"Aku menginginkan mu, kalau tidak bersama ku, maka orang lain pun tak boleh memiliki mu".
Matanya terbuka seketika. Nafasnya sesak, ia berusaha menarik semua oksigen di ruangan kecil itu, hanya untuknya.
"Kau baik-baik saja? Kau mengigau lagi. Bukan kah hari ini kau bebas, kenapa masih saja ada yang menghantui tidur mu?". Salah satu teman satu sel nya berkata.
Ia menyeka keringat di dahinya.
"Begitu kau keluar dari sini, kau harus buat perhitungan sama orang yang menjebak mu". Teman lainya berkata, di ikuti dengan persetujuan teman lainnya.
Ia mengangguk.
Seorang sipir penjara datang menjemputnya. Ia berpamitan pada ke tujuh teman satu selnya. Mereka memberikan pelukan selamat jalan padanya.
"Jangan jadi perempuan bodoh lagi. Jangan sampai kau terjebak dan kembali kesini".
Ia mengangguk. Kemudian berjalan mengikuti sipir penjara tadi yang akan membawanya menuju ke kebebasannya.
Matahari begitu terik saat ia melangkah keluar dari pagar besi nan tinggi kokoh itu. Hanya ia yang bebas dari penjara hari ini, keadaan di luar penjara sepi. Tak ada yang menjemputnya, tak ada yang menyambut kepulangannya.
Karena memang tak ada.
Langkah demi langkah ia hitung demi membuang rasa sesak yang mendera hatinya seketika. Air mata menetes tanpa ia sadari. Dengan kasar ia menyeka air matanya. Tak ada gunanya meratapi apa yang terjadi 7 tahun lalu.
Usianya belum lagi genap 20 tahun saat semua masalah besar itu terjadi. Saat Yugha membalikkan badannya, berjalan pergi tanpa memperdulikannya.
Membuangnya.
Mengirimnya ke penjara yang membuatnya kehilangan masa remajanya.
Semua masalah ini terjadi karena paman bungsu Yugha, yang memiliki cinta gila untuknya.
Fitnah ini terjadi karena lelaki itu yang telah meracuni pikiran keponakannya, hingga Yugha tega mengirimnya ke penjara. Tanpa bukti yang jelas, ia di jebloskan ke penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan pada ibunya.
Sekarang, setelah 7 tahun berlalu, ia akhirnya bisa merasakan kebebasan. Meski pun tak ada keluarga yang menunggunya pulang, ia harus tetap melanjutkan hidupnya. Terlebih lagi dengan kenyataan ia tak tahu kemana tujuannya saat ini.
Kakinya lelah berjalan. Ia memilih berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah besar. Ia bahkan tak tahu sudah sejauh mana ia berjalan. Karena tanpa ia sadari, langit sore telah menutupi matahari terik tadi darinya. Ia baru menyadari hari sudah sore saat akhirnya terduduk di bawah pohon besar yang menghadap langsung ke pintu pagar besar sebuah rumah mewah.
Dimana ia akan tidur malam ini?
Ia bahkan tak memiliki uang. Bahkan perutnya sudah menjerit kelaparan. Hanya ada sebotol air minum yang sudah hampir kandas di dalam botol minum yang ia bawa dari penjara tadi.
Matanya menangkap sesuatu yang tertempel di dinding pos satpam rumah megah itu. Ia berjalan mendekati pos satpam dan membaca apa yang di tulis di dalam kertas yang tertempel di pos satpam itu.
"Di butuhkan 1 orang pembantu rumah tangga...."
Apa iklan itu masih berlaku? Tampaknya kertas iklan itu sudah pudar karena panas dan hujan. Tapi tak ada salahnya ia bertanya, bukan?.
Ia menelan ludah sesaat ketika berjalan menyusuri pagar besi nan tinggi itu. Menjulurkan kepalanya mencari satpam yang berada di dalam pos nya itu.
YOU ARE READING
INNOCENT Love
ChickLit"bukan hanya jemarimu yang gagal mengenali ku, namun mata mu pun gagal mempercayai ku". ... Yugha kehilangan penglihatannya pada sebuah kecelakaan yang juga menewaskan ayahnya.Ibunya membawanya untuk menenangkan diri di vila keluarga mereka, dan dis...
