Suara keyboard mendominasi ruangan kerja PT Samsung Electronik Indonesia. Yah, susah memang kalau gadis berusia 20 tahun ini sudah fokus dengan pekerjaannya hingga lupa bahwa 2 jam yang lalu merupakan jam pulang kerja.
Cleaning service pun khatam dengan sifat Melvie yang dingin dan perfeksionis nya itu. "Neng, udah jam 7 malam. Katanya mau pulang ke Bogor. Takutnya kemaleman nyampe sana." Gadis itu menghentikan gerakan jemarinya. Lantas ia segera merapikan kertas dan mematikan komputernya.
"Makasih banyak ya bu, untung diingetin. Kalau engga saya udah betah semedi disini." kekeh Melvie. Gadis itu segera mengangkat bokongnya dan berpamitan dengan Ibu setengah paruh baya yang merupakan atasannya. "Ibu, titip salam buat ibu kamu. Lekas sembuh ya."
Gadis itu menoleh dan tersenyum hangat. "Sekali lagi terima kasih banyak ya bu." lalu gadis berhijab ini pergi meninggalkan ruangannya.
"Kasian, dia masih muda"
----------------------------------
Biasanya gadis itu pulang ke kosan, mandi, lanjut kuliah daring dan berisitirahat tentunya. Sekarang dia harus berlari kocar kacir ke Stasiun Cikarang, sesekali dia juga melihat papan LED jam kedatangan kereta. Selang beberapa menit kereta itu datang, tanpa basa basi gadis itu langsung mempersiapkan diri untuk masuk, duduk, diam, mengammbil earphone dan memakai jurus andalannya agar tak diusir oleh penumpang lainnya selama perjalanan yaitu bokep alias bobo cakep.
Sambil memeluk tas dan memejamkan mata tak lupa masker menutupi wajahnya agar sewaktu-waktu kalau ketiduran beneran tak mengumbar aib tentunya.
Baru seperempat perjalanan, seorang pria menghampiri dan mentoel-toel melvie. Awalnya diam saja agar tak diusir tapi gadis itu mulai risih dan menatap pria itu dengan malas. "Hai, gua lupa nama lu siapa tapi seinget gua lu itu kayak anaknya bu indri pas sekolah. Btw, Ayo kenalan lagi."
Gadis itu melotot tajam mengamati pria itu dari atas sampai bawah. "Kiki? yang dulu kita ketemu dan nginep di Hotel Nino kan?"
Beberapa penumpang serentak melihat ke arah mereka dengan tatapan yang iya-iya. Bodoh, lagi di tempat umum kalau ngomong sembarangan. Mampus dikira cewek murahan batin melvie
Pria yang bergaya perlente itu terkekeh dan menggaruk tengkuknya asal. Melvie melepas earphone yang sebenarnya hanya untuk pajangan dan memasukkan benda tersebut kedalam tas nya. "Gua Melvietha Ocyanie" dengan suara datar khas nya.
"Gua Kiki Firmansyah, ternyata mulut lu masih bar-bar juga ya?Senang bisa ketemu lagi sama lu." jawab Kiki sambil tersenyum.
Untung lagi ditempat umum. Kalau engga udah gua jambak rambut ayam suwir lu sampe botak.
-----------------------------------
Pria berkameja warna biru itu melaju santai menembus jalanan kota. Pikiran dia kelewat senang, Bagaimana tidak? Pulang membawa 2 kantong kresek besar Indo'april tentu saja untuk mamanya yang tercinta bukankah dia terlihat suamiable banget bukan?
Mendengar suara deru motor memasuki pekarangan rumahnya wanita paruh baya itu keluar dan menyambut putranya didepan pintu. "Loh, nak. Kok baru pulang? Kamu ya kenapa ngga pakai jaket? Nanti masuk angin loh."
YOU ARE READING
Ice Americano
RandomSelama satu dekade terakhir Melvie masih berpenggang teguh perasaannya terhadap Zidan. "Jakarta merupakan tempat dimana kita tak akan pernah bertemu." Pria itu merenung, bergelut dengan pikirannya. Haruskah dia mengubah strateginya? . . . Pemik...
