"When im away from you,
Im happier than ever..."
"1...
2...
...3"
"Happy Graduation!"
Sorak sekumpulan anak muda yang kini tengah berjajar rapi. Mengambil giliran, mengabadikan bentuk kebersamaan. Tawa dan tangis mereka terdengar berbaur di lapangan yang luas ini. Merasa lega sekaligus tak rela.
Lega, karena akhirnya masa sekolah mereka telah selesai.
Belum rela, berpisah dengan teman sebaya nya yang telah bersama-sama berjuang.
Yang dirasakan nya pun sama.
Dia merasa sangat bersyukur, tidak perlu lagi ada agenda mencatat seharian. Tidak perlu lagi gundah karena besok ujian. Juga bersyukur, karena selama tiga tahun ini ia mendapatkan teman-teman yang, cukup asik. Teman sekelas nya kompak, meski tak jarang juga ada konflik.
Namun di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang belum tuntas. Seperti tertinggal, menunggu untuk diselesaikan.
Mungkin dalam hal percintaan, selama SMA ini dia tidak pernah mengalami nya.
Bukan karena dia tidak memiliki seseorang yang ia sukai.
Masalahnya, orang yang dia sukai adalah kesalahan.
Dia tidak pernah meminta tuhan untuk menumbuhkan rasa terhadap orang ini.
Beberapa kali ia larang, bersikap keras terhadap perasaanya sendiri.
Namun gagal, usaha nya hanya membuat rasa cinta nya semakin besar.
Mungkin cara agar dia tidak tertarik lagi adalah mengacuhkan rasa nya, juga orang nya.
Iya.
Selama tiga tahun ini, ia selalu menjauhi interaksi dengan orang itu.
'Menjaga akal nya agar tetap waras' katanya.
Walaupun fakta nya, ia selalu memperhatikan nya, dari kejauhan. Berangan bisa bersama.
''Ah, udahlah. Ga mungkin juga dia suka sama gua."
Gertak nya dalam hati, setiap kali ia memikirkan tentang nya.
"Kal..."
"Haikal..."
"Halo, Haikal..."
Buugh...
Sebuah layangan tangan mendarat di bahu nya. Nampaknya sukses membuyarkan lamunan Haikal. Sosok protagonis di cerita ini.
"Hah? kenapa, Din? jawabnya sambil mengerjap kaget.
"Ini sesi foto nya udah udahan. Lu bengong mulu si, tu anak kelas sebelah dah nungguin giliran dari tadi, ayo!"
"Oh, iya"
Nadin melenggang dengan sedikit terburu-buru, Menyeret Haikal menjauh dari gerombolan siswa dari kelas sebelah mereka, menuju gerombolan kelas mereka sendiri.
"Bapak, kalo Cantika gak ada siapa yang bakalan kabur ke kantin lagi pak?"
"Lah, kamu ini. Bandel kok dibanggain"
"Bandel-bandel gini juga ngangenin kan, Pak?" Balasnya seru.
"Iya sih, bener juga"
Mereka tertawa mendengar obrolan tersebut. Nantinya mereka akan sangat rindu dengan Pak Wirno, walikelas mereka selama 2 tahun berturut-turut.
"Aduh, rame banget ini Pak?" Ujar Nadin yang baru bergabung, diekori Haikal tentu saja.
"Eh, Nadin. Gimana toh? Enak pake high heels?" Tanya Pak Wirno, sedikit bergurau.
"Iya tuh, katanya pengen masuk Indonesian Top Model. Kok pake heels aja ngeluh?" Kini Bagas, Ketua Kelas mereka ikut menimpali.
"Pegel, Pak. Mending pake sendal capit nya kalo gini..."
Cengiran kuda Nadin yang khas membuat Pak wirno dan yang lainya tersenyum lagi.
"Eh, Kal. Kamu ada rencana ngelanjutin?" Tanya Dini, seorang bendahara kelas ini.
"Ehm, kayanya ga tahun ini. Mau gap year" Balas Haikal.
"Oh, iya iya." Disertai dengan anggukan paham dari Dini.
Haikal memang tengah mempertimbangkan keputusan nya untuk melanjutkan pendidikan nya. Keadaan ekonomi nya memang bukan dari kalangan kelas atas. Hanya sebuah keluarga sederhana.
Bisa saja Haikal mengambil beasiswa untuk melanjutkan agar tidak terlalu memberatkan. Namun sepertinya orang tua Haikal sedang membutuhkan bantuan uang. Maka dari itu Haikal berpikir untuk bekerja terlebih dahulu.
Meringankan beban orang tua nya.
"Eh, Eh gaes. Liat tu si Tama. Gila, kece parah..."
Tunjuk salah satu dari mereka ke arah geombolan kelas XII IPS 2. Histeris melihat penampilan sosok Tama, salah satu 'pangeran sekolah' ini.
Ah, ya.
Dia.
Yang selama ini bersemayam di hati Haikal dalam diam.
Menunggu untuk mati, namun tidak kunjung.
Kini Haikal menatap ke arah nya dengan mata nanar, namun sempat ia selipkan senyum tipis di wajah nya.
"Well, i think this is the last time..." Ujar nya, dalam hati. Karena setelah ini Haikal berencana untuk benar-benar merelakan nya. Mungkin dengan tidak melihat wajahnya lagi dia akan lupa. Hal yang susah dan tidak bisa ia lakukan selama tiga tahun ini
Tama tengah berdiri disana. Berfoto dengan teman dan wali kelas nya.
Dengan jas dan bouqet bunga yang ia pegang.
Terlihat percaya diri dengan senyuman manis yang terlihat mendukung wajahnya yang memang sudah tampan.
"1...
2...
...3"
"Okay, good. Kelas selanjutnya boleh ke depan?" Ujar sang fotografer.
Sesaat itu pula Haikal memalingkan wajah, tak sadar jika ia juga sedang ditatap.
"Eh, Din"
"Din, Din, dikira nama gua Udin apa. Panggil yang bener!"
"Terserah gua lah. Lu nanti pulang sama siapa?"
Balas Haikal
"Nanti gua dijemput abang gua. Lu mau nebeng?"
"Ehm, boleh deh..."
"Yodah.
Tapi, eh ini ada yang ngasih bunga buat lu tadi. Untung ga lupa gua" Ujarnya sambil memberikan seikat bunga mawar merah kepada Haikal.
Tunggu, siapa yang memberi nya bunga?
"Din, ini siapa yang ngasih?"
"Gak tau. Orangnya ga nyebutin nama. Gua mukanya rada kenal sih, sering liat. Tapi kaga tau namanya gua."
Haikal hanya menjawab dengan ber oh ria. Tapi tetap penasaran dengan bunga ini. Seingatnya selama SMA ini dia tidak pernah didekati ataupun mendekati orang lain.
'Ah, udahlah terima aja. Lumayan buat pajangan''
Acara ini ditutup dengan tangisan dan pelukan. Berjanji akan mengingat satu sama lain.
Haikal tidak yakin terhadap hal itu.
Dan rasa cinta nya terhadap Tama?
Haikal akan mulai membiasakan untuk melupakan nya.
Walau susah, dia tidak ingin terus membangun kisah ini sendirian.
TBC
Hi,
This is my first time by the way o(〃^▽^〃)o
Kalo banyak salah atau ada gaya penulisan aku yang agak aneh dibaca, boleh koreksi aku ya.
Aku tunggu komen dan vote kalian.
Thank U,
Nath
YOU ARE READING
UNLUCKIEST LUCK
RomanceMasalahnya, orang yang dia sukai adalah kesalahan. Dia tidak pernah meminta tuhan untuk menumbuhkan rasa terhadap orang ini. Beberapa kali ia larang, bersikap keras terhadap perasaanya sendiri. Namun gagal, usaha nya hanya membuat rasa cinta nya se...
