Middle of Nowhere, August 2013
Suasana bus yang membawa gue menuju kota Solo di malam itu terlalu dingin dan sunyi. Sebagian besar penumpang lain sudah tertidur pulas, menyisakan gue dan sang supir, pak Kohar, yang masih terjaga. Jelas gawat kalau pak Kohar sampai tertidur, sementara gue? Punya urusan apa gue sampai kedua mata ini seolah asing dari rasa kantuk?
Entah. Gue terlalu malas untuk mencari tahu.
Salah satu teman gue bilang kalau kita merasa waktu berjalan dengan cepat, itu tandanya kita menikmati hidup kita dan begitu pula sebaliknya: waktu akan berjalan dengan lambat ketika kita sedang tidak menikmati hidup. Bukan konsep yang aneh, semua orang pasti pernah merasakan hal yang sama.
Yang jadi masalah adalah sekarang ini gue merasa kalau waktu berjalan terlalu lambat. Apakah gue sudah tidak lagi menikmati hidup? Atau mungkin karena gue saja yang saat ini sedang merasa sangat bosan karena tidak ada hal lain yang bisa gue lakukan selain memandangi jalanan yang disusuri oleh bus yang gue tumpangi malam hari ini? Dan kenapa pula jendela bus selalu bisa membuat seseorang memikirkan tentang perjalanan hidupnya?
Kenapa gue malah sewot sendiri?
-----
Bintang.
Semenjak kecil, gue selalu kagum dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan astronomi. Semuanya berawal dari ajakan nyokap untuk mengunjungi planetarium Jakarta ketika gue masih duduk di kelas 4 SD. Sepulangnya dari sana, gue langsung minta ke nyokap untuk membelikan gue buku tentang astronomi di Gramedia Matraman dan buku yang lumayan tebal itu selesai gue baca seluruhnya dalam waktu beberapa jam saja. Sejak hari itu gue selalu menjawab "dimana aja, yang penting bisa ngeliat bintang" setiap kali ada yang bertanya dimana gue ingin menghabiskan waktu liburan sekolah (yang tentunya dibalas dengan pandangan bingung oleh lawan bicara gue).
Satu tahun kemudian, keinginan itu akhirnya terkabulkan. Malam hari di gunung Bromo. Jauh dari terpaan debu dan gemerlap lampu gedung perkantoran Jakarta. Bintang, bulan, meteor, konstelasi. Malam itu rasanya terlalu sempurna.
Gue belum pernah merasa sekagum itu dan kekaguman itu masih dapat gue rasakan, 10 tahun setelah malam hari di pegunungan Bromo tersebut. Bukanlah hal yang mustahil kalau rasa kagum itu akan terus gue rasakan 10 tahun dari sekarang dan 10 tahun berikutnya. Tidaklah mustahil juga kalau kekaguman itu akan terus abadi, setidaknya sampai seseorang menemukan tubuh gue yang sudah dalam keadaan rigor mortis.
Kalau gue harus memberikan alasan kenapa gue sampai betah di Sukabumi, kota (atau kabupaten, whatever...) yang sekarang gue tinggali maka alasan itu adalah langit malam yang cukup bersih meskipun belum bisa mengalahkan bersihnya langit malam di pegunungan Bromo. Ada lahan kosong yang letaknya cukup dekat dari rumah gue, jauh dari pemukiman warga, jauh dari kebisingan, jauh dari siapapun dan apapun. Dalam kata lain: tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk berpikir atau sekedar menenangkan diri, khususnya di malam hari.
Di tempat inilah gue memulai kebiasaan baru. You see...gue bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudahnya membuka diri, apalagi ketika gue berada di lingkungan baru tapi bukan berarti gue dengan sengaja menutup diri dari semua bentuk interaksi sosial dengan orang orang di sekitar gue. Gue butuh waktu untuk menyesuaikan diri, entah itu beberapa hari atau minggu. Dalam skenario terburuk, mungkin sampai beberapa bulan. Ini adalah bagian dari diri gue yang sampai saat ini belum bisa sepenuhnya gue mengerti tapi gue mulai belajar buat menerima keadaan.
Anyway, kebiasaan baru apa yang gue mulai? Well, karena gue belum merasa nyaman untuk bercerita tentang masalah pribadi gue ke orang yang baru gue kenal sementara masalah gue rasanya semakin menumpuk, why don't just talk to the stars? I mean they're always there not just for me but also for everyone else, terutama Venus.
Iya, gue tau, Venus bukanlah bintang. Venus adalah planet yang sangat tidak ramah bagi segala bentuk kehidupan di bumi, satelit milik Uni Soviet hanya bisa bertahan selama 10 menit disana. Tetap enggak bisa merubah kenyataan kalau dia adalah salah satu objek yang paling dikenali dan bersinar terang di langit malam, kan? Enggak bisa merubah kenyataan kalau gue selalu tahu kemana harus mencari dan melihat setiap kali gue butuh tempat untuk bercerita, kan?
Tapi sayangnya, biarpun gue tahu kemana harus mencari, tidak ada bintang di langit malam itu.
-----
Gue menarik scarf di sekitar leher gue sampai menutupi mulut.
Setelah sekian kalinya cerita gue berakhir dengan cara yang sama akhirnya mampu memunculkan beberapa pertanyaan di kepala gue: apakah semua ini memang hasil akhir dari kesalahan yang gue perbuat atau gue yang memang selalu jatuh cinta kepada orang yang salah? Kalau memang gue jatuh cinta kepada orang yang salah, kenapa kedua mata gue selalu melihat mereka sebagai orang yang tepat? Kalau mereka memang orang yang tepat, kenapa mereka juga punya hubungan dengan orang lain? Semua pertanyaan itu selalu mengganggu dan memenuhi kepala gue.
Mungkin saja gue yang terlalu naif sampai akhirnya gue selalu membohongi diri gue sendiri, selalu meyakinkan diri kalau mereka adalah satu satunya sumber kebahagiaan gue.
-----
Gue menengadahkan kepala untuk memandangi langit malam, sedikit berharap agar awan tebal yang menutupi Venus dan bintang lainnya untuk sedikit menipis.
Gelap yang sama.
Kedua mata gue mulai menutup secara perlahan.
"Gue bukan orang yang paling baik. Bukan orang yang selalu memilih jalan yang paling benar. Bukan orang yang membanggakan. Bukan orang yang paling religius. Bukan siapapun. Jadi, Tuhan, apakah masih ada alasan lain buat gue untuk tetap hidup? Kalau memang ada, will you kindly show me?"
Seperti halnya ketika mereka menutup, kedua mata gue perlahan terbuka dan kali ini pandangan gue langsung tertuju ke 1 titik di langit luas. Awan tebal di malam itu perlahan menipis dan seolah mereka tidak pernah ada disana.
And there she was, Venus. She's a deadly planet, sure. But for me, she's always a star. Forever a star.
Senyum kecil mulai mengembang di sudut bibir gue.
"Thank you."
Pandangan gue mulai meredup. Untuk pertama kalinya setelah beberapa malam, akhirnya gue bisa tertidur dengan perasaan tenang.
Setidaknya, entah kapan atau bagaimana, harapan itu akan selalu ada.
