Oleh: Sopiatul Azizah
Aku dan melisa terburu-buru naik ke atas kasur, kita bergelung bak ulat bulu, menahan nafas dibawah selimut. Sementara diluar hujan deras.
" Krrrkkkk, tuk tuk tuk"
kembali terdengar suara kuku menggores kaca, diikuti ketukan berirama, seperti sedang bernyanyi lewat jemarinya, bisa dipastikan kukunya begitu panjang dari suara garukan di kaca jendela kamar kost malam itu.
Melisa menggigit selimut untuk meredam tangisnya, sejak pertama kali suara itu berbunyi, matanya lngsung gemetar mengumpulkan air mata. Aku memegang tangannya erat sambil menggelengkan kepala, menginstruksi agar dia tetap diam.
"Brak....brakk...brakkkk"
Terdengar suara benda keras mengenai kayu, dibenturkannya 3x dengan suara cekikian diakhirnya. Aku membuka selimut, menengok khawatir ke arah pintu, takut sewaktu waktu dijebol oleh benda keras itu. Melisa menarik baju tidurku kencang saat aku bangkit, mengisyaratkan agar tidur kembali, tapi aku meyakinkannya dengan berbisik
"Aku gaakan berisik, tenang aja" perlahan kuturuni ranjang besi itu, aku mengendap-endap ke balik tirai jendela, ada celah diantaranya. Kusipitkan mataku, memperjelas dibalik buramnya lampu depan. Disana terlihat sesosok perempuan, dengan rambut panjang, beserta topeng melindungi wajahnya. Dia membelakangiku, sebelah tangannya mengetuk2 kaca dengan santai menggunakan kuku panjangnya yang berwarna kemerahan, sebelah lagi mengacungkan kapak ke arah pintu.
Aku terhenyak, seketika membekap mulut, sambil menahan nafas, keringat mulai bercucuran disekujur tubuhku, kapaknya berlumuran cairan merah kental. Tidak salah lagi, dia alasan kost-an disamping gaduh. Suara erangan, jeritan, tangisan, semuanya jadi satu, bercampur dengan tawa cekikikan khas wanita dibalik pintu.
"Dokkk...dokkk...dokkk..."
Aku kembali mengintip dari celah, terlihat ujung kapaknya yang berdarah, dia pukul2 kecil kearah pintu, membuat lubang untuk mengintip. Dengan sigap kutarik melisa yang masih terisak dengan sumpalan selimut tebal, kita berjongkok dibawah jendela dengan seluruh tubuh gemetar.
"Melisaaaaa, melisaa sayang.... Kemari. Lihat, aku bawakan kado untukmu" kembali terdengar suara cekikikan tanpa henti, sambil terus melubangi pintu dengan kapak penuh darahnya. Dia mulai mengintip lewat lubang yang dia buat. Dan aku masih menyaksikannya dibalik celah jendela.
"Kemarilah sayang. Melisaaaaaa..... Aku menunggumu didepan pintu" kembali dia berteriak ditengah keheningan kamar kost yg berjejer itu. Melisa menangis semakin kencang, kedua tanganku dan kedua tangan melisa saling meremas selimut dan membekap mulutnya kencang. Air mata mulai berjatuhan diwajahku sambil kugigit bibirku agar tak mengeluarkan suara sedikitpun. Tak terasa Lima belas menit sudah kita terkurung didalam kamar kost melisa dengan psikopat itu tetap berdiri dibalik pintu, jangan lupakan suara cekikikannya.
"Anyir" ucapku dalam hati. Kujulurkan lidahku meraba raba bibir bawahku, yang ternyata mengelurkan darah karena digigit terlalu keras. Melisa semakin gemetar dan gelisah, mengingat dia adalah yang paling penakut diantara aku, Amira, pricila, dan amanda.
"Melisaaaaa... Aku tauuu kau ada didalam,
dan......................
Bersembunyi disiniiii"
Prangggg... Suara kaca pecah diatas kepala melisa dan aku, kacanya berserakan didalam kamar, kita berteriak kencang saat melihat wanita bertopeng itu menancapkan kapaknya dikaca. Melisa secepat kilat membuka pintu dan melarikan diri, akupun berlari keluar. Tepat ketika didepan pintu aku ditahan oleh wanita itu, dan dia melepaskan topengnya perlahan.
" Amiraaaaa...." Aku berteriak kesal, sekaligus ketakutan, sementara dia hanya cekikan puas telah mengerjaiku dengan melisa.
Suara cekikikan itu berbarengan dengan suara teriakan Melisa, kukira dia ikut kesal karena tau itu adalah amira, tapi ternyata.....
"HAPPY HALLOWEEEEEEEN" pricila dan amanda berhamburan keluar dari kost an sebelah dengan wajah sumringah, lalu mengalihkan pandangan kearah dimana aku dan amira terpaku.
Disana melisa tergelincir dan akan jatuh kebawah, sebelum pagar runcing itu menghalanginya dan memanggang tubuhnya tepat dibagian dada dan perut, sampai tembus tubuhnya. Matanya melotot dengan wajah sembab. Bau anyir memenuhi seluruh lorong kost itu, aku menelpon ambulance saat kulihat melisa menggeliat2 sekarat dengan genangan darah memenuhi pagar dan tangga disana, ketika mulutnya menganga, tubuhnya tak lagi bergerak.
Saat itu yang memenuhi telingaku hanya suara jeritan dan isakan mereka bertiga, bercampur suara ambulance dan warga sekitar, setelahnya semua gelap!
Kuberitahu sesuatu "ini rencana kami berempat!!" Hihihi
ŞİMDİ OKUDUĞUN
HAPPY HALLOWEEN
KorkuMelisa menutup pintunya rapat, ketika terror dimalam itu dimulai. Hujan semakin deras, sementara tangisnya tak juga mau berhenti untuk sekedar bersembunyi. Sementara temannya mengintip dari balik jendela, memastikan yang sedang terjadi diluar sana.
