Sepagi ini Sasuke sudah datang mengetuk pintu apartemennya. Ketika pintu dibuka, pemuda itu langsung memberinya pelukan hangat dan ciuman.
"Maaf, aku datang tanpa mengabarimu." Ucap Sasuke merasa bersalah dan seperti biasa sambil memasang wajah polos tanpa dosa.
Sakura menggelengkan kepala yang berarti tidak apa-apa lalu menyuruh kekasihnya itu untuk duduk di sofa sementara dia melanjutkan pekerjaannya memasak sarapan untuk pagi hari itu.
"Sudah sarapan? Aku hanya membuat roti isi dan salad. Kau mau?" Tanyanya sambil memotong tomat dan selada.
Sasuke menghampirinya dan duduk di kursi bar yang diletakkan tepat di konter dapur.
"Boleh. Aku belum makan."
"Baiklah. Tunggu sebentar kalau begitu."
Sakura kembali mengerjakan pekerjaannya. Sama sekali tidak memperdulikan Sasuke dihadapannya yang terus mencoba menggodanya dengan memainkan peralatan masak sampai sayuran.
Merasa tak dipedulikan, Sasuke kembali ke sofa ruang tengah. Dia menghidupkan TV dan mencari siaran ulang olahraga.
"Mau ke bar milik kakakku akhir pekan ini? Kita sudah lama tidak pergi bersama." Tawar Sasuke dengan suara setengah berteriak.
Tidak ada jawaban dari Sakura. Tapi tak lama gadis itu masuk ke ruang tengah sambil membawa dua piring roti isi. "Sebentar, saladnya akan kubawakan. Kau mau minum apa?"
"Kau belum menjawab ajakanku. Mau ke bar Itachi Sabtu atau Minggu nanti?" Tanya Sasuke lagi sambil menahan tangan Sakura. Dia yakin gadis itu pasti mendengarnya tadi.
"Aku harus kembali ke dapur sebentar setelah itu mari kita bicarakan." Jawab Sakura halus sambil melepas tangan Sasuke.
Pemuda itu tahu Sakura hanya sedang mengulur-ngulur waktu karena pada akhirnya dia pasti akan menolak.
Beberapa minggu belakangan ini hubungan mereka memang sedikit merenggang. Terutama karena berita kencan mereka terkuak oleh publik hingga membuat Sakura jadi tampak tersiksa. Gadis itu tidak senang dengan segala pemberitaan tentang mereka yang terlalu menyudutkannya. Namun sayangnya, Sakura tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya dan memilih memendamnya sendiri atau malah bercerita pada para sahabatnya.
Sakura kembali dengan membawa dua mangkuk salad dan susu vanilla yang dibawanya menggunakan nampan merah muda bermotif bunga sakura. Sangat khas dengan kepribadian Sakura.
"Maaf, aku hanya punya susu vanilla. Kau tidak keberatan kan?"
Sasuke tidak suka susu vanilla sebenarnya. Terlalu manis hingga meninggalkan rasa kelat di lidah. Tapi dia tidak bisa menolak karena Sakura sudah bersusah payah menyiapkannya.
Mereka makan dengan tenang. Tidak ada satupun yang membuka mulut. Mereka sudah terbiasa dengan keheningan seperti ini.
"Jadi, bagaimana? Apa Sabtu atau Minggu ini kau bisa ikut ke bar Itachi? Aku berencana akan melakukan live music di sana kalau kau datang." Sasuke berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengambil air putih. Lidahnya perlu dibasuh karena rasa vanilla terlalu pekat tertinggal di sana.
Saat dia kembali, Sakura tampak duduk termenung. Pandangannya tertuju pada jendela yang tirainya sedikit terbuka dan menampilkan pemandangan pusat kota Tokyo yang sudah ramai sepagi ini.
"Kau belum menjawabku, Sakura." Sasuke kembali duduk di samping kekasihnya.
Sakura menolehkan pandangan dan tersenyum. "Maaf, Sabtu ini ada acara yang harus aku datangi. Hari Minggu ada pekerjaan. Ino bisa marah kalau aku membatalkannya." Jawabnya mencoba terdengar bercanda.
YOU ARE READING
We Are Living In A Paper Town
FanfictionSetelah cidera parah yang dideritanya dalam salah satu pertandingan tenis internasional yang diikutinya, Haruno Sakura terpaksa memutus harapannya sebagai seorang atlet dan tanpa sengaja beralih profesi menjadi seorang model sekaligus aktris. Dunia...
