Dongen Yang Salah Hutan

16 5 1
                                        

Malam ini, aku kembali memikirkanmu.

Barangkali ini kesalahan yang paling rajin kulakukan. Seperti hujan yang tidak pernah bosan jatuh ke tanah yang sama, aku tidak pernah bosan memikirkan seseorang yang bahkan mungkin tidak pernah menyebut namaku dalam doa-doanya.

Aku sering membayangkan, seandainya dunia memang gemar menulis dongeng, mungkin kita adalah satu halaman yang tertukar.

Kau tumbuh di taman yang dipelihara begitu telaten. Setiap pagi ada matahari yang cukup. Setiap sore ada orang-orang yang menyiram akar-akarmu dengan kata-kata yang baik. Burung-burung tidak takut hinggap di dahannya. Bahkan angin pun terdengar lembut ketika melewati halamanmu.

Sedangkan aku...

Aku tumbuh di sebuah hutan yang bahkan pepohonannya saling berebut cahaya. Di sana, malam datang lebih cepat daripada tempat-tempat lain. Akar saling mencekik akar. Ranting-ranting patah bahkan sebelum sempat belajar menari bersama angin. Dan binatang-binatang buas tidak selalu memiliki taring. Kadang mereka hanya memiliki wajah yang sangat akrab.

Mungkin karena itulah aku selalu merasa aneh setiap kali memikirkanmu.

Rasanya seperti seekor serigala yang diam-diam jatuh cinta kepada rusa.

Bukan karena ia lapar.

Justru karena untuk pertama kalinya ia ingin menjaga sesuatu tanpa ingin memilikinya.

Tetapi dongeng-dongeng selalu memiliki hutan yang hafal kepada takdirnya.

Serigala tetap diajari cara mengaum.

Rusa tetap diajari cara berlari.

Dan jarak di antara keduanya diwariskan turun-temurun seperti sebuah doa yang tak pernah selesai diucapkan.

Kadang aku bertanya kepada langit, apakah seekor binatang boleh bermimpi menjadi taman?

Lalu langit diam.

Diamnya begitu panjang hingga aku mulai mengerti bahwa tidak semua pertanyaan diciptakan untuk dijawab.

Aku tidak iri kepada cahaya yang mengelilingimu.

Aku hanya sesekali membenci gelap yang membesarkanku.

Sebab andai saja aku lahir di musim yang berbeda, di tanah yang berbeda, dengan hujan yang berbeda, mungkinkah aku akan berdiri di hadapanmu tanpa merasa sedang membawa seluruh hutan di punggungku?

Tetapi malam terus berjalan.

Dan aku masih menjadi makhluk yang sama.

Masih berdiri di tepi hutan yang sama.

Masih memandang taman itu dari kejauhan.

Tak berani masuk.

Tak tega pergi.

Seperti seekor binatang yang akhirnya mengerti, bahwa dalam beberapa dongeng, mencintai bukan berarti mendekat.

Melainkan memastikan bunga itu tetap mekar, meskipun musim semi tak pernah datang ke hutannya sendiri.

Kursi Tua - Kumpulan PuisiStories to obsess over. Discover now