sekelompok remaja tiba tiba berubah menjadi pemburu makhluk tak kasat mata, setelah sebuah cahaya melintas melewati angkasa beberapa waktu lalu.
"Kalian liat juga?."
"Iya, gede banget kayak Titan."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hwang Eunbi
Gadis itu meremang, mematung sesaat setelah bisikan terdengar. Tidak hanya sekali ini saja, gangguan itu datang sejak.. ah entahlah Sinb melupakannya sepertinya.
Meski sudah terbiasa demikian, gadis itu tetap saja terkejut. Ia melamun memikirkan penuh cara mengusir hal menganggu itu tapi tidak satupun solusi sampai di otaknya, dan itu berlaku sepanjang malam. Bahkan sepertinya kantong matanya itu tak menghentikan aksi begadang nya. Sangking terganggu nya.
"Non, mobilnya sudah siap." Suara supir nya menginterupsi, mengingatkan Sinb akan dunia yang ia tinggalkan beberapa saat mengarungi alam bawah sadar sana. Melamun lagi, pikir supir nya.
"Duluan aja pak, Eun masih belum sarapan." Sopirnya pergi, Sinb kembali pada segelas teh di pagi hari yang sempat ia abaikan. Sejenak berpikir untuk menganggap semuanya biasa saja, tapi tidak bisa. Sinb seorang pemikir soalnya.
Persoalannya adalah mengatasi suara bisikan itu menjadi topik menarik dan membiarkan dirinya tertidur lelap. Sinb rindu bermimpi, dasar suara sialan.
"Stop bi, stop Lo harus fokus hari ini ada ulangan." Sinb meletakkan cangkirnya, mengambil tas di atas pantry lalu berlari keluar rumah.
Meninggalkan sosok di pojok ruangan yang tengah melambai dan tertawa kecil.
Maafin gue ya gangguin Lo mulu hihi
"Nanti gak usah jemput Eun pak, Eun mau pergi ke rumah teman. Kalau mama tiba-tiba pulang bilang aja ada kerja kelompok gitu ya pak." Gadis itu berlari, tapi saat tiba di depan gerbang ia berbalik, melambai lalu memberi hormat pada sang sopir.
Menunggu sebentar sebelum lanjut berjalan memasuki gerbang sekolah setelah mobil tersebut pergi.
"Lepas! Please aku gak punya uang lagi!." Sinb menghentikan jalannya, menatap 3 orang lelaki sedang menahan satu laki laki lain. Ketiganya terlihat senang tapi yang sendiri jelas memiliki raut takut, cemas, khawatir di wajahnya itu.
Ck mereka lagi.
"Woi! Lo pada?!."
"Mampus." Ucap salah satunya, menyadari kehadiran pengganggu di acara bersenang-senang pagi ini.
Ketiganya kompak berbalik dengan wajah senyum terpaksa mereka. Menghadap Sinb yang bersedekap dengan senyum manis di wajahnya.
Oh tidak.
Hal selanjutnya yang terjadi adalah teriakan ketiganya yang menghiasi angkasa yang indah pagi ini.
"Aduh aduh! Iya iya deh gak gue ulangin lagi!." Lucas, tangannya di pelintir Sinb, wajahnya meringis menahan sakit. Benar sih, badannya lebih besar, tapi di hadapan gadis ini Lucas hanya semut kecil yang jago memerintah.