Mengajak kepalanya menari-nari diantara musik yang menguasainya dan klakson empunya si tidak sabar yang saling berirama. Melelahkan dirinya untuk menikmati lelah yang baru saja ia buat, dan sadar bahwa isi kepalanya tidak seburuk itu, atau mungkin lebih kacau dari yang dibayangkan. Rambut sebahu dengan warna coklat tipis di ujungnya, kaca mata photocromic yang dengan sungguh tidak akan berfungsi saat malam hari, converse putih yang baru saja dicuci sekitar minggu lalu membuatnya semakin merasa bahwa malam sungguh menemaninya.
"Ge," ia mendongak, suara lembut empunya seorang pria bercelana pendek dengan sepatu vans lusuh mampu mendarat dengan mulus di telinga kirinya, karena ia hanya mengijinkan telinga kanannya untuk berdansa.
"Ya?"
"Kurasa tali sepatumu tidak bisa mengikatkan dirinya sendiri, mungkin ia perlu bantuanku."
Selalu seperti itu, menjadi ratu dihadapan seorang pria yang bahkan tak mampu menaruh mahkota raja di atas kepalanya sendiri. Terlalu sulit tapi sungguh membuat nyaman. Bermain-main dengan waktu hingga pada akhirnya sadar bahwa seseorang mampu menjadi raja tanpa membutuhkan sebuah mahkota.
"Astaga ayl, ia tidak semanja itu jika kau ingin tahu."
"Tapi ia tetap butuh bantuanku, Ge." pria itu berlutut dihadapannya hanya untuk sekedar mengikatkan tali sepatu. Matanya tidak mampu berpaling ke sisi manapun selain ke seorang pria yang berada di hadapannya. Ia melepaskan sebuah earpod yang terpasang di telinga kanannya dan membiarkan kebisingan malam menghampiri kepalanya.
"Bahkan satu bagian kecil dari dirimu saja tidak mampu kau perdulikan, nona. Apalagi bagian-bagian kecil kepunyaanku."
Pria itu membersihkan tangannya ke lengan crewneck hitam yang dibeli sekitar tahun lalu di sebuah trift store. Menarik lengan kanannya lalu mengecek sudah di posisi mana jarum jam tangannya berdiri. Dengan sigap, pria itu menggenggam jari-jarinya, lalu menuntunnya untuk menyebrangi sebuah jalan besar di pusat kota.
"Mungkin aku hanya bisa mengatakan maaf sekarang, dan aku akan menemanimu lagi untuk menenangkan dirimu besok." Ia terlihat sedikit panik, menuntunnya sambil tetap menggenggam jemari-jemarinya.
"Aku yakin bunda sudah menunggu di rumah, maafkan aku, tapi kita harus pulang."
"Ayl ayolah, aku bahkan tidak merasa bahwa ada yang salah dengan ini. Tenanglah sedikit."
Sulit untuk menyalahkan pendapat banyak orang bahwa cinta cukup membuat bodoh, karena seperti itulah adanya. Mengorbankan segala hal walau pada kenyataannya bukan 'segala hal' itu yang benar benar dibutuhkan. Terkadang, ia hanya membutuhkan beberapa hal kecil yang sudah pasti akan berujung besar. Tidak jauh dan sudah pasti dikenal banyak orang, waktu.
