"Asshole".
"Mengapa ia kau sebut begitu?".
"Tidakkah kau lihat perangainya? Bajingan seperti itu lantas harus kusebut apa?".
"Kau hanya sedang marah. Kau hanya sedang kecewa".
"Tidak, memang seharusnya begitu".
"Dia, pria yang bagaimana?"
"Sedikit kaku, frontal. Dan ya, tidak konsisten."
"Kau mencintainya?".
"Pernah. Tapi sekarang aku hanya jatuh cinta saja. Jatuh cinta sering terjadi. Tapi mencintai, hanya terjadi satu kali."
***
Tersirat jelas kekecewaan dan kesedihan di matanya. Terlalu sedih hingga ia tidak bisa menitikkan air mata lagi.
Terlalu dalam lukanya dan seolah ditaburi jeruk nipis dan garam.
Lelaki itu, menciptakan luka di atas luka lamanya yang belum sembuh.
Dalam hidup ini. Keberuntungan tidak berpihak padanya dalam persoalan laki-laki.
6/9/21
YOU ARE READING
Puspas
Short StoryKadang suka, kadang duka. Kadang penuh air mata. Jarang sekali ada tawa. Sesekali ada amarah. Ada pula gundah. Tentunya ada gelisah. Berkali-kali pasrah, merasa kalah. Pernah dikecewakan, lalu terulang lagi. Pernah tidak ingin menanggapi, tapi tak...
