The First

29 4 0
                                        

Liburan akhir semester sudah usai. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah lagi. Rasanya sangat malas sekali untuk bersekolah, karena sekolah terasa seperti neraka bagi pecundang sepertiku. Sebetulnya bersekolah sangat menyenangkan bagiku. Sampai ada 3 orang yang datang menghancurkan masa-masa sekolahku, yaitu Teresa, Tera, dan Tania.

Dari sana lah sekolah terasa seperti neraka bagiku.

"Heh kacung!"

Karena sudah hafal diluar kepala bahwa panggilan itu adalah panggilan khusus untukku. Aku yang semula menundukkan kepala mendongak, mengedarkan pandanganku untuk mencari asal suara itu.

Setelah kutemukan, tiga gadis sedang berada didekat pintu gerbang sekolah. Salah satu dari mereka mengayunkan tangannya, menyuruh ku untuk mendekat.

Tanpa disuruh pun aku langsung mendekati mereka.

"Gak tau ini jam berapa?!" Tanya gadis yang memanggil ku tadi, namanya Teresa. Gadis itu berkacak pinggang menatap garang kearah ku.

"Gak tau lah, orang gak punya jam dirumah." Sahut temannya, Tania. Sembari memandang rendah kearah ku. Aku sudah sangat kebal ditatap begitu oleh mereka, jadi aku tidak merasakan sakit hati, walaupun perasaan itu terkadang ada juga.

Aku meremas rok sekolah ku, untuk menyalurkan emosi yang ku rasakan saat ini. Sebenarnya saat ini aku ingin marah, sangat marah. Tapi,

"Maaf..." Cicit ku, sambil menunduk.

Ya, aku tidak bisa. Aku terlalu pengecut

"Ck, gak mau masuk? Kita udah telat nih." Ucap Tera yang sedari tadi hanya diam saja. Sepertinya gadis itu sudah agak muak dengan wajahku.

"Iya iya bentar," Jawab Teresa kesal. Itu karena Tera menganggu waktunya untuk menjahili ku. "Tau kan apa yang harus kamu lakuin?" Tanyanya.

Tubuhku menegang,

Haruskah? Haruskah aku melakukannya? Tapi aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin dipermalukan lagi!

Aku mengangguk, kemudian mendudukkan diriku diatas tanah yang kotor. Mensejajarkan kepalaku dengan sepatu mahalnya. Masa bodo dengan tatapan orang-orang yang memandangku dengan aneh. Ini adalah konsekuensi bila aku tidak melakukan hal yang diinginkan oleh Teresa.

"Wah, dia gila atau apa? Mau-maunya diperlakukan seperti itu oleh Teresa." Bisik seseorang yang masih bisa ku dengar.

"Kalau aku sih gak bakal mau!" Balas temannya.

Ya Aku juga tidak mau! Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak seberuntung kalian. Aku hanyalah budak!

"Aku minta maaf, dan gak bakal ngulangin lagi." Ucapku lirih sambil berlutut didepan Teresa. Tanpa memperdulikan tatapan aneh yang orang-orang berikan padaku.

"Hm, enaknya diterima gak nih?" Tanya gadis di depan ku, meminta pertimbangan dari kedua temannya.

"Kalo gue sih gak usah, kita tinggal disini aja dia." Balas Tania.

"Ck, masih sempat-sempatnya, udah mau bel nih." Ucap Tera tidak sabar.

"Iya iya," Ucap Teresa, melayangkan tatapan sebal lagi kearah Tera. "Bangun! Kali ini gue maafin."

Lantas aku langsung berdiri, dan membersihkan seragam ku yang sedikit kotor karena debu dan tanah.

"Nih! Jangan lupa nanti kerjain tugas kita." Ujar Teresa seraya melemparkan tas sekolahnya kearah ku dengan kasar yang untungnya langsung ku tangkap dengan sigap.

Gadis itu berjalan mendahului ku, yang diikuti oleh kedua temannya. Aku pun mengekor dibelakang mereka sambil membawa masing-masing tas mereka. Beruntung, tas mereka sangat ringan. Karena memang isinya hanyalah make up dan peralatan tidak berguna lainnya.

"Hei Hei! Minggir, Duo J mau lewat!" Ucap seorang laki-laki secara tiba-tiba, sambil membuka jalan yang dilalui murid-murid dengan kasar. Aku tidak tau dia siapa dan dikelas berapa. Tapi yang mengalihkan perhatianku. Duo J?

Dan betul saja, di perbelokan lorong sekolah muncullah dua laki-laki yang kerap dipanggil Duo J, Jeno dan Jaemin. Mereka berdua berjalan seperti model.

Seketika, semua murid sedikit menyingkir dari lorong sekolah, seakan-akan mempersilahkan dua laki-laki itu untuk lewat.

Aku berdecak malas. Tidak, aku tidak membenci mereka berdua. Aku hanya sedikit tidak suka dengan mereka. Hanya sedikit kok. Tapi aku iri dengan mereka, entah kebaikan apa yang telah mereka lakukan di masa lalu hingga dapat disanjung oleh satu sekolah.

Memangnya siapa sih yang tidak kenal dengan Duo J, bahkan tukang kebun dan penjual dikantin tau betul mereka siapa.

Fans mereka berdua sangat banyak, mulai dari sekolah ini sampai ke luar sekolah. Sudah terbayang kan, seberapa terkenal nya mereka? Mungkin, itu karena faktor dari wajah rupawan yang mereka miliki. Aku akui, mereka lumayan tampan, tapi bukan berarti aku menyukai mereka berdua. Tapi kurasa bukan hanya karena itu, aura mereka berbeda. Dan aku bisa merasakan itu.

"Wah anjir! Di sebelah sana ada Renjun tuh." Ucap seseorang dibelakang ku.

"Perang nih kayaknya." Sahut temannya.

Aku langsung mengedarkan pandangan ku kearah sebaliknya. Benar saja, disana ada Renjun dan temannya Haechan, berjalan beriringan kearah yang sama dengan Jaemin dan Jeno.

Mampus, perang.

Renjun dan Haechan adalah dua laki-laki yang tak kalah tenarnya dengan Duo J. Mereka berdua terkenal dan bisa dikatakan bermusuhan dengan Jeno Jaemin. Entah apa penyebab mereka bisa bermusuhan seperti itu.

Renjun adalah laki-laki yang pintar, kebanggaan sekolah. Dan Haechan sendiri adalah orang yang pintar bergaul dia mempunyai banyak teman. Bukan hanya itu yang membuat mereka sama tenarnya dengan Duo J. Wajah mereka berdua masuk ke kriteria wajah tampan yang membuat mereka memliki banyak fans juga.

"Hai Renjun. Hai Haechan." Sapa J yang satu, Jaemin. Laki-laki itu tersenyum manis sambil menyapa seseorang yang bisa dikatakan musuh.

"Sok kenal." Balas Renjun singkat, tapi cukup membekas di hati. Sedangkan Haechan, kulihat dia hanya berdiam diri. Padahal biasanya dia adalah tipe orang yang heboh.

"Kita kan emang temen satu sekolah, masa saling gak kenal?" Tanya Jaemin, yang tak diindahkan oleh Renjun. Laki-laki itu benar-benar tidak melirik sedikitpun pada Jaemin.

Renjun hanya melewati Jaemin kemudian menatap remeh kearah J yang satu, Lee Jeno. "Dingin." Ucapnya kemudian, dengan sengaja menubrukkan bahunya ke bahu lebar Jeno. Dan berlalu menaiki satu persatu tangga menuju lantai dua. Haechan yang sedari tadi diam menonton, berjalan mengekor kemana Renjun pergi.

Hening, suasananya sangat dingin dan mencekam. Persis seperti di film-film horror. Bahkan teriakan yang dilontarkan murid-murid tadi hilang.

Aku terus menatap kearah dimana Renjun terakhir menapakkan kakinya. Kemudian pandangan ku turun, kearah tangan Jeno yang terkepal erat seperti sedang menahan emosi.

Dari sini, aku mengetahui satu hal.

Sepertinya, rumor yang mengatakan bahwa mereka saling membenci itu benar adanya.


jangan lupa voment ^^

28-08-2021

Oyen


V-HunterStories to obsess over. Discover now