Markhyuck Ver.
Inspired by: Devil's Trill Sonata by Giussepe Tartini
.
.
.
Mark ingin menyerah. Bayangan akan dirinya yang menjadi musisi hebat masih menjadi angan-angan untuknya. Namun, saat ini ia sangsi. Menilik perjuangan yang ia hadapi tak pernah semulus yang ia bayangkan selama ini, membuat mimpi indah tersebut menjadi abu-abu. Termasuk hari ini, ia benar- benar direndahkan di hadapan rekan-rekannya atas sebuah kesalahan konyol yang seharusnya tak ia perbuat. Dalam sebuah forum musisi yang dihadirinya siang ini, Mark seharusnya dapat menampilkan karya yang dikerjakannya selama sebulan terakhir dengan apik, tetapi nyatanya ia kembali pulang ke kamar kecilnya yang berada di sebuah bangunan di ujung gang sempit kumuh dengan wajah masam dan lesu.
Forum itu memang bukan untuknya, pikir Mark. Sebab, di sanalah para lulusan sekolah musik hebat berkumpul untuk berbagi ide atau yang lebih mirip tunjukkan kemampuanmu maka yang terbaik akan berkuasa. Mark bukanlah seorang lulusan sekolah musik hebat, atau seseorang yang memiliki kemampuan bermain biola di atas rata-rata. Mark, si sosok biasa-biasa saja, yang selalu diremehkan dan direndahkan karena mereka pikir tak ada satu pun instrumen miliknya yang menggugah. Hari ini, ia menambah satu lagi alasan bagi mereka untuk merendahkan Mark, dengan sebuah hasil dari ceroboh: nada yang terpeleset.
Begitu memasuki kamar nya, Mark kembali menghela napas. Hari ini benar-benar berat untuknya. Ketika lelah sudah menguasai raga, rasa kantuk pun segera menggerayangi kesadarannya begitu Mark merebahkan diri di atas tempat tidur. Masa bodoh dengan menyerah atau tidak. Saat ini, tubuhnya hanya butuh istirahat, bukan?
***
Sayup-sayup suara alunan biola mulai menyapa rungunya, membuat Mark perlahan membuka mata. Walau masih terdengar pelan dan jauh, suara itu mampu membantunya mengumpulkan kesadaran. Mark bangkit untuk kemudian terduduk dan menyadari ia tidak lagi berada di atas dipan kerasnya, tetapi justru berada di tanah berpasir yang kering. Alunan itu makin terdengar jelas, menandakan sumber suara yang mendekat. Ia ingin mengetahui darimanakah sumber suara itu, tetapi kabut kelabu pekat yang mengelilingi dirinya membuatnya tak dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar.
Mark mulai mendengarkan permainan biola itu dengan jeli. Nada minor yang mengalun indah, dengan dinamika teknik permainan yang kuat. Cepat, lalu lambat. Kuat, tetapi juga lembut. Akan tetapi, bukan berarti berantakan. Ia rapi dan teratur. Cantik dan pas. Namun, Mark merasakan hal lain. Tak hanya pendengarannya saja yang tergugah, tetapi batinnya pun turut terketuk. Ia bisa merasakan dengan jelas emosi yang dibawa oleh instrumen itu. Ada rasa menantang yang berani di sana, tetapi ada juga rasa takut yang berbisik di dalamnya. Yang lebih mirip sepotong melodi perihal keraguan.
Aneh.
Makin lama Mark mendengarnya, alunan itu pun menjelma menjadi reminisansi. Nyaman dan tidak terasa asing. Serupa air yang berdelan pelan pada danau yang tenang, hatinya mulai merasakan getaran perasaaan yang ganjil-ia tak pernah merasakan ini sebelumnya.
Seiring getaran dalam hatinya memekat, kabut yang mengelilinginya mulai memudar, hingga menampilkan sosok sang maestro yang mengalunkan melodi. Mark tertegun: di sana ada sosok pemuda yang berdiri memunggunginya sejauh lima langkah dari tempatnya berdiri. Tubuhnya tak dibaluti sehelai pakaian pun. Tingginya tak jauh beda dengannya, hanya lebih pendek sedikit dari Mark. Serta tanduk kecil dan ekor panjang yang bergoyang-goyang.
Tunggu, apakah dia bukan manusia? pikir Mark.
Alunan biola itu mencapai klimaks. Nada yang terdengar seperti sebuah kemarahan, tetapi juga kesedihan. Andaikan setiap not yang dialunkan adalah manusia, not-not itu mengentak-entak marah lagi nelangsa akan kerinduan yang tak pernah sampai pada pelabuhannya. Di saat itulah Mark menyadari, laki-laki di hadapannya sungguh manis. Dengan rambut cokelat tua yang sedikit berantakan, juga kulit tan semanis madu yang memikat.
DU LIEST GERADE
Devil's Trill Sonata: Markhyuck
Fantasy[ONESHOOT] Malam itu, Mark memang kelelahan. Akan tetapi, ia tak pernah sekalipun berpikir akan memimpikan hal di luar akal sehat, yaitu penampakan sesosok iblis yang memainkan senandung nada dari biola dengan menawan. Saat itulah ia menyadari bahwa...
