Jalannya nampak sangat tenang. Ia berjalan sendiri di tengah tengah siswa siswi sekolah berbaju Hitam putih layaknya hendak melamar kerja. Ia pun juga memakai itu, karena hari ini adalah hari pertama nya MPLS.
Ia berjalan terus menuju gerbang yang masih terbuka lebar. Ia memang terbiasa bangun pagi, maka jarang sekali untuk telat. Bahkan Ia pernah iseng-iseng menghitung, Ia pernah tidak terlambat untuk sekolah selama tiga bulan.
Namanya Affan Narendra. Ia biasa dipanggil Affan. Tidak heran jika Affan datang sekolah sendiri, karena tidak ada satupun teman SMP nya yang lolos masuk di SMA unggulan ini. Rupanya Affan murid yang cerdas.
Hingga sampailah di sekolah yang katanya melahirkan banyak orang hebat itu. Affan sedikit berputar ditengah lapangan. Menyaksikan betapa sejuknya suasana di sekolah nya itu.
"Haloo adik-adik semuaaa, Ayo segera membuat barisan sesuai kelas yang sudah dibagi melalui WhatsApp nya yah!"
Affan pun mudah mencari kelasnya. Asal kalian tau, SMA Garuda Satyaloka ini hanya menerima murid baru sebanyak 125 Murid Baru saja. Ia masuk ke barisan Diponegoro. Terdapat 30-an orang.
"Hei, kenalin, Gue Nadira, Kalau Lo?"
"Hai, Gue Affan,"
Saat Nadira hendak melanjutkan sesi kenalan, Panitia MPLS pun memberi aba aba untuk segera menertibkan barisan.
Affan melihat wajah beberapa panitia MPLS alias OSIS nya nampak garang, tapi ada juga yang memasang wajah calm. Affan pikir mungkin saja yang Garang itu sedang ada masalah rumah yang belum selesai hingga apa yang Affan pikir semua terpatahkan dengan Ia yang diminta di panggil untuk maju kedepan serta satu orang cewek dari barisan lain.
"Ini beban Kelompok Diponegoro dan Brawijaya Tidak perlu saya jelaskan apa kesalahannya kalian, Coba kalian jelaskan sendiri apa kesalahan kalian!"
Affan dan cewek yang maju bersamanya ini pun ikut bingung, Affan dan cewek yang ternyata bernama Ziva itu saling melihat outfit yang mereka pakai. Saling mengoreksi niatnya, karena memang tidak ada perbedaan signifikan antara persyaratan MPLS Cowok dan Cewek.
"Malah saling liat liatan, Buruan jelasin!'' ucap seorang Cowok OSIS di belakang mereka.
"Siap Kak, Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun!" Jawab Affan tegas. Ziva yang mendengar itupun terkesiap, lalu mulai bersuara.
"Siap kak, Saya juga tidak merasa melakukan kesalahan apapun!"
Kakak kelas yang tadi sedikit membentak dalam bertanya pun berdiri dihadapan Ziva dan Affan.
"Celana, Sepatu,Dasi,Dan Topi?"
Affan dan Ziva pun memperhatikan kembali, Mereka yang semula yakin kini merasa ada salah.
"Name Tag?"
Affan dan Ziva memperhatikan kembali betul betul Name Tag yang sejauh ini persyaratan yang paling ribet karena ada ketentuan dalam penulisannya. Affan dan Ziva tidak menemukan titik salahnya.
"Jadi, Seperti ini adalah Contoh terbaik, Mematuhi peraturan, Gue tau betul dari 125 Murid Baru dengan empat kelompok, Cuma Kelompok Brawijaya dan Diponegoro yang disiplin, dan Sesuai Aturan!"
Affan dan Ziva sontak saling berpandangan. Mereka bernafas lega.
"Kelompok Gadjah Mada dan Kelompok Airlangga masing-masing Sepuluh Anak dengan Sepatu tidak sesuai aturan, Kelompok Gadjah Mada Dua anak datang terlambat, Kelompok Airlangga tujuh anak dengan Topi tidak sesuai ketentuan."
Affan dan Ziva yang mendengar rincian tersebut sedikit menelan ludah tidak menyangka, Tidak menyangka bahwa akan diperhatikan sedetail itu. Kakak OSIS yang tadinya garang itu tersenyum sejenak melihat Affan dan Ziva. Kemudian berterimakasih dan mempersilahkan Affan dan Ziva kembali kebarisan.
