jawabnya sambil menunduk

Indah adalah orang yang paling bisa mengerti kakaknya, dia selalu peduli dengannya walaupun terkadang dia diejek teman-temannya gara-gara mempunyai kakak yang tidak memiliki bakat sama sekali. Dira seringkali merasa bersalah, tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa.

"Andai kakak punya bakat, aku gabakal menderita kayak gini, ini semua salah kakak" ucap Indah tiba-tiba

Sebuah kalimat yang baru pertama kali Dira dengar dari mulut adiknya yang mungil itu. Ia pun mengangkat kepala dan melihat wajah adiknya yang memberikan tatapan yang tajam dan penuh kebencian.

"Apa dek? Barusan kamu bilang apa? Tanyanya panik

"Hah? Setelah tidak punya bakat, kakak ternyata tidak punya telinga juga ya? Dengar ini baik-baik ya kak, Indah tuh capek diejek terus sama teman-teman Indah, kenapa punya kakak yang tidak berbakat seperti kakak. Indah capek kak, kenapa sih kakak harus ada di keluarga ini?" Jawab adiknya kesal

Degg

Sakit tapi tidak berdarah. Mulut semungil itu ternyata bisa mengeluarkan kalimat yang bahkan lebih menyakitkan dari kalimat yang diucapkan oleh mama biasanya. Tanpa sadar Dira menangis dan menatap wajah penuh kebencian dari adiknya. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku selemah ini?

"Indah, kenapa kamu masuk di kamar yang menjijikkan ini? Kamu mau kakakmu menyebarkan virus tidak punya bakatnya itu kepadamu? Keluar sekarang!" Ucap Aryo yang tiba-tiba masuk di kamar Dira

"Hei kau! Apakah kau tidak punya malu? Harus berapa kali ayah beritahu, jangan pernah membawa adikmu ke kamar ini! Ayah tidak mau adikmu terpengaruh oleh kakak yang tidak berguna seperti mu! Aku tidak tahan lagi, sekarang kemasi semua barang-barang mu, aku akan membawamu ke bibimu itu." Lanjutnya

Dira mendongak, bibirnya gemetar, air mata pun tidak berhenti keluar. Dira diusir oleh ayahnya sendiri. Ke tempat bibi? Bukankah tempat itu sama saja dengan rumah ini? Aku akan makin sengsara jika kesana.

☘️☘️☘️
TBC
.
.
.

Kira-kira Dira bakal diusir ga ya? Apakah Dira melawan atau tetap menuruti kemauan ayahnya itu?

Dira dibayangan author

Indah di bayangan Author

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

Indah di bayangan Author

Indah di bayangan Author

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.


Aryo dan Ratna dibayangan author
(Gambar diambil ketika melahirkan Indah)

Terima kasih sudah mampir di bab 1Semoga suka dan jangan lupa untuk di vote ya, makasii✨

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

Terima kasih sudah mampir di bab 1
Semoga suka dan jangan lupa untuk di vote ya, makasii✨

19.10.2022
08:21 WIB

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Oct 19, 2022 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Diraku Histórias para pegar e não largar. Descubra agora