Udara pada pagi menjelang siang ini masih segar, belum memberi banyak beban pada kami. Tak seperti saat siang hari, kala udara sudah kotor oleh kendaraan bermesin yang membuat kami semakin kewalahan. Dan mungkin keadaan akan diperparah sebentar lagi saat mulai terdengar derap manusia yang tampak membawa gergaji bermesin.
Salah seorang calon penebang mendekat dan berhenti di hadapan saya. Dipandangnya tubuh saya, hingga saya harus menahan napas. Dia sedang menilai, apakah saya sudah layak tebang atau belum. Juga memastikan kalau saya tidak mengalami cacat fisik yang berarti.
Saya ketar-ketir.
Apalagi saat tahu mereka tak kunjung memungkasi kecemasan saya dan para kawan saya. Karena meski bergerak, mereka hanya berpindah tempat. Berjalan dari pohon ke pohon, entah sampai kapan. Dan saya tidak tahu, hari ini mereka akan menumbangkan siapa.
Saya lirik Albasia berusia 4 tahun di seberang. Dari jarak yang cukup jauh dari tempat saya berdiri, ia nampak berusaha tetap tenang. Akan tetapi, bahasa tubuhnya tak bisa berbohong. Akar di bawah terasa menguat, memperkuat tegak dirinya. Ia terlalu khawatir kalau sebentar lagi salah satu saudaranya yang akan ambruk. Tepat dua minggu selepas leluhurnya tiada.
"Ini saja yang ditebang. Yang sudah besar dan mumpung belum dimakan terap." Dan benar, yang dimaksud adalah salah satu anggota keluarga Albasia.
Selang beberapa detik, salah seorang dari ketiga manusia itu memanjat tubuh pohon berumur, yang menjadi sumber kesepakatan sebelumnya.
Meski membawa sebilah golok, orang tersebut dengan cekatan sudah sampai tujuan. Tanpa membuang banyak waktu, si Manusia Bergolok dengan ahlinya memotong satu per satu jari ayah Albasia yang berdaun.
Dan sekarang, seutas tali telah dijeratkan ke leher pohon itu.
Seseorang sudah menghidupkan mesin gergaji, lalu memanaskannya sebentar. Saya, Albasia, Beringin, serta para pohon lain menyaksikannya sambil menahan napas, saat deru mesin semakin terdengar keras dan penebang sudah bersiap pada posisinya. Dapat saya lihat, serat-serat tubuh ayah Albasia mulai berhamburan karena terkoyak gergaji mesin bersuara amat lantang itu.
Saya tidak bisa memprediksi ada berapa pertunjukan serupa pada tempo yang sama. Juga dalam waktu sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, atau seabad kemudian.
Saya pun tidak tahu dan tak bisa membayangkan bagaimana nasib kawan lain saya yang mengalami hal serupa. Yang butuh waktu lama untuk menunggu pertunjukan berdurasi hitungan menit bahkan detik ini. Yang memerlukan tempo bertahun-tahun untuk menjadi pemeran utamanya.
Bayur, Ulin, Cendana, Merbau, Trembesi, Eboni, Randu, Enau, Meranti, Bangkirai, Sonokeling, Sungkai, Pinus, Cemara, Mahoni, Jati, dan teman-teman saya yang lain, apa kabar? Sehat? Saya mendadak rindu kalian. Apa di sana kalian sering bercanda dan dicandai oleh manusia, sama seperti saya dan Beringin serta teman lain yang ada di sini?
Coba saja kalian ada di sini bersama kami. Akan saya perkenalkan Beringin kepada kalian. Akan saya ceritakan gurauan-gurauan para manusia itu kepada kalian. Akan saya ceritakan pula pada kalian, kocaknya kami menghadapi candaan mereka.
Tetapi meski kalian tidak di sini, baiklah, saya tetap akan bercerita. Semoga getaran bumi segera menyampaikan kisah ini kepada kalian, ya! Seperti yang sudah-sudah, supaya kalian bisa lebih mengerti manusia dan menemukan balasan gurauan yang tepat dan tidak menyakiti hati mereka.
Begini, Kawan.
Suatu hari, Beringin mengeluhkan tingkah manusia saat berdekatan dengannya, yang cenderung berlebihan.
Mungkin karena tubuhnya yang tinggi besar serta terdapat rambut lebat yang terjuntai, penampilannya memang jadi tampak menyeramkan. Sehingga sebagian dari para manusia itu tak mau mendekati. Katanya, dengan tampang seperti itu, Beringin hanya cocok berteman dengan makhluk halus. Nyatanya, Beringin adalah kawan saya, Waru. Teman kita, sesama pohon juga.
YOU ARE READING
Abahui
Short StoryDikiranya hanya manusia yang bisa bercanda? Tuhan bisa jauh lebih lucu! Sampul dibuat di Canva.
