"Raulina, hentikan hubunganmu dengan Mustofa. Dia akan menikah!" Kuucapkan kalimat penegasan itu padanya.
Bisa kusaksikan matanya langsung membeliak dan mulut menganga.
Detik berikutnya, dia sudah terisak-isak usai melihat foto-foto Mustofa dan calon istrinya. Ratapannya sungguh menyayat hati. Aku tak tega.
Dia masih terus menangis, sementara aku menemaninya, menyodorkan sekotak tissue untuk menampung cairan-cairan asin yang keluar dari hidungnya. Kasihan.
"Antar aku ke rumah Mas Tofa, Ram!" Ajaknya dengan suara sengau.
"Jangan sekarang, Lin, besok saja," bujukku.
Namaku Ramadhan Ali. Panggil saja Rama. Aku dan Raulina adalah sahabat dari kecil.
Saat dia meminta diantar ke rumah pacarnya--Mustofa. Aku langsung mencegah. Situasi saat ini kurasa tidak tepat jika mereka bertemu. Bisa-bisa Raulina meraung dan menangis histeris di sana. Aku tak mau.
Untuk sedikit menghibur hatinya, kubawa dia mutar-mutar jalan tanpa tujuan. Sekadar menghabiskan bensin saja dan menemaninya yang tengah patah hati. Kuharap, perlahan ia bisa merelakan.
Aaku biisa memmmbuaatmuu, jatuh cinta keepadaaku mesti kau tak cintaa--
Lagu pertama dari DEWA 19-band favoritnya, belum berhasil menyita perhatiannya. Dia masih menangis.
Kucoba kembangkan sayap patahku
Tuk terbang tinggi lagi di angkasa
Melayang melukis langit merangkai awan
Awan mendung
Hingga beberapa lagu yang mengalir, tidak juga mengubah moodnya. Kumatikan perangkat musik dalam mobil ini dengan cepat. Dia sama sekali tidak terhibur.
Kuajak dia ke resto andalannya, dia makan juga tidak bersemangat. Setelah itu, di jalan saat pulang dia kembali menangis. Sampai-sampai aku kesal melihatnya yang terus membanjiri pipi dengan air mata karena Mustofa.
"Apa kamu tidak capek, Lin, terus-terusan menangis begitu?" tanyaku dengan sebal.
Dia cuma melirik angkuh. Tidak berkomentar.
"Matikan hapemu. Jangan tergoda menghubunginya lewat telepon. Besok aku temani kamu menemuinya."
Dia hanya mengangguk, kemudian masuk rumah meninggalkanku.
Baru dua puluh menit aku sampai rumah, hendak gosok gigi, lalu tidur. Ibunya meneleponku.
"Kenapa ini Lina, Ram?" suara ibunya bergetar dengan nada panik.
***
Kulihat Raulina tengah tersengal-sengal, menangis. Tissue berceceran di lantai sekitar ranjangnya. Sepertinya dia begitu menderita.
"Tolong, Nak Rama. Bujuk Lina untuk diam, Ibu bingung harus bagaimana, melihat dia dari tadi menangis begitu."
Kuamati Raulina di ambang pintu kamarnya. Bapak dan ibunya hanya duduk berjarak mengawasi.
Aku menarik kursi dari meja riasnya, lalu duduk tegak menghadapnya. Beberapa kali dia membuang ingus dan melempar tissue bekasnya di dekat kakiku. Terkadang tissue itu menyerempet baju atau celanaku saat dia melemparnya.
"Kenapa menangisnya heboh begitu?" tanyaku sedikit heran.
Dengan berderai air mata dia mulai bercerita. "Barusan aku telfon Mas Tofa, Ram ...," dia membuang ingus lagi. Aku menjadi tidak tenang.
"Rasanya terlalu sakit, aku nggak sanggup kalo sampe denger dia yang ngucap ninggalin aku," dia terisak-isak lagi. Bahunya berguncang-guncang. Mataku menyipit menyimak tiap kalimat-kalimat yang terasa lama diucapkannya.
"Aku mutusin dia, karena aku nggak mau dia yang mutusin aku duluan. Aku nggak sanggup dengernya, Ram. Biarlah aku yang mendustai diriku sendiri,"
Oh, jadi karena itu?
Bapak Ibunya mengangguk-angguk. Sepertinya mulai memahami.
"Ya, udah. Kalo sudah diputusin, ngapain kamu tangisan terus?"
Dia langsung melempar tissue isi ingusnya ke wajahku. Menurutnya, aku tidak punya hati.
Biarlah, aku yang tidak tahu diri ini, sudah bosan melihatnya dirundung kesedihan. Sudah muak melihat air matanya. Sudah saatnya dia berhenti dan melupakan Mustofa saja.
Harusnya begitu, Raulina.
"Terus gimana? Apa kamu mau datang ke pernikahannya? Atau kita pergi ke pantai saja?" tanyaku yang sudah tahu persis kapan rencana tanggal pernikahan Mustofa akan dilangsungkan.
"Datang, Ram," Raulina nekad.
"Ya, sudah."
***
Dua hari setelah mereka putus. Aku dan Raulina menghadiri pernikahan Mustofa.
"Kalo nggak sanggup, bilang aja. Nanti aku bawa keluar."
Raulina mengangguk.
"Jangan nangis di sana. Malu. Aku nggak mau itu terjadi," tegasku padanya. Kuharap dia patuh.
Sekali lagi dia mengangguk. Lalu Tangannya menyusup ke sisi lenganku. Mengait erat. Kubilang, "Biar nggak kayak orang ilang." Dan dia nurut.
"Kalau nggak sanggup liat Mustofa, tundukkan saja wajahmu. Jangan menatapnya," bisikku pada Raulina.
Dia hanya menjawab, "Yah." Dengan lemah.
Bersyukur adegan penuh drama tidak terjadi, karena Raulina hampir sepanjang acara hanya menunduk menekuri karpet. Dia bilang tidak sanggup melihat Mustofa.
***
Setelah acara pernikahan Mustofa yang kukunjungi berlalu beberapa bulan, aku mendatangi toko perhiasan.
Aku ingin membeli sebuah cincin wanita yang indah, sekalipun kenyataannya memang aku tidak pernah punya pacar.
Lalu, kepada siapa cincin itu hendak kuberikan?
Aku tersenyum manis. Bahkan mungkin sangat manis.
Tentu saja, aku akan memberikan cincin itu untuk Raulina. Gadis ayu yang sedari dulu selalu menyelami hatiku. Bahkan, cara curang berani kulakukan demi bisa mendapatkannya. Memisahkannya dengan Mustofa--pacar kesayangannya.
Aku mendengar Mustofa hendak dijodohkan. Karena faktor usia yang terus mengejar. Itu adalah kesempatan terbaikku.
Kukatakan pada Mustofa bahwa Raulina telah mendua denganku. Kukatakan pada Raulina bahwa Mustofa telah berselingkuh.
Dan aku sudah paham betul bagaimana Raulina. Segala trik dan intrik kukeluarkan agar Raulina tunduk padaku.
Benar saja, semua berjalan sesuai rencanaku. Mustofa mengira Raulina benar-benar menjauhinya, sementara Raulina berdiam karena sakit hati dan hanya menuruti segala saran-saran tidak lurus dariku.
Hanya tiga hari jarak dari pertemuan mereka ke tanggal pernikahan. Aku selalu mencegah Raulina menelepon atau bertemu dengan Mustofa tanpa sepengetahuanku.
Aku khawatir Mustofa nekad dan membawa kabur Raulina, menolak perjodohan itu. Sampai akhirnya pernikahan perjodohan mereka benar-benar terjadi, zona lebih aman membentang untukku.
Mustofa berpindah kota dengan istrinya. Dan aku lebih leluasa mendekati Raulina.
Ah ... betapa indahnya dunia ini.
Perlu kau tahu, Raulina. Sampai kapan pun aku ingin menjadi sahabatmu. Sahabat sehidup semati denganmu.
I love you, Raulina.
