Terlihat seorang gadis sedang berjalan menuju gedung dimana ia akan melakukan kegiatan belajar nya. Ia adalah seorang pelajar, lebih tepatnya seorang mahasiswi semester 2, yang sedang mengeyam pendidikan disalah satu universitas favorit.
"Aduh, berat sekali buku-buku ini" ucap nya sambil terus membenarkan posisi buku-buku yang ia bawa agar tidak sampai jatuh.
Karna ia kurang fokus memperhatikan jalan akhirnya ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Bruk..
Semua buku yang ia bawa jatuh berserakan di tanah.
"Maafkan aku" ucap gadis tersebut sambil mengumpulkan buku-buku yang berserakan tanpa melihat orang yang menabraknya.
"Kau tak apa?" Tanya orang tersebut.
"Ya, aku tak apa" jawab gadis itu sambil menatap orang yang bertabrakan dengannya.
Melihat penampilan orang tersebut sempat membuatnya terpana. Bagaimana tidak, ternyata orang yang ditabraknya tadi adalah seorang pria yang sangat tampan. Matanya yang tajam, hidung yang mancung, dan rahangnya yang begitu tegas serta surai yang berwarna hitam pekat.
Ditambah ia juga berperawakan tinggi dan berbadan tegap, serta dibalut dengan setelan jas formal, membuatnya semakin terlihat berwibawa.
"Mau ku bantu?" Tawar orang tersebut, memecah lamunannya.
"Ah, tak apa paman, aku bisa membawanya sendiri"
"Apakah aku terlihat setua itu?"
"Bukankah kau memang sudah tua, ah maksudku dewasa" ucap gadis tadi sedikit gugup.
Mendengar penuturan gadis tersebut, pria itu hanya terkekeh. Sedangkan sang gadis terlihat sedang menggerutui dirinya sendiri, bisa-bisanya ia mengatakan bahwa pria tersebut tua, padahal masih terlihat sekitar akhir 20 tahunan.
"Lebih baik kita bagi dua saja, kau bawa sebagian, dan sisanya biar aku yang bawa" ucap lelaki tersebut sembari mengambil tumpukan buku yang dibawa oleh sang gadis. Tapi tidak terlihat sisa, maksudnya buku yang diambil terlalu banyak, dan ia hanya menyisakan beberapa buku untuk dibawa gadis tersebut.
"Paman, apakah itu tidak terlalu banyak?" Tanya gadis tersebut merasa tidak enak.
"Tidak, ayo, aku akan mengantarmu" ucapnya dengan membawa buku-buku tersebut dengan satu tangan dan mulai melangkahkan kakinya.
Kelas yang ia tempati lumayan jauh dari gedung yang tadi, ditambah lagi ia harus melewati gedung fakultas lain.
"Terimakasih paman, karna sudah mau membantuku" ucap sang gadis sambil terus berjalan menuju kelas, bersama pria tersebut.
"Sama-sama, tapi bisakah kau tidak memanggil ku dengan sebutan 'paman'?"
"Ah maaf, jadi aku harus memanggil mu apa?
Bukan jawaban yang ia dapat, pria tersebut malah menanyakan hal yang lain.
"Siapa namamu?"
"Alma, Alma Dhafitha"
"Nah Alma Kita sudah sampai" ucap pria tersebut setelah menghentikan langkahnya tepat didepan kelas Alma.
Karna asik mengobrol, Alma tak sadar bahwa ia sudah sampai dikelasnya. Dan untungnya sebelum membicarakan hal lain, ia sempat memberi tau di kelas mana ia belajar.
"Sekali lagi terimakasih sudah membantuku" ucap Alma sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Iya sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu" ucap lelaki tersebut mulai melangkahkan kaki, meninggalkan Alma.
"Maaf mas, bukunya?" Ucap Alma, menghentikan langkah pria tadi.
Bukannya langsung memberikan buku-buku tersebut, ia malah terdiam sambil menatap intens wajah Alma.
YOU ARE READING
First Love
Short Story"Dengar baik-baik, para wanita diluar sana mungkin saja bisa bersaing untuk mendapatkan ku. Tapi apakah mereka bisa bersaing dan mengalahkan seorang wanita yang aku cintai?" "Siapa? Siapa wanita itu? Siapa wanita yang kau cintai itu? Kenapa kau mala...
