Dari Jauh Saja

1.8K 18 6
                                        


~ Menatapmu dari jauh adalah kebahagiaan, bagiku yang tak mungkin memilikimu yang sudah dimiliki orang lain ~

Satu kalimat yang tertulis indah di buku diary-ku. Ya, aku memang nggak mungkin milikin dia. Huh, rasanya capek begini terus. Ngejar-ngejar orang yang udah punya istri.

Kalian jangan ngecap aku pelakor, ya. Aku cuma gadis yang mencintai suami orang, titik. Nggak lebih dan emang nggak akan lebih.

Kembali kuhela napas mengingat tulisan di buku diary itu. Kini, aku bukan sedang ada di kamar atau di rumah. Aku sedang di tempat ngaji, tempat yang sudah hampir setengah tahun kukunjungi setiap hari.

Bersandar di tiang rumah sembari menatap seseorang di sana. Dia tampan, baik, dan senyumnya ... Ya Allah bikin jantungku berdebar-debar. Ingin copot saja rasanya. Memandanginya tak pernah jemu bagiku, meski sudah kulakukan ini lebih dari tiga bulan terakhir.

"Eheum." Dahiku sontak berkerut. Apa itu, ya? Kok kaya ada suara deheman. Tapi siapa?

"Yu!" panggil suara seorang wanita. Suaranya lembut, aku kenal suara ini.

Pelan aku pun mencoba melirik ke belakang dan benar saja dugaanku. Suara itu milik Ustadzah Farsya, dia tersenyum manis padaku.

"Lagi apa?"

Aku pun membalas senyuman itu sambil sedikit tertunduk malu. "Em, nggak apa-apa, Bu."

"Nggak apa-apa, atau lagi ngintip orang?"

Mataku sedikit membulat mendengar pertanyaan itu. Aduh, Ya Allah, apa jangan-jangan Ibu Farsya lihat aku lagi merhatiin Pak Tomi, ya? Hatiku sontak meronta ketakutan.

"Hisna?" panggilnya lagi. Seperti dia mulai curiga.

Aku melihat dia menunduk dan demi menutupi rasa malu, aku memilih memejamkan mata. Semoga aja, Bu Farsya pergi setelah melihat aku menunduk dalam.

Bukan pergi, dia malah tiba-tiba terkekeh dan di detik kemudian aku merasakan dingin tangannya mencubit pipi. Hah? Kenapa dia tertawa? Pertanyaan itu cuma bisa sampai di tenggorokan saja. Terlalu malu aku mempertanyakannya.

"Cie ada yang lagi jatuh cinta," ucap dia tiba-tiba. "Suka sama siapa nih? Alhamdulillah, akhirnya bisa jatuh cinta lagi."

Aku pun menengadah meski sebenarnya malu. Tampak Bu Farsya menutup mulut menahan tawa. Lalu, wajahnya celingak-celinguk melihat ke belakang tubuhku.

"Sama siapa nih? Sama Kak Akhsan, Kak Ginar, atau jangan-jangan sama Ustadz Tomi?" tebaknya yang tepat semakin membuat jantungku berdebar.

Aku terkejut, bukan cuma karena pertanyaannya, tapi Bu Farsya menyebut nama suaminya sendiri. Astaghfirullah, apa beliau tahu sesuatu, ya? Ya Allah, semoga aja enggak.

"Ee-nggak, Bu. Yusi nggak suka sama siapa-siapa kok." Aku mencoba meyakinkannya dengan mengibas-ngibaskan tangan.

Dia tersenyum. "Enggak apa-apa, suka sama orang itu fitrah. Kalau kamu suka sama cowok itu wajar. Yang nggak boleh itu kamu suka terus jadi berlebihan."

"Tapi Yusi enggak suka sama siapa pun kok." Ya, aku masih mencoba menyangkal. Tentang perasaan ini, emang enggak ada orang yang tahu dan berharap enggak ada yang tahu.

Terpaksa Menikah dengan Suami UstadzahStories to obsess over. Discover now