Kepingan 1

19 1 7
                                        



Angin semilir menyambut di malam hari, semua santri maupun santriwati sudah terlelap dalam dunia kapuknya masing -masing, mungkin hanya beberapa yang sepertiku yang tidak bisa tidur,dan memilih menghabiskan waktu untuk belajar, mencuci, maupun berdo'a. Jam 10 sudah berganti menjadi jam sebelas malam, waktu demi waktu sudah terlewat tiba-tiba saat aku telah menaruh buku pelajaranku terdengar suara langkah, aku yang tadinya mengantuk langsung tersadar, perlahan suara itu semakin mendekat dan.... ''Assalamu'alaikum'' ucap ustadzah Zainab dengan pelan. ''Wa'alaikumussalam, ada apa ustadzah?'' tanyaku dengan sopan. "gini nduk, temanmu yang namanya Assyifa kan sakit, bisa gak nduk buat mengantikan dia piket ndalem?" "inggih ustadzah, mboten nopo". "ya wes ndang ganti baju yo, maaf lho nduk mengganggu lha temanmu yang lain wes podo turu". "inggih ustadzah mboten nopo" kemudian beliau mengucapkan salam lantas pergi. Aku pun segera mengambil pakaian di jemuran kamar dan mengganti baju tidur ini menjadi baju harian.

Namaku Wardah Leyla Romadhona, sekarang aku duduk di kelas 12 aliyah, aku sudah mondok di pesantren As-Salam sejak smp, karna orang tuaku percaya dengan pilihan bunengku, bunengku sendiri teman dari Bu nyai Shofiyyah istri dari pengasuh pesantren ini. Dan aku pun sebenarnya sudah kenal dengan Kyai Rosyid maupun bu nyai Shofiyyah. Pesantren As-Salam terletak di daerah malang jadi udaranya sejuk, dan masih banyak sawah-sawah disekelilingnya .

#*****#

Ku lewaati beberapa gedung, dari Ar Rohmah sampai Cairo , jam 11 tepat kulihat di pergelangan tanganku. Sampai di depan rumah langsung ku buka pintunya dengan pelan, terlibat budhe Maimunah yang sedang merapikan perabotan rumah "Assalamu'alaikum budhe". "Wa'alaikumsalam ,dari mana ae nduk budhe ket mau nunggu sing piket teko iki, wes ndang masuk kamar mbah, ojo lali ditutup pintune ojo di kunci kan ono sing piket depan rumah". "inggih budhe geulis" godaku."walah nduk nduk, wes budhe pamit sek, assalamu'alaikum" "wa'alaikumussalam" jawabku dan menyalami tangan budhe Terasa sejuk berada di rumah ndalem

Udara berhembus, ac menyala kuucapkan salam ketika masuk kamar mbah Fatimah atau biasa disebut jaddah oleh anak-anak karna dalam bahasa arab jaddah artinya nenek. Mbah Fatimah sudah tertidur aku duduk di sofa samping beliau berjarak sekitar 1 meter dari ranjang. Waktu demi waktu terus berjalan, pukul setengah dua belas, alam mimpi menyapaku, taman terlihat di sekelilingku, dari kejauhan terlihat anak-anak kecil yang sedang bermain, salah satu dari mereka menghampiriku "mbak ayo main main mbak," ajaknya "lho mau kemana dek?" tanyanya."itu lho mbak wahana roller coaster" sahutnya. Kemudian menggandengku dan kami berlari, dari kejauhan seorang lelaki menabrakku "Bruakk". Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku terjatuh dari sofa mbah, ya Allah malu sekali diriku batinku. Untung saja tak ada yang melihatnya, aku kembali duduk di sofa mbah fatimah, "klontang!" suara seperti panci atau wajan yang jatuh, ku pun menyusuri rumah ndalem , diam-diam aku mengintip perlahan ke dapur, "MasyaAllah" ucapku pelan, ternyata yang ada di dapur gus Husein, betapa kagetnya diriku,kulihat gus Husein diam-diam menyelinap di rumah ini,padahal seharusnya gus Husein kan ada di asrama putra, sejak kecil kami berteman, karna buneng ku pernah mengajakku saat kecil dan memperkenalkan gus Husein padaku. "Lho, Leyla?" ucapnya saat menoleh padaku,dia terkejut aku pun juga."hmm, iya gus" sahutku."ojo ngomong sopo-sopo yo!" sahutnya."inggih gus"sahutku. Selama kami berbincang aku menundukkan pandanganku, jujur saja dari aku kecil sampai sekarang mengagumi beliau, bagaimana tidak? Sudah pintar, tampan,baik hati, tapi kurangnya cuek dan agak nakal sedikit. Tapi kalau sekarang ngomongnya yang ada canggung, karna kita sudah besar apalagi ini pesantren jadi harus di praktikkann ilmunya, mata yang biasa tapi menarik, bulu mata yang bagus, bola mata berwarna tajam jika ia menatap setajam tatapan burung elang,hidung mancung,alis tebal,di dominasi kulit kunig langsat yang cerah, MasyaAllah sekali lah, tapi apa daya aku harus menyimpan rasa kagumku."lel? Ndang ngaleh" ucapnya mengagetkanku dari lamunanku."eh inggih gus".

Husein LeylaDove le storie prendono vita. Scoprilo ora