01

384 32 0
                                        

"GARAAAA" Seorang cewe dengan pakaian yang terbilang cukup ketat, wajah dengan make up menor berlarian kecil ke arah kantin.

"Akhirnyaaaa aku dapatt bembeng yang ada gambar doraemon nya itu looh. Gemoy bangett kann" Ia menunjukkan jajanan box itu ke arah seorang lelaki yang kini sedang menjadi pusat perhatian karena cewe ini.

"Hm."

"Kamu mauu gaaa???"

"Gausah, makan sendiri aja"

"Seriusan gamau?" Argara kembali menggeleng lalu ia memberikan tempat duduk ke Feby di dekat nya.

Feby langsung saja duduk dan membuka dengan gembira jajanan itu. Ia begitu gembira tanpa perduli dengan tatapan benci cewe lain karena ia duduk dengan Argara.

"Apasi? Lebay banget gituan doang udah kesenangan. Ga caper ga Feby" Sinis para siswa lain.

"Maklum lah, mybe karena dia jadi pacar nya Argara jadi bangga gitu? Padahal Argara muka nya udah ilfil banget"

"Cakep kaga, kaya lonte iya. Ups malu-maluin banget"

"Heran sama Argara, mau banget punya cewe kaya gitu modelan nya"

"Di santet kali. Muka nya kan kaya dukun" Tawa mereka tergelak.

"Lebih mirip boneka santet squid game si" Ucap mereka lagi.

Semua kini membicarakan Feby, tidak jarang juga Feby mendengar hal ini. Setiap hari, bahkan setiap saat.

Namun apa peduli nya? Yang mereka lihat kan hanya penampilan seseorang dari luar saja.

Dasar beruk!

"Mau kemana?" Tanya Feby cepat ketika Argara dan yang lain sudah bangkit dari duduk nya.

"Mau basketan. Lu disini aja"

"Terus aku di tinggal di sini?"

Argara berdecih malas. Ia sangat tidak suka jika Feby ikut ke lapangan dan hanya mengganggu konsentrasi tim karena jeritan berisik nya.

Apalagi jika Feby menjadi pusat perhatian lain karena selalu mencari perhatian ke anggota basket lain nya.

Menjijikkan.

"Balik ke kelas. Lagi panas di lapangan, nanti lu pusing"

Feby tersipu saat Argara mengucapkan kata-kata perintah itu. Bagaimana tidak? Ia seperti mendapatkan perhatian dari kekasih nya.

Lihat ini para monyet! Mulut kalian berbusa sampe jadi kencing beruk pun, Argara tetap mencintai Feby. Gaakan ada yang merubah apapun! HAHA.

"Oke! Aku balik ya. Kamu jangan lama-lama latihannya, nanti kamu kepanasan" Argara mengangguk malas. Feby melambai tangan dan menghilang dari balik pintu kantin.

"Akhirnya dia pergi juga" Helaan nafas terdengar dari Tori, salah satu teman tim Argara.

Yang lain tertawa mendengar hal itu. Bahkan Argara juga berfikir demikian. Rasanya menyenangkan benalu itu pergi jauh-jauh dari nya.

Mereka pergi ke arah lapangan untuk latihan di pertandingan 2 bulan yang akan datang.

.

"Argara!! Ayo pulang sayang" Jerit Feby hingga membuat seisi kelas tersebut menjadi menatap nya.

"Hah dia lagi"

"Lama lama kuping gue yang perlu di congkel pake golok. Berisik amat ni nenek lampir"

"Feby pasword nya? GA CAPER GA FEBY" Ucap para cewe di sana hingga membuat Feby menatap mereka kesal.

"Ngaca deh lo pada! Jelek semua pada bilang gue caper. Ga mampu beli? Nih gue bayar sekalian harga diri lo!" Ucap Feby pedas sambil mengeluarkan kartu kredit nya.

Para cewe lain hanya diam sambil tertawa kecil. Bagaimana mungkin Argara seorang most wanted lebih memilih pacar ongsokan ini. Dasar tolol.

"Ayo." Seperti tuli, Argara tidak perduli dengan perkelahian kecil tadi dan hanya diam tanpa bersuara. Malas saja ikut campur pada perkelahian wanita, bisa bisa rambut nya yang hilang dari kepala nya.

"Ayo sayang" Ucap Feby senang dan merangkul lengan Argara.

Mereka berjalan ke arah parkiran motor Argara. Saat naik motor, pinggang Argara terus di peluk oleh Feby dan rasanya sangat menyesakkan. Ingin rasanya Argara memutusi cewe merepotkan ini.

"Garaaa aku pusiiing" Ucap Feby lebay.

"Ayo pulang."

"Gamau! Mau kerumah sakit aja"

"Lo pusing doang ke rumah sakit?"

"Kan bisa aja itu penyakit bahaya"

Dengan helaan nafas panjang dan berat akhirnya Argara mengantar Feby ke rumah sakit yang lumayan besar di sana.

Namun saat Feby turun dari motor seseorang menelfon Argara.

"Kenapa?" Tanya Feby setelah Argara mematikan telfon nya.

"Sory, Sia lagi sakit gue harus nemuin dia. Lo pergi periksa sendiri aja"

"Sia? Cewe munafik itu? Ngapain kamu temuin dia, cewe kamu itu aku. Aku juga sakit!"

"Udah lah, lo kan cuma pusing doang. Sia sakit parah, dia butuh bantuan gue. Gue pergi ya, pulang naik taksi aja" Ucap Argara sambil memakai helm nya lalu pergi meninggalkan Feby sendiri.

Ia meninggalkan Feby yang tengah mencak mencak sendirian.

"Argaraaa!! Kamu jahat bangeet" Feby hampir ingin menangis, namun tiba-tiba saja kepala nya semakin berdenyut dan menyebabkan ia terjatuh tidak berdaya.

Seorang satpam datang dan meminta bantuan kepada para medis dan membawa Feby ke IGD.

*

Argara memarkirkan motor nya di halaman rumah sederhana. Ia melepaskan helm dan mengetuk pintu rumah kayu di sana.

"Argara? Kamu sudah datang?" Ucapan seorang gadis manis yang tersenyum ceria.

"Gimana kabar lo? Udah mendingan?" Tanya Argara lembut. Ia mencoba untuk menempelkan punggung tangan nya ke kening Sia.

"Udah lumayan kok. Tapi masih pusing banget" Ucap Sia manyun.

"Iya lo bakal sembuh kok. Nih gue bawakan bakso buat lo" Argara menyodorkan plastik yang berisi bakso kuah.

"WAAA! Bakso!!" Ucap semangat Sia. Ia menyuruh Argara masuk ke dalam rumah dan berlari ke dapur untuk memasukkan bakso ke mangkuk agar bisa di makan bersama.

"Omong-omong Feby kemana?" Tanya Sia sambil sibuk memakan bakso.

Argara yang sedang mengupas kulit buah melirik Sia. "Dia lagi di rumah keluarga nya."

Sia mengangguk mengerti.

"Feby beruntung banget ya punya pacar kaya kamu. Perhatian, dan juga pengertian"

"Udahlah, gausah di ngomong yang engga-engga. Sekarang lo makan itu terus minum obat nya dan makan buah ini. Abis itu istirahat ya"

Sia menggaguk, wajah nya sudah memerah karena perhatian dari Argara.

Ia menyukai lelaki ini karena perhatian nya.

Akankah ia bisa mendapatkan Argara?

.

FebyStories to obsess over. Discover now