Dear diary.....
Aku lelah menghadapi sifat orang tua ku yang hanya tinggal satu-satunya di dunia ini. Mama.
Aku sebenarnya sayang sama dia. Tapi aku lelah di maki-maki. Yang dia katakan aku ini anak anjing. Anak babi. Otak kebal. Selalu mengatakan aku ini salah. Dah tua tali tak tau tua, bersih kan kamar aja tak mampu. Dia selalu mengatakan ngadu kau sana ngadu, kau pikir aku nggak tau kau ngadu-ngadu kesana.
Aku lelah selalu di fitnah di caci dan di maki oleh ibu kandung ku sendiri. Ayah kandung ku telah lama meninggal dunia. Aku besar dimalaysia. Selama 8 tahun aku disana. Di saat umur ku meranjak 14 tahun aku sudah berangkat ke malaysia dengan alasan ekonomi.
Tapi saat aku sudah kembali dari malaysia, di saat uang-uang ku sudah tak ada. Saat aku sudah tak memiliki apa-apa. Aku selalu di maki dan di caci.
Dimatanya aku selalu salah. Selalu menjadi alasan untuk melampiaskan kemarahanya pada ku.
Ya allah. Diriku sudah tak ada edukasi tetapi aku masih memiliki cita-cita sebagai penulis.
Ibu marah dengan diriku yang selalu memegang telepon pintar. Dia selalu mengatakan bahwa aku lebih tak punya otak. Otak nya gila hp. Aku tak sadar diri dan tubuh bau bangkai.
Ya allah cacian ini sudah aku telan bulat-bulat bersama airmata yang sangat susah untuk ku keluarkan. Diri ini tak bisa menangis. Pudar.
Hati ku pudar. Ini lah alasan nya aku susah percaya dan jatuh cinta dengan mudah. Karna aku masih belum memiliki alasan untuk membuatku mau menjalin hubungan.
Ya allah tegar kan lah hamba. Hamba lelah. Kalau bisa hamba ingin tidur sebentar dan tak bangun selama beberapa hari. Hamba ingin mempersiapkan hati dan batin hamba. Maafkan kakak, Ma.
YOU ARE READING
dear diary......
Non-FictionHanya diari sehari-hari. Ini tentang masalah curhatan hati dan tempat saya mengadu dan berbagi pikiran
